Tidak Memilih 5 Cagub ini
Jakarta sedang dalam masa kampanye pilkada gubernur 2012. Ada 6 calon gubernur bertarung untuk posisi DKI1. Tentu tidak mudah memilih di jaman yang tidak pasti seperti ini, tanpa kejelasan kemana Jakarta dibawa. 5 tahun ditentukan oleh masing-masing individu.
Poster-poster menjengkelkan mulai muncul, atau karena alunan jingle kampanye yang dipaksa masuk ke otak, terngiang-ngiang berulang.
Sementara saya mulai mencoreti, siapa yang TIDAK akan saya pilih:
1. Fauzi Bowo-Nara
Kenapa? 5 tahun apakah belum cukup juga, masih mau tambah 5 tahun lagi? Saya kerap sekali bersinggungan dengan rencana yang ‘ujug-ujug’ muncul, contoh Jalan Layang Non Tol Antasari. Tiba-tiba muncul tanpa diduga.
Lalu ‘tidak berdaya’nya Foke terhadap organisasi tukang buat onar, malah berteman, berjabat tangan. Cukup 5 tahun, dan tidak tambah lagi. Tidak perlu panjang-panjang berargumen. Saya tidak mau berada dalam status quo, saya mau berada dalam jaman perubahan.
2. Hendardji – dan lupa nama wakilnya
Oke, dengan saya lupa nama wakilnya, sudah pasti gak bakal saya pilih, karena tak kenal tak sayang. Pak Hendardji sendiri selalu hadir di tiap acara yang saya adakan. Terima kasih untuk itu. Tetapi sayangnya, saya tidak yakin dengan kemampuannya, terbukti dari komentar-komentar yang beliau berikan pada saat acara-acara tersebut.
3. Jokowi-Ahok
Yang ini jelas-jelas tidak akan saya pilih. Jokowi, saya kecewa sekali saat dia menjawab pertanyaan Mata Najwa ‘Mengapa mau menjadi Gubernur?’, dan dijawab: ‘Karena disuruh partai.’ Oh tidak! Terlepas dari semua prestasinya di Solo (saya yakin itu terjadi juga karena kontribusi wakil walikota Solo juga), orang yang disuruh dan tanpa motivasi serta visi kuat, tidak boleh memimpin Jakarta.
Berdua mereka berslogan “Sudah Terbukti”. Saya menertawakan slogan itu, apa yang mereka buktikan di kota dan kabupaten yang hanya sebesar 2 kecamatan dan kelurahan di Jakarta. Hanya 1 orang yang boleh menggunakan slogan “Sudah Terbukti”, yaitu Almarhum Ali Sadikin.
Saya punya pengalaman buruk dengan Ahok dalam pertemuan sekitar 30 menit beberapa bulan silam di cafe depan rumah saya. Pertemuan 30 menit itu cukup memberikan segudang alasan untuk tidak akan pernah memilih pasangan itu. Arogan (sepanjang pertemuan kerjanya memotong omongan saya, dan seenaknya bikin asumsi sendiri), sok tahu (seenaknya saja mengira saya pendukung Faisal Basri), dan tidak kompeten yang jelas. 3 Jabatan Publik tidak pernah diselesaikan, saya sebut dia kutu loncat untuk itu. Tidak hanya tergiur dengan posisi lebih tinggi dan terus lebih tinggi tapi rela-rela saja pindah partai tanpa malu. Gak kalah malunya dengan Fauzi Bowo untuk itu sih.
4. Hidayat-Didik
Pasangan delusional, saya bilang. Pasangan yang seenaknya menjanjikan Sekolah (swasta!) gratis, pengobatan gratis, dll. Saya tidak perlu membuat perhitungan jumlah harus disubsidi pemda jika menggratiskan pendidikan swasta, bisa berapa triliun per bulan? Sementara wakil pasangan ini adalah seorang ekonom yang pastinya tahu cara menghitung bukan?
Subsidi pendidikan itu penting, tapi kepada siapa dan bagaimana caranya, bukan sekadar seenaknya main gratis saja. Tentu mudah mempertanyakan kredibilitas pasangan ini.
Alasan lain adalah karena jauh sebelum masa kampanye, pasangan cagub dengan slogan Beresin Jakarta, sudah jauh-jauh hari mengotori Jakarta via poster2nya. Kalau pemilihan gubernur berdasarkan jorok dan tak tahu malunya lokasi poster, maka mereka pasti jadi DKI 1.
6. Alex-Nono
Seperti yg nomor 3, saya tidak akan pilih orang yang meninggalkan mada jabatan publiknya. Pasangan ini selain kutu loncat juga delusional, dengan umbar janji 3 tahun bisa! Lalu kalau ditanya balik, bagaimana kalau tidak tercapak dalam 3 tahun? Jawabnya: Mundur.
Gampang sekali …. Tinggal pindah jadi gubernur ke propinsi lain.
