Feeds:
Posts
Comments

Cerita Tanteku

Ini cerita tanteku.
Dulu, dia mengendarai mobil kemana-mana. Pernah terserempet, pernah ditabrak, usianya juga lebih setengah abad.
Dia tinggal di gated community, tanpa pedestrian dan berpagar tinggi.
Tanteku senang ke Glodok, Citraland, hingga Taman Anggrek dan Pondok Indah Mall. Atau menjenguk cucu di Kelapa Gading.

Tahun ini ada jalur TransJakarta lewat didepan rumah tante. Dengan segala pengalaman buruknya, tante berpindah ke TransJakarta.
Di pagi hari, dia bisa kembali ke masa kanaknya, saat bermain bebas di Kota. Membayar 2000, berangkat jam 6 pagi. Hanya perlu waktu kurang dr 20 menit. Ujarnya: ‘enak naik busway, kayak mrt di singapore.’

Seorang tante-tante, dari golongan menengah, tinggal di gated community, hidup makmur dan memiliki mobil. Tapi dia bisa berpindah pola dengan mudah begitu jalur TransJakarta lewat persis didepan kompleksnya.

Jakarta adalah kota yang tidak konsisten, meninggalkan program setengah jalan, untuk program yang lain. Program TransJakarta terlupakan, malah menyambut proyek 10 trilyun MRT atau puluhan kilometer 6 lajur baru jalan tol dalam kota. Perjalanan TransJakarta baru dimulai, tapi sudah disunat dan tidak jelas kelanjutannya.

25 November 2009

Objective: Singapore Design Week, Design City 2050, Marina Barrage, Ion (Muji, ya ya, saya tahu di Jakarta juga ada), Wheelock (toko coklat yang kayak apotik itu, desainer yang sama dengan Times nya UPH) .
Singapore Design Week dan Design City 2050 adalah rangkaian acara yang berhubungan dengan desain (mulai dari grafis, foto hingga arsitektur).

Tenggat waktu balik York Hotel : 2.30 PM

6.30 AM : bangun, buat teh, mandi

7.45 AM : makan pagi

8.30 AM : keluar dari hotel, titip barang di 206

8.35 AM : Quincy Hotel (Ong+Ong), 22-24 Mt. Elizabeth Road
Hotel butik terbaru dengan kolam renang atap transparan.

8.50 AM : naik bus ke Australian High Commission (depan Singapore Botanical Garden) demi melihat pameran mahasiswa COFA-UNSW dan Woodheads International. Melewati Camden Medical desain Richard Meier, sudah hampir 20 th kali, tapi masih menarik untuk dilihat.

8.55 AM : Sampai di AHC, harus antri dan security check, sihhhhh dan tidak bisa bawa kamera, tidakkk !!!!

9.05 AM : akhirnya sampai juga didalam gedung dan menikmati ide2 dari mahasiswa COFA tentang how you define Singapore Success? Hehe :)
Dan Woodheads tentunya

9.20 AM : Keluar di AHC dan menunggu bus balik ke Orchard MRT

9.30 AM : ada didalam MRT menuju Marina MRT

9.35 AM : menunggu bus menuju Marina Barrage dan akhirnya

9.50 AM : sampai di Marina Barrage, langsung ngacir foto2 di tepi luar Barrage (kepanasan) dan menuju Sustainable Singapore Gallery demi menggali dan mengamati lebih dalam lagi. Tapi untuk kedua kalinya, lupa melihat ruang pompanya, hihi.

10.45 : Menunggu bus balik ke MRT Marina

11.00 : didalam MRT Marina menuju City Hall depan Padang

11.15 : Sampai di City Hall MRT, memutar menuju City Hall. Akhirnya sampai juga, Dari lantai 2 hingga 4 penuh dengan eksibisi. Terima kasih untuk kartu nama Rujakku, dapatlah press kit dan tag Media, untuk pertama kalinya saya dilabeli sebagai media :)

11.20 : Penjelajahan didalam City Hall dimulai. Sayangnya ada beberapa eksibisi yang tutup. Setidaknya saya melihat 10 ruang eksibisi dengan tema dan negara yang berbeda. Dari Taiwan, Inggris, Itali, Singapura, Prancis dan satu negara Eropa Timur yang mendadak amnesia saya lupakan namanya.
Highlights:
1. Melihat desain souvenir Singapore yang amat sangat kreatif dan kental akan keSingaporeannya.
2. Upaya arsitektur Italia untuk bangkit
3. Ternyata desain ala Rusia masih ada :)
4. Sayang instalasi ruang publilk untuk orang buta tutup!! Padahal saya sangat pingin lihat.
5. Gambar Carlo Scarpa keren :)

1.15 PM : Kabur dari City Hall. Naik bus berhenti 1 stop saja untuk ke

1.15 PM : kantor Woha di 29 Hongkong Street demi melihat visi Singapore 2050 dimata mahasiswa NUS. Workshop ini diadakan dibawah bimbingan principals WoHa.
Kantor WoHa merupakan 2 shophouses yang diubah menjadi kantor. Saya pingin mampir ke lantai 5nya untuk melihat open air lounge nya, tapi Basheer sudah memanggil

1.35 PM : keluar dari kantor, dan jalan cepat2 ke Central Clarke Quay melewati orang-orang yang sedang makan siang, sighh, saya belum makan dan haus :(

1.45 PM : sampai di Bras Basah Central sampingnya Ken Yeang’s National Library. Dan hiksss, mereka sedang bazaar buku dan segala buku ada kaliii. Tapi Basheer di lantai 4 sudah menanti …..

1.50 PM : tiba di Basheer. Ambil buku WoHa (di Aksara mahalnya amit2), 3 edisi a+t, dan 1 buku tentang kompetisi. Bersama dengan 2 hunting buku hari sebelumnya di Books Actually dan Borders plus buku tentang arsitektur Italia yang saya beli di City Hall, total ada
10 buku teballl yang dibeli (dan harta terbaru saya adalah kumpulan kritik dari Ada Louise Huxtable: On Architecture!!). Ternyata disana lama karena yang a+t nya nyempil ! Selamat tinggal Muji dan cafe coklat.

2.20 PM : Setelah urusan GST dll selesai, tunggu bus di bawah. Sial, 5 buku beratnya kayak karung beras. Tuh buku Woha sudah hard cover, besar pula. Apalagi sebelumnya sudah ada buku itali, press release desing week, dan segala brosur yang ada disana.

2.45 PM : sampai di belakang Ion … Sial, buku2 dan brosur2 sudah bikin tangan mau putus. Ditambah lagi jalan nanjak :(
Selamat tinggal Muji (iya tahu, di Jakarta ada)

2.55 PM : sampai di hotel, bus ke airport sudah mau berangkat. Untung koper dan barang2 ikea saya sudah dimasukkan ke bagasi :)

Lalu apa ‘moral story’ dari cerita perjalanan ini? Bukan menunjukkan apa yang saya lakukan hari itu, atau pamer ya.
Saya merasa, dengan perencanaan mendetail (melewatkan waktu 1 jam malam sebelum untuk menghitung waktu dan menyusun jadwal), peralatan pendukung yang reliable (BB, google latitude dan promo XL-M1 adalah triple combo maut!), sarana transportasi publik yang terjangkau, jejaring trotoar, dan bangunan yang saling terkoneksi satu sama lain (bukan tipe loe-loe, gua-gua) ditambah sangat terjangkaunya biaya transportasi plus disiplin pengemudi bus yang tepat waktu: menjadikan saya mampu mengunjungin 5 tempat berbeda dalam jangka waktu kurang lebih 6 jam. Biaya yang saya habiskan berdasarkan kartu mrt saya sekitar 5 SGD!

Pemikiran awal: MRT adalah salah satu jawaban akan masalah mobilitas. Bus memperbaiki masalah aksesbilitas. ERP memaksa orang berpikir panjang untuk punya mobil. Jalur pejalan kaki dan hubungan harmonis antaranya dengan bangunan dengan sesamanya dan infrastruktur transportasi membuat mudah pejalan kaki dan seakan menganjurkan kita si penghuni kota (citizen) untuk berjalan kaki. Mereka tidak bisa jalan sendiri, mereka bergantung satu sama lain. Dan sebagai bonus: Google Maps menjadi instrumen urban dan transportasi yang mampu melengkapi dan menjadi penyatu manis bagi semua unsur transportasi dan kota diatas.

Elisa: happy google user :)

First, throw your outdated urban planning handbook.

Second, (govt.) city planners embrace this new way of thinking and Jane Jacobs will smile to you all from heaven (I kinda imagine that she now live in heaven circa 2 dedicated for people who have tried and given their best to the goodness of the city)

Our urban planning approach is outdated. The needs to reform is unavoidable and necessary.

Some tips and a number of specific policy directions to achieve Urban Planning Reform:

(Summarized from UN Habitat Global Report on Human Settlements 2009: Planning Sustainable Cities – Policy Directions).

1. Government, both central and local, should increasingly take on a more central role in cities and towns in order to lead development initiatives and ensure the basic needs are met.

2. Reformed Urban Planning systems must fully and unequivocally address a number of major current and emerging urban challenges: especially climate change, rapid urbanization, poverty, informality and safety.