Tinggal tersisa pasangan independen no 5 alias Faisal-Biem. Untuk sementara ini saya jarang menemukan kekurangannya, selain kurang poster (tentu melegakan ya!). Ada sedikit kritik saya, adalah Pak Faisal terlalu terus terang dan tajam. Memang dengan iklim politik partai yang selama ini saling jilat dan saling menusuk, terus terang dan gamblang bagaikan angin segar. Semoga tidak menjadi senjata makan tuan buat Faisal, karena benar kata-kata kadang lebih menusuk daripada pedang.
Ada yang menyoroti bahwa Faisal-Biem tidak punya pengalaman. Hmmm, kenal dengan Ali Sadikin? Memangnya dia punya pengalaman sebelumnya? Atau Sutiyoso? (yang digemborkan Ahok bahwa dia pernah banyu Sutiyoso selama 1 th, eeeee tapi saat Sutiyoso mau nyapres, *yahhh, penonton kecewa*). Oke, mungkin Sutiyoso bukanlah contoh seideal Ali Sadikin, tapi saya sengaja iseng saja masukkan Sutiyoso disini karena si Aho bangga banget pernah bantu dia selama 1 tahun.
Faisal tidak punya pengalaman dalam memimpin 9 juta lebih warga Jakarta, itu benar. Tapi dia punya integritas dan kecerdasan luar biasa – yang saksikan Debat Cagub tgl 24 Juni silam tentu tahu kejernihan jalan pikirannya. Dia pun membumi dan tidak malu mengakui bahwa dia salah, ini kualitas yang jarang ada dalam pemimpin Indonesia saat ini.
Tentu, ini seperti pertarungan David VS Goliath, tapi kita tahu kan siapa pemenang duel terkenal itu?

Porak poranda..powerless…baiknya bikin referendum supaya rakyat jakarta bisa memberikan aspirasi rujuk pada calon pilihan rakyat sekalipun dia belum di calon kan..referendum kedua adalah utk membubarkan ormas anarkie..
numpang share tulisannya melalu FB bu, saya harap melalui tulisan ibu bisa membantu kawan2 yg msah bingung untuk memilih
TQ before
bisa jelaskan bagian yang ini => .. (seenaknya saja mengira saya pendukung Faisal Basri)
karena setelah membaca artikel ini jelas ibu dukung pasangan no.5
Mas, bisa tolong dibaca lagi dibagian itu. Saya menulis pengalaman saya bertemu Ahok beberapa bulan lalu (dan pernah saya serial twitkan juga), saat itu saya tidak mendukung siapapun, malah sedang mau penjajakan kenalan dengan Ahok. Tapi begitu saya memperkenalkan diri dan institusi saya, langsung saja beliau meracau soal Faisal Basri dengan indikasi seakan saya simpatisannya, tanpa ada konteks dengan pertanyaan2 saya (yang waktu itu bertanya bagaimana sikapnya terhadap perubahan tata ruang di skala perumahan, dengan contoh perumahan tempat saya tinggal, tempat dia datang beraudiensi dengan warga).
Mas juga baca lagi, saya tidak bilang saya dukung Faisal; saya bilang, saya jarang menemukan kekurangannya. Serta pemikiran itu baru tercetus paska saya menonton debat di TVOne, 24 Juni 2012 (spt saya tulis di blog ini).
ini kan blog, boleh saya menulis hal yang personal. toh yang membaca di internet juga intelektual. tdk tercium soal ‘menggiring opini publik’ di sini. baca 2x lebih nyaman. cheers
nice post anyway!
faisal-biem :
pasangan faisal-bim menurut saya juga belum memiliki experience dan belum terbukti kompetensi-nya dalam memimpin. kalau mau dibandingkan dgn ali sadikin, kita harus melihat ‘watak’ (itu pun harus dilihat lebih mendalam & mungkin sementara ini hanya dapat diukur dengan ‘feeling’ masing-masing).
kecerdasan vs karakter :
ok lah, foke ktnya pintar soal tata kota dsb (tentu sama seperti faisal).
nah foke saja tak bisa membenahi segudang urusan Jkt.
di organisasi sendiri, pemimpin pasti bukanlah yang paling pintar.
sejauh ini saya belum lihat integrity & watak yang betul2 jelas dari faisal.
foke saja yang scr ‘irasional’ terkesan tegas pun masih belum mampu. dan lagi-lagi feeling saya masih mengatakan faisal belum mampu utk memimpin walau dengan segudang kompetensinya itu (sekali lagi ini hanya melalui feeling & hanya pandangan pribadi, seperti halnya pengalaman anda dgn Ahok yg bahkan merupakan pengalaman pribadi sehingga persepsi saya mengenai ahok belum tentu sama).
konklusi gamang :
yang berani-lah yang harus kita pilih. soal hal teknis sih kalau pun saya atau anda-anda jadi gubernur, pasti akan diserahkan ke tim ahli/konsultan/deputi terkait. permasalahan jkt sudah ‘terpetakan’, tinggal bagaimana gubernur berikutnya siap manghajar segala hal di depannya tanpa takut.
harapan semu :
lalu siapa ya diantara ke-6 calon yang sanggup menjalankan masalah2 yg sudah terpetakan tsb? hmm, kok semakin dipelajari semakin punya cacat semua ya? ini tandanya nasib gubernur berada di para emilih yang IRASIONAL.
badut pilkada :
Foke – 5 tahun belum cukup?
Hendradji – tak kenal maka tak sayang!
Jokowi – kota besar kok mau diurus dgn metode sederhana ala kota kecil?
Faisal – pintar tapi….pada mau nurut gak ya?
Hidayat – harus belajar berhitung dahulu!
Alex – 3 tahun bisa? 5 tahun jakarta mirip singapura? impossible!
dalang pilkada :
seluruh badut pilkada sepertinya sudah diatur semua oleh seorang dalang di belakangnya.
kita cuma penonton saja yang menghabiskan waktu menonton dagelan elite ini.
golput salah, rasional salah, enaknya jadi pemilih irasional aja ya yang tinggal mencoblos :
kumis, batik, atau kemeja kotak.
“yang berani-lah yang harus kita pilih.”
Pak Faisal-Biem sangat berani melawan arus & tekanan! ini terbukti beliau maju terus sebagai cagub independen, syarat & verifikasi yg harus dipenuhi pun tak segampang cagub partai. hebat dah!
“Faisal – pintar tapi….pada mau nurut gak ya?”
dijawab pake quotes aja ya:
“When I dream alone, it is just a dream. When we dream together, it is the beginning of reality.”
ahahahah… wajar dong hidayat mau gratisin sekolah swasta, coba hitung ada berapa sekolah swasta punya PKS
Sbnrnya Hidayat juga dipush partai (ujung-ujungnya utk menguasai jakarta dalam pilpres nanti). Lebih baik duduk manis di kursi MPR ya dia, drpd sok turun ke bawah
nyonya elisa,,
maaf bila saya sedikit mengganggu ketenangan anda,,
anda bilang bahwa anda jarang menemukan kekurangan dari calon yang anda sebut terakhir,,
jelas, karna pertam, orang ini kurang motivasi, terlihat dari bagaimana calon anda ini tidak benyak melakukan tindak kampanye, dengan hal tersebut dapat saya simpulkan bahwa calon ini ‘takut” akan kerasnya jakarta,,, kedua, orang ini tidak memiliki keyakinan akan pencalonannya, kenapa,?
anda sendiri yang bilang kalau calon ini terus terang dan tajam,, serta mau mengakui kesalahan,, bukan hal tersebut yang saya dan warga jakarta mau,, yang kita mau adalah orang yang mengetahui akan kesalahannya tanpa di tegur, serta cepat memperbaiki kesalahan yang iia buat,,
saya rasa cukup 2 alasan ini untuk menjadi bahan pertimbangan anda kedepan.
Tuan kamal,
Pernah terlintas dipikiran tuan bahwa yg no 5 krn independen tidak punya duit partai jadinya tidak kampanye dan pasang spanduk dimana2, karena itu semua perlu uang tidak sedikit tuan. Tuan tahu berapa dana milik no 1, 2, 3, 4 dan 6? Kalau tidak tahu bisa tsnya ICW. Dan lalu uang mereka darimana ya? Semoga dari orang iklas yang kasih 5-10 milyar tanpa pamrih minta uangnya balik, semoga lohh…
Dan tuan, selain dia tahu salah, harus bisa berani mengaku, ‘ya, saya salah’. Daripada sudah salah, ehh malah marah2in wartawan, misalnya. Tapi hei, ini standar saya, dan bukan standar tuan yang tuan kira bisa dipaksakan kepada saya.
Tuan, saya rasa selama 3 bulan saya sdh cukup menimbang. Sementaramasa depan nyaman tidaknya saya, setidaknya utk 5 tahun ke depan akan dimulai dlm jangka waktu 6 hari lagi.
yang dikhawatirkan dari Faisal-Biem ini kan mereka Indpenden(katanya), terus nanti kalo di parlemen peraturan yg buat bukan cuma Gubernur dan Wakil Gubernur lho, kan ada DPRD, kalo Faisal-Biem tidak punya kekuatan yg kuat dalam massa(saya katakan disini partai). Peraturan tadi mana bisa jalan? Kalau Faisal-Biem terpilih saya kira hanya rakyat mengenah keatas yg sejahtera
Memangnya dengan gubernur skrg yg didukung partai-partai besar apakah melihat ada perubahan ke arah yang baik? Tidak juga.
Terakhir kali cek, R di DPRD masih Rakyat, belum tumpengan jadi P atau Partai. Tugas rakyat tidak berhenti hny mencontreng saja,mtapi berpartisipasi dan memastikan DPRD bertugas sbg wakil rakyat, bukan partai. Itu setidaknya yg selama ini saya lakukan, dan akam terus saya lakukan. Partisipasi.
Saya rasa no 5 tidak sebodoh itu untuk tidak paham resiko menjadi independen.
Saya malah penasaran atas dasar apa bilang ‘hanya rakyat menengah atas saja yang sejahtera’?
saya menggarisbawahi kata2 anda ” Dia pun membumi dan tidak malu mengakui bahwa dia salah”, kalo cuma mengakui setiap calon bisa dong, tinggal bagaimana solusi untuk ke depannya.