3. A particularly important precondition for the success of urban planning systems is that countries should develop a national perspective on the role of urban areas and challenges of urbanization, articulated in some forms of national urban policy.

4. Capacity to enforce urban planning regulations, which is seriously lacking in many developing countries, should be given very high priority and should be developed on the basics of realistic standards.

Specific Policy Directions:

Institutional and regulatory frameworks for planning:

1. In the design and reconfiguration of planning systems, careful attention should be given to identifying investment and livelihood opportunities that can be built on, as well as pressures that could lead to the subversion and corruption of planning institutions.

2. To command legitimacy, regulatory systems must adhere to the principle of equality under the law, and must be broadly perceived as doing so.

3. The protective as well as developmental roles of planning regulation must be recognized in redesigning urban planning systems.

Participation, Planning and Politics

1. Governments need to implement a number of minimum but critical measures with respect to the political and legal environment as well as financial and human resources, in order to ensure that participation is meaningful, socially inclusive and contributes to improving urban planning.

2. Governments, both national and local, together with non-governmental organizations, must facilitate the development of a vibrant civil society and ensure that effective participatory mechanisms are put in place.

Bridging the Green and Brown Agendas.

1. In order to integrate the green and brown agendas in cities, urban local authorities should implement a comprehensive set of green policies and strategies covering urban design, energy, infrastructure, transport, waste and slums

2. Many green innovations can, and should, becomprehensively integrated into statutory urbanplanning and development control systems, includingplanning standards and building regulations

Urban Planning and Informality

1. Governments and local authorities must, unequivocally,recognize the important role of the informal sector andensure that urban planning systems respond positivelyto this phenomenon, including through legislation

2. More specific innovative and tried approaches to landdevelopment and use of space should be adopted andimplemented if urban policy and planning are toeffectively respond to informality.

Planning, Spatial Structure of cities and provision of infrastructure

1. Strategic spatial plans linked to infrastructuredevelopment can promote more compact forms of urbanexpansion focused around accessibility and publictransport

2. To enhance the sustainable expansion of cities andfacilitate the delivery of urban services, urban localauthorities should formulate infrastructure plans as keyelements of strategic spatial plans

3. Regional governance structures are required to manageurban growth that spreads across administrativeboundaries, which is increasingly the case in all regionsof the world

To Monitoring and Evaluation of Urban Plans

1. Urban planning systems should integrate monitoring andevaluation as permanent features.

2. Traditional evaluation tools – such as cost–benefitanalysis, cost-effectiveness analysis and fiscal impactassessment – are still relevant, given the realities of localgovernment resource constraints.

3. All evaluations should involve extensive consultationwith, and contributions by, all plan stakeholders.

4. Most routine monitoring and evaluation should focus onthe implementation of site, subdivision and neighbourhoodplans.

Planning Education

1. There is a significant need for updating and reform ofcurricula in many urban planning schools, particularlyin many developing and transitional countries whereurban planning education has not kept up with currentchallenges and emerging issues.

2. Urban planning schools should educate students to workin different world contexts by adopting the ‘one-world’approach.

3. Finally, urban planning education should include tuitionin ethics and key social values, as planning is not ‘valueneutral’. Embrace multiculturalism!

Notes:

Remember, bottom-up planning (community development)  is not a ‘foreign object’ ! Jakarta City Planning bureau (and all those govt city planning bureaus) need and must to adopt this thinking ASAP. Even Kobe city of Japan, has started to develop it back in 1960 !

To Jakarta Konsultindo (i.e. the consultation firm whose in charge for Jakarta’s 2030 spatial planning), please please Open Your Ears, Eyes and Hearts! And I’ve already sent you the copy of this latest UN Habitat Policy Directions in planning a sustainable cities via email (jkonsultindo@cbn.net.id). Please read, contemplate and consider it.

Lessons Learned

Tiap hari adalah pembelajaran. Saya belajar banyak hari Kamis, 29 Oktober 2009. Belajar mengenai teori, praktek, karakter manusia, hingga sikap birokrat kita. Belajar kalau jalan masih panjang, tembok yang dibongkar juga masih tebal, sementara jembatan tidak kunjung juga sampai di seberang.

Birokrat kita perlahan-lahan mengalami perubahan. Dengan membuka dirinya Ditjen Penataan Ruang DepPU kepada masyarakat diluarnya, dan mencari pendapat kedua kepada lingkaran diluarnya, berupaya menjalin tali pertemanan dengan masyarakat, hingga berupaya melintas sektor, adalah tanda-tanda baik dalam jaman perubahan ini. Selama ini penata ruang dan planolog konvensional selalu dituding negatif oleh Jane Jacobs hingga Henri Lefebvre. Namun dengan perlahan-lahan mencoba memahami diluar kerigidan penataan ruang, perlahan juga terjadi perubahan sikap. Continue Reading »

Dari Desa Grabag untuk dunia.