Yang paling penting mencari pemimpin yang bersih dan mempunyai program jelas dan tidak melenceng dari program yang sudah direncanakan, APBD DKI gede banget lho, sayang kan kalo kemajuannya cuma sedikit seperti periode sekarang. duitnya dirampas
Apakah sudah baca isi program ke 6 kandidat? Anda sudah tahu yang mana bakal beri solusi lebih baik dan memungkinkan terjadi, serta adil?
Karena saya sudah baca, maka saya tahu. Dari situ juga saya tahu siapa yang saya percayai utk mengelola APBD Jakarta.
Sudah tau, tapi ya sudut pandang orang berbeda-beda. Ga boleh dipaksakan
Mbak, aku juga nggak akan pilih nomor 1, 2, 4, dengan alasan yang sama dengan Mbak
Kalau no.3, alasan saya untuk nggak memilihnya berbeda dengan Mbak, tapi tetap nggak akan saya pilih, hehehe..
Nice post, I like it
nice blog gw demen.. kalau di share di k*skus keknya boleh bakalan kena serbu kaum2 troller, bolehkah saya share di forum?
sungguh menarik blog anda.
Buat gw calon gubernur jokowi memang menarik tapi begitu kena ‘disuruh partai’ eemmmm tepok jidat.. mo dibawa kemana?
haizz gw di daerah timur jakarta cuma ngelus dada, walkot kena skandal korupsi, terus next mo pilih walikota? gw dah ngeprint gambar kingpin (boss besar musuh spiderman) buat next pilkada. Tak coblos dah tuh kingpin.
salut juga ama mbak elisa ini cewe tapi pemikiranya lebih terbuka dari lebih berani dari pria sekalipun
banyakan teman saya yang pria (saya pria juga) kalau saya diajak diskusi mengenai calon dari independen pasti langsung pesimis “gimana nanti kalau dijegal dprd,emang bisa tanpa partai dst”
semua pesimis dan tunduk pada partai,sungguh miris indonesia ini kalau kita terus terus tunduk dan takut pada partai bukan sebaliknya sesuai hukum demokrasi Vox Populi Vox Dei (suara rakyat (bukan partai) suara tuhan )
saya sebenarnya golput,tapi tertarik ama calon independen dan kalau baca tulisan mbak elisa saya mungkin akan meluangkan waktu saya untuk coblos no 5 meski jujur saja realita masyarakat kita masih belum paham makna independen dan independen sangat luar biasa sulit menang di indonesia yang semuanya masyarakatnya sudah tersandera oleh partai partai yang busuk dan jahat sekali.
(seperti david vs goliath tp disini)
but well setidaknya gua puas lah ada usaha sedikit dukung perubahan di indonesia dengan jalur independen.
well done mbak elisa well done.
dan gua suka quote ini (thx to wongsoyudan)
“When I dream alone, it is just a dream. When we dream together, it is the beginning of reality.”
gw juga setuju ma pendapat ci Elisa, tapi secara realistis, dan semoga saja optimistis bisa mengubah realita, pasangan nomor 5 pantas untuk dicoblos. realita nya adalah kekuatan partai dalam perpolitikan Indonesia. lihat saja bagaimana mantan anggota KPU bisa mendapat posisi kuat di partai pemenang pemilu 2009. salah satunya bahkan menjadi ketua umum partai saat ini. padahal ada UU yang mengatur dimana anggota KPU tidak dibenarkan menjadi anggota partai manapun dan keanggotaan sebagai KPU adalah sampai pensiun kecuali berhenti dengan tetap dalam kondisi tidak dibenarkan menjadi anggota partai manapun (UU yang mana silahkan para cendekiawan ahli UU mencari). dari sini terlihat betapa partai dengan kuasa dan uangnya akan dengan mudah memenangkan pemilihan kepala administratif di berbagai tingkat pemerintahan. padahal semua orang juga tahu, dengan memenangi pemilihan kepala administratif lewat dukungan partai, tentunya akan ada utang budi dan utang2 lainnya pada partai dan berbagai pihak yang menyukseskan pemenangan calon terpilih. bisa dilihat sekarang bagaimana dengan modal dana pas, tapi dengan tekad dan niat mulia untuk menata Jakarta menjadi lebih baik, pasangan no.5 ini bisa membuka mata warga jakarta yang punya otak, hati dan pemikiran ke depan untuk Jakarta yang lebih baik.
masalah di Jakarta seperti macet, banjir dan tata kota; hal2 ini bukan masalah yang bisa diselesaikan (kecuali dengan menghancurkan yang sudah ada dan memulai membangun yang baru, dimana gw yakin ga bakal disetujui, gw jg ga mau rumah gw digusur). yang paling mungkin untuk dilakukan hanya menyederhanakan masalah2 tersebut dengan menghimpun berbagai ahli2 yang bersedia membantu, dengan pamrih yang masuk akal, untuk memberi solusi yang bisa direalisasikan untuk menyederhanakan masalah2 itu.
soal sekolah gratis dan pengobatan gratis, kenapa tidak? asalkan manusia2 hasil pendidikan gratis itu nantinya akan bisa membalas pendidikan yang dia dapat dengan turut membantu pembangunan Indonesia, khususnya Jakata. pengobatan gratis? selama penyakit yang diobati hanya sakit perut, muntaber, KB, ya itu emang mestinya digratisin untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan warga terutama yang kurang mampu. kalo macam kanker dan berbagai penyakit yang bersifat ‘mahal’ yah paling banter di diskon ato subsidi. secara mo jadi dokter aja mahal.
semoga Tuhan Yang Maha Esa turut campur tangan demi Jakarta yang lebih baik.
maaf mba, artikel tentang hidayat anda terlalu tendensius dan tanpa perhitungan dan penjelasan yang jelas, Jambi sudah menggratiskan sekolah swasta loh http://t.co/eFI8WMZ9
Rencana Gorontalo subsidi sekolah swasta http://bit.ly/L1UuHL dan Juga Bekasi http://bit.ly/rTrqXs
Kita jalan2 ke tempat lain di mana sekolah swasta disubsidi. Ada cerita menarik dr kota Macau,smua skolah disubsidi http://bit.ly/N8jfgP
Pakar Pendidikan, Darmaningtyas berharap sekolah swasta bisa gratis http://bit.ly/M9F5D9
so apa yg diragukan utk gelontorkan subsidi bahkan gratiskan skolah swasta d Jakarta? APBD Jkt yg totalnya Rp 36,023 triliun?tdk cukup? lucu kalau ada yg bilang demikian sebelum tahu seberapa besar dana yang APBD DKI punya, Yang jelas penggratisan sekolah swasta ini dlakukan btahap setelah skolah negeri bs gratis sampai SMA. Bertahap! Dengan pemerintahan yg – kita tahu lah,APBD DKI capai 36 T , apalagi kalo pmerintahannya efektif&efisien.subsidi skolah swasta adalah hal yg mudah.
Menang tanpa merendahkan itu lebih bijak, Salam respect
Baik saya hitungkan deh untuk anda:
Jangan lupa hitung inflasinya ya, krn tiap tahun naik. Tidak percaya? Bisa tanya ke seluruh financial planner di Jakarta.
Misalnya sekolah swasta bernama Sekolah Pelita Harapan,
SPP 1 anak SD per 10 bln USD 12000 ( ya pakai usd, jadi dgn kurs 9000 deh, jadi Rp 108.000.000/anak). Jika ada 6 tingkat SD, dengan misal 100 anak per tingkat, maka:
Rp 108.000.000 * 6 * 100 = 64.800.000.000 ( hampir 65 milyar).
Ini baru SPP, blm uang pangkal tiap tahun yaaaaa…
Ini baru SD SPH, blm misalnya SD Al Azhar, Ipeka, dll. Mau kita lanjutkan? Sisanya saya anggap anda bisa hitung sendiri ya.
Saya tidak tahu ada berapa banya SD, SMP, SMA di Jakarta. Sebagai gambaran kasar, tahun 1998, ada sekitar 200 perguruan tinggi dan institusi setingkat PT. Nah, kira2 ada berapa puluh ribu ya?
Maaf, Jakarta bukan kota, tapi ia adalah Propinsi yang terdiri dari 5 kotamadya (dengan 1 kotamadya nya bahkan jumlah penduduknya setara Surabaya) dan 1 kabupaten.
Tambahan: Ingin menang dgn sebelumnya berhitung dengan seksama, tentu lebih baik. Kalau tidak kan akan dipertanyakan kemampuan berhitungnya. #ehhhh
“Saya tidak tahu ada berapa banya SD, SMP, SMA di Jakarta. Sebagai gambaran kasar, tahun 1998, ada sekitar 200 perguruan tinggi dan institusi setingkat PT” http://www.berita8.com/read/2009/06/25/5/12424/Jumlah-Sekolah-di-Jakarta-Kini-5.005-Sekolah
Dari 5.005 sekolah yang ada di Jakarta itu jumlah peserta didik mencapai 1.603.267 orang, kita bulatkan 2.000.000 siswa deh coba di kali rata semuanya 10 juta/siswa *itu juga gak segitu setahun, ketinggian
. 10.000.000 x 2.000.000 = 20.000.000.000.000 (20 Triliun) , Dana APBD DKI itu 360 T per tahun, seberapanya APBD itu? problem? mau aja ditipu Foke :p
prof. didik itu ekonom dan juga professor dan sudah mempresentasikan kepada kami mengenai itu jadi kami punya data dari disdik DKI dan itu valid
Salam Respect
Pak hehehe maaf, APBD Jakarta itu 36 triliun, bukan 360 triliun. Kebanyakn satu 0, tapi bedanya 300 triliun lebih.
)
Untuk melengkapi reply saya diatas, APBD Jakarta 2012: 36,023 triliun, terdiri atas
Pendapatan 30,642 triliun dan penerimaan 5,38 triliun.
Semoga kalau nanti HidayatDidik benar terpilih Jakarta langsung dpt menggenjot pendapatan-penerimaannya jadi 360T dlm 1 thn. Amin.
Buat bantu lengkapi data, bisa beli ke BPS:Jakarta Dalam Angka, semoga sdh keluar yg edisi 2011. Saya punyanya yg edisi 2010, jd gak berani bilang punya data valid. Disitu ada data lengkap jumlah SD-SMA, termasuk negeri, swasta nya. Eh iya, jangan lupa tambahkan dgn madrasah, krn itu ada di kolom yang berbeda.