Sore itu saya tersentuh menonton salah satu film dokumenter nominasi Eagle Award, bercerita tentang TV komunitas Grabag TV. Apa itu Grabag TV: dia adalah antitesis dari segala produk TV urban Indonesia yang dipenuhi infotainment, sinetron, ‘dramatisir’ tragedi dan acara realitas. Seperti semboyannya: dari, untuk dan oleh komunitas, maka isinya pun seputar kehidupan kampung dan warganya.

Ketika warga Grabag mendapat pertanyaan : Acara favorit mereka di Grabag TV. Ada yang bilang: campursari. Ada lagi yang suka acara musiknya, dan para petani bilang suka dengan acara tips-tips bertani. Kegiatan warga satu sama lain pun menjadi dekat, ada acara shooting yang melibatkan sekolah, ada juga yang melibatkan warga setempat. Para pemuda belajar untuk mengoperasikan alat-alat, sementara para ibu-ibu menanti kapan giliran mereka masuk TV. Mereka berembug bersama, mereka berdiskusi. Mereka mensiasati alat-alat, dengan segala keterbatasan yang ada berupaya untuk tetap menyajikan yang terbaik. Komunikasi tidak lagi terjalin satu arah dan penuh dengan komodifikasi serta fetisisme material, namun yang ada lebih membumi, mendidik dan membentuk karakter.

Sekilas saya pernah menyaksikan TV komunitas lain. Saat itu saya berada di Amurang, Sulawesi Utara. Kota-desa berjarak sekitar 100 km dari Manado, juga menyiarkan serupa tapi tak sama dengan desa Grabag. Saya sangat tersentuh dengan pengalaman saya di Amurang, dan tertegun dengan Grabag.

Mereka tidak kampungan. TV-TV nasional itu yang kampungan. Kampungan karena terjerumus pada rating, akhirnya bertumpu pada sinetron dan berdiri diatas komersialisasi derita.

Rumusnya sederhana saja. Jika rumah-rumah dengan kapling 10×20m2 atau 12×25m2 yang berada di daerah Tomang, Tanjung Duren, Grogol, Cempaka Putih, Menteng, Patra Senayan, merelakan dirinya mengubah menjadi hunian untuk 1 keluarga menjadi 4 keluarga, maka kita akan memiliki tambahan lahan hijau, taman, perpustakaan, museum, ruang publik, sebesar 3/4 dari total lahan-lahan itu. Continue Reading »

Sayembara Tanpa Hadiah

Merancang hunian untuk empat (4) keluarga berpenghasilan menengah Jakarta di atas tanah 245 m2 (lihat lampiran) di jalan Rembang No. 11, Jakarta 10310.

Latat Belakang

(Lihat antara lain http://rujak.org/2009/08/density-myth-and-reality/)

Continue Reading »

Perpindahan dan pergerakan manusia tidak bisa dilepaskan dari kejadian dan tempat. Jika sebelumnya saya terpesona dengan gerak komuter dan migran, maka kali ini dengan pergerakan pemudik.

Jika hidup komuter adalah peralihan, maka bagaimana dengan pemudik? Keduanya jelas bukan migran, karena keduanya berpindah tempat menguasai ruang dalam kurung waktu tertentu. Namun di saat bersamaan, ternyata keduanya mampu berhenti diluar maupun menurut keinginannya. Continue Reading »

Dalam perkuliahan hari ini, saya berbicara tentang politik dalam kota. Tentu saja dalam perkuliahan saya tidak membicarakan soal parpol dan pemilu, tapi bagaimana relasi antara warga, dan kota itu sendiri. Lalu saya memberi beberapa contoh, yaitu Curitiba, suatu perpaduan manis dan rukun antara kota, warga dan politik itu sendiri. Dan disitu saya memaparkan 4 strategi untuk Jamie Lerner untuk perbaikan kota Curitiba:

Continue Reading »

Adalah judul salah satu proposal di workshop Arsitek Muda Indonesia.

Adalah saya ketika itu merasa frustasi harus berada di luar rumah saya di hari Minggu selama 15 jam. Yang kemudian mempertanyakan pada diri saya sendiri, rumah saya itu di jalan (mobil) atau di Sunter? Sebetulnya ini bukan pemikiran baru, tapi hanya pemikiran sederhana yang setidaknya pernah menghantui para komuter yang berasal dari non Jakarta (Bekasi, Serpong, Depok, Karawaci, Tangerang, dll). Continue Reading »

Older Posts »