Postingan yg cukup menarik tp akankah mnjadi lebih baik n sangat elegant bila tdk cenderung subjektif..Betul kita semua khususnya masyarakat Jakarta menginginkan perubahan,perbaikan serta pembenahan..Dan sepertinya kita semua sepakat bahwa proses itu akan sangat ditentukan dlm beberapa hari kedepan..Saya yakini dg apa yg anda paparkan adlh bagian dri usaha anda utk sebuah perubahan ttg Jakarta terlepas dg alasan apapun (mudah2an bkn krn sbuah kejengkelan..) Tp apa yg saya baca ( mudah2an ini hanya menurut saya) paparan anda sangatlah subjektif,dari judul “Tidak Memilih 5 Cagub ini”,,ulasan mengenai dari para 5 Cagub tsb n terakhir knp pilihan atau dukungan jatuh pada pasangan independent Faisal-Biem.
Kenapa tidak “harus” memilih 5 Cagub tsb,apakah paparan anda sudah sangat menjelaskan profile sbnarnya dri masing2 Cagub tsb krn nyatanya yg anda paparkan hnya sisi negatif yg kebenarannya pun blm tntu kita smua ketahui scara pasti. Alangkah indahnya apabila kita semua disini justru membahas ttg apa yg dibutuhkan utk perubahan,perbaikan serta pembenahan Jakarta,dimana posisi masyarakat n perannya. Baru setelah itu tengok apa n bagaiman visi misi dri sluruh Cagub. Apabila hal ini bisa dilakukan scara brsama n terintegrasi,saya rasa akn lebih bermakna n mendidik. Pesta Demokrasi utk masyarakat Jakarta tinggal hitungan hari lgi, biarkanlah masyarakat Jakarta yg memilih n menentukan siapa Cagub yg berhak memimpin Jakarta nantinya.
Utk yg terakhir n dg tdk mengurangi rasa hormat saya kpd anda…Kenapa hrus memilih Calon Independent Faisal-Biem,Apa krn dia pintar/cerdas? Saya rasa semua calonpun sdh psti pintar/cerdas atau pling tdk mreka pnya kualitas pd level2 tertentu (Atau mungkin anda pnya definisi tersendiri mengenai pintar/cerdas). Mungkin krn Faisal-Biem dri calon independent jd berharap politik dagang sapi bisa dihindari termasuk jg transaksional politik? Belum tentu n tdk jadi jaminan atau anda yakin bisa memberi garansi mengenai hal itu? Atau krn Kejujurannya seperti yg anda paparkan bhwa Faisal Basri brani utk jujur mengakui kesalahannya,,Luar Biasa memang,terlebih lgi utk Indonesia mungkin sangatlah jarang bisa menemui tokoh seperti itu tp jujur hal ini sangatlah menggelitik bagi saya, Kejujuran seorang Faisal Basri yg brani mengakui kesalahannya sangatlah kita apresiasikan bersama,Tp bagaimana dg Kejujuran Anda??? Mungkin anda bukan Tim Sukses, bukan jg Relawan atw Pendukung,Pengagum,Penggemar atau apalah itu tp jelas postingan anda (disadari atau tidak n mudah2an saya kembali salah) sangat jelas menggambarkan n menegaskan posisi anda, itupun jg bisa dilihat ketika ada respons postingan yg menyinggung anda atw Calon Independent Faisal-Biem,dengan tegas n sarat akan emosi (skali lgi ini menurut saya), anda memberikan jawaban n paparan. Apakah itu bkn sbuah gambaran ttg posisi anda? Kembali ke topik sbelumnya mngenai sbuah kejujuran dri seorang Faisal Basri yg mnjadi Calon Independent yg kembali bisa kita berikan apresiasikan scara brsama tp sayang menjadi ironis n mungkin sangat kontradiktif krn trnyata hal tsb (mungkin) tdk dimiliki oleh pendukung,penggemar,pengagum-nya
Betul sekali, anda tidak mengenal saya sedikitpun;).
Loh, saya menulis tentang TIDAK memilih 5 cagub, masak alasan yang dikemukakan alasan positif. Itu namanya Oxymoron.
Gini deh biar kenal:
Saya beruntung pernah bertemu langsung dengan 6 orang dari 6 pasang, malah saya bertemu komplit dgn 2 pasangan. Saya bahkan sehari2 bekerja di bidang perkotaan di Jakarta, yang menyebabkan saya sering berurusan dengan jajarannya incumbent, termasuk bbrp kali bertemu dgn incumbent.
Oh iya, bagaimana kalau tidak pernah bertemu dan harus memilih yang mana tanpa spt milih kucing dalam karung? Mudah sekali caranya, baca dan analisa program mereka, dengar debat dan wawancara, perhatikan cara mereka kampanye, dan amati siapa yang di belakang mereka. Setidaknya itu sih yang saya lakukan lohhhh…
Plus saat ini saya tidak sedang menulis paper untuk jurnal internasional, jika ada subyektivitas itu adalah tak terelakkan, karena ada sebagian yang saya tulis berasal dari pengalaman dan pertemuan pribadi.
Jadi pingin tanya balik yang sama, bagaimana caranya kita tahu bahwa cagub yang didukung partai PASTI TIDAK dagang sapi?
Btw, jika anda pingin tahu apa yang dibutuhkan untuk perubahan, posting setelah soal Tidak Memilih 5 cagub adalah tentang Revolusi Perkotaan
. Dan setelahnya lagi tentang Tantangan Gubernur, beserta megaproyek yg lbh besar dari Hambalang. Dan stlhnya lagi laporan dagang sapi di pilakda 2007, dari kabel kedubes Amrik di Jakarta.
Silakan dibagi kepada orang yang membutuhkan jika dianggap perlu untuk mengedukasi warga.
Saya membalas kepada orang2 yang saya anggap mungkin mereka kurang paham akan isi posting saya. Termasuk misalnya saya merasa harus me reply posting anda ini.
Nice post Elisa,
no comment… ini semua akal sehat saja kok. hal sederhana yang jarang dipunya…
Eh, by the way…
)
What do you know about Biem Benyamin? Saya sempat ikuti proses keputusan Faisal mencalonkan diri. Waktu itu belum ada calon wagubnya. Tiba2 Biem-lah yang dilamar. Ini saya tidak faham, dus tidak bisa mengatakan setuju atau tidak. Bukannya tidak boleh tapi saya kurang suka dengan sesuatu yang bersifat ujug2, hanya mengandalkan “nama”. Orangnya mungkin baik seperti Rano Karno, Ganteng seperti Dede Yusuf. Tapi kenapa?
(duh… mohon maaf semua…
Saya tidak tahu banyak soal latar belakangnya, spt kebanyakan cawagub yg lain. Mungkin musti tanya langsung kepada Faisal kenapa memilih Biem.
Tetapi saya memang pernah mengundang seluruh cagub, dan waktu itu krn Faisal berhalangan, maka Biem hadir. Disitu Biem memberikan komentar thd permasalahan yg ada dan cukup mengena. Lalu sptnya dia pandai engaging dgn warga, krn stlh selesai acara diskusi, warga ngobrol akrab dgn dia.
Hanya sebatas itu yg saya tahu.
saya tidak tahu ini jawaban yang benar/ salah,tapi mungkin biem dipilih karena ideologi mereka sama-sama ingin mengoreksi partai dan biem benyamin ini salah satu tokoh yang paling getol dalam mempermasalahkan presiden independen.
dan kalau mau dinilai kualitas biem sih cukup meragukan saya bilang (kalau melihat cara debat tgl 24 juni kemarin) dia tidak begitu mampu memaparkan masalah dalam bahasa manusia sebagus faisal.tapi saya melihat dia paham akan budaya jakarta dan manusia-manusia yang ada didalam kota jakarta tersebut,dia paham bagaimana mengembalikan identitas betawi kembali ke jakarta(hey no rasis,jakarta bukan hanya untuk betawi tapi ga bisa disangkal betawi adalah jakarta)
tapi ada yang lebih penting dari itu,pasangan faisal biem sudah bergabung cukup lama( 1 tahun lebih) berbeda dengan calon lain yang dikawinkan paksa oleh parpol dan umurnya pun seumur jagung(hanya 2-3 bulan)
Pasangan yang baik bukanlah sama sama hebat tapi harus bisa saling melengkapi.
ibaratnya ada yang harus menjadi Matahari(menonjol) ada yang menjadi bulan (tidak menonjol tapi tetap penting fungsinya (keseimbangan). kalau dua-duanya menjadi matahari ya bakal berabe…selain panas banget juga lebih mudah terjadi konflik.
Menarik sekali tulisan Sdri Elisa disini. Berbagai tuduhan apakah anda ini mendukung Faisal atau tidak, bisa ditangkis dengan menyuruh kita membaca kembali tulisan word for word… Tentu saja secara harfiah, tapi deep down, saya merasa memang anda mendukung pasangan independen ini… Dan nggak masalah bagi saya apakah anda memang mendukung atau tidak, nggak ngaruh juga! Toh Jakarta nggak akan pernah mengalami perubahan yang berarti.. Ya gini2 aja… siapapun gubernurnya, Jakarta pasti didera macet, banjir dsb…
Cuma saya harus sependapat dengan anda ketika bilang cuma Ali Sadikin yg menjadi sosok ideal Gubernur Jakarta. Dan memang cuma dialah yang punya program memajukan kesenian dengan mendirikan TIM sebagai Pusat Kesenian Jakarta dan Lembaga Kesenian Jakarta yg menyelenggarakan akademi seni rupa, seni tari film dsb…. Dia juga yg mendirikan pusat perfilman nasional dengan Sinematek nya…. FYI sekarang kedua lembaga itu agak terseok2 jalannya…
Ada kampanye ke 6 kandidat ini utk memajukan kesenian kebudayaan di DKI?
So liat aja nanti barangkali tgl 11 saya golput atau merem nyoblos yg mana aja hahaha
ralat: Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta…. LPKJ yg sekarang menjadi IKJ
Mas bowie, coba baca visi misi ke6nya, memang seingat saya No 4 dan no 5 yang punya program kesenian dan budaya. Tapi saya harus buka contekan saya lagi untuk konfirmasi. Utk mempermudah, kompas punya halaman khusus dimana mas bisa melihat visi dan misi masing2 cagub.
Demikianlah Sdri. Elisa, hasil Pilgub DKI. Faisal Basri mungkin salah satu (kalau tidak bisa dibilang) yang paling cerdas, visioner dsb., tapi pada akhirnya demokrasi itu pada prinsipnya adalah hitung-hitungan/banyak-banyakan suara. Dan dalam realita politik Indonesia, yang berkontribusi paling besar untuk perolehan suara adalah kandidat yang berakar di masyarakat grassroot/punya basis massa yang luas beserta partai politik sebagai mesin politik yang kuat di belakang mereka.
Bagaimanapun kemunculan Faisal Basri sebagai kandidat independen sudah cukup baik, terutama sebagai ‘peringatan’ bagi partai-partai politik, bahwa mereka harus memperbaiki pola kaderisasinya di dalam, lebih tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan membuang kekuasaan oligarkis di dalam organisasi mereka selama ini, dimana kekuasaan berhulu kepada sang ketua partai yang memegang kekuasaan yang besar dalam penentuan calon kepala eksekutif. Oleh sebab itu, yang berperan dalam kemenangan seorang kandidat dalam pemilihan kepala eksekutif tidak semata-mata kompetensi atau visi sang calon.
Dalam konteks sosiologis, Jakarta ini masih ‘kampung besar’, belum ‘kota besar’. Rakyat pemilihnya pun sebagian besar pemilih irasional. Komunalisme/ikatan-ikatan primordial berdasarkan suku/daerah asal atau agama, masih kuat, dan ini masih mempengaruhi preferensi mereka dalam memilih Gubernur. Jokowi punya basis massa yang kuat di kalangan penduduk Jakarta yang berasal dari Jawa Tengah yang banyak jumlahnya, sementara Ahok meraup suara dari kalangan keturunan Tionghoa (pasangan Jokowi-Ahok menang telak di Jakarta Utara dan Jakarta Barat), meski tema gagasan yang dimiliki kurang lebih sama dengan yang dimiliki Faisal Basri, yaitu perubahan Jakarta, tapi kedekatan secara psikologis dengan masyarakat bawah dan ikatan-ikatan primordial inilah yang menentukan kemenangan mereka.
Sebaliknya, kenapa Foke masih dapat suara signifikan dan akan maju ke putaran kedua? Segmen pemilih irasional berdasarkan sentimen primordial ‘ke-Betawi-an’ pun masih kuat. Foke berakar kuat di kalangan ormas-ormas Betawi (pembina Forkabi), meskipun mereka yang menginginkan perubahan Jakarta banyak mencatat buruknya kinerja Foke. Faisal Basri yang menggandeng Biem Benyamin yang diharapkan mampu meraup suara masyarakat Betawi, ternyata kurang berhasil.
Trims atas komentarnya. Tidak pernah maksud saya untuk meramal siapa yang akan menang, toh judulnya soal Tidak Memilih, bukan siapa yang menang.
Memang benar bahwa sangat sangat banyak orang Jakarta yang masih sangat sangat primordial, terbukti dari 3 hari serangan fajar dan broadcast message yang mengarahkan saya dan banyak orang lain untuk memilih no3 dengan alasan karena salah satu cawagubnya minoritas dan percaya Yesus Kristus. Yang menurut saya benar-benar upaya yang sangat memuakkan dari para pendukungnya, apalagi ketika ditanya balik, apa tahu visi misi programnya, jawabnya: gak. Saya merasa bahagia karena terbebaskan dari primordialisme bahkan sejak saya masih bangku sekolah.
Lalu kalau saya sebagi akademisi disuruh mengkritisi program no3 (sdh pernah saya lakukan pada 5cagub selain no 1 via twitter), justru no3 itu yang plg kedodoran dan tidak paham, walaupuntdk sedelusional no 4.
Saya berharap yg no3 berhasil keluar dari bayang2 PDIP dan Prabowo, tapi tyt itu sptnya masih sangat jauh dan perlu dibuktijan, jadi seakan perubahan yang ditawarkan oleh pasangan no3 itu seakan masih semu bagi saya.
Sebetulnya saya sangat berharap Jokowi benar2 jadi berkoalisi dengan PKs, toh dia langsung ketemu Hidayat di hari yang sama tanpa nunggu perhitungan selesai. Pasti seru melihat dilema pemilih Jakut dan Jakbar, yang biasanya sangat takut PKS. Apakah itu akan mendorong mereka keluar dari primordialisme, mari ditunggu 20 September.
Saya juga baru tahu kalau pak jokowi mencalonkan diri jadi cagub karena disuruh partai setelah membaca buku biografinya karangan mbak AE. Kalau besok disuruh partai jadi cawapres gimana ya? hahaha.
Saya tidak tahu, saya hanya bisa mendoakan Pak Jokowi supaya teguh dengan amanahnya sebagai Gubernur DKI dan diberi kekuatan selama masa jabatannya.m