Seperti Dimuat di Harian Kompas, 7 Maret 2004

KOTA metropolis berkembang seiring dengan pertumbuhan ekonomi, teknologi, dan globalisasi. Namun, yang paling berpengaruh dalam pertumbuhan kota adalah perkembangan teknologi yang demikian pesat yang notabene mempengaruhi gaya hidup masyarakat kota. Pada akhirnya pertumbuhan kota diiringi dengan globalisasi dan budaya konsumsi.

PHILLIP Kotler dalam bukunya, Marketing Places: Attracting Investment, Industry, and Tourism to Cities, States and Nations, mengetengahkan konsep city growth dynamics dan city decay dynamics sebagai ilustrasi dari fluktuasi perkembangan kota yang disebabkan globalisasi.

Dalam teori city growth dynamic Kotler menyatakan, sebuah kota pada dasarnya menarik dan atraktif karena adanya perkembangan industri atau memiliki keindahan alam atau memiliki warisan budaya. Kotler juga mengasumsikan keterbukaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas hidup yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan arus migrasi, wisatawan, dan investasi. Hal tersebut diikuti kenaikan harga real estat dan permintaan kebutuhan akan transportasi serta akomodasi yang tentu saja diikuti kebijakan pemerintah kota untuk menaikkan nilai pajak guna membayar biaya ekspansi transportasi, telekomunikasi, energi, dan kebutuhan sosial.

Kebijakan pemerintah tersebut memicu kondisi city decay dynamics pada saat sebagian penduduk dan industri memutuskan pindah ke pinggiran kota demi menghindari tingginya biaya hidup. Pada akhirnya kota yang semula merupakan tempat menarik mulai berubah menjadi citra negatif.

Oleh sebab itu, sebuah kota haruslah kompetitif terhadap kota sekitarnya untuk menarik migrasi bisnis, wisatawan, dan investasi. Pada saat sebuah kota berada dalam kondisi city decay dynamics, sudah saatnya bagi kota tersebut untuk melaksanakan restrukturasi.

Salah satu langkah restrukturasi yang ampuh adalah dengan mengubah citra dan identitas kota yang pada umumnya melibatkan pembaruan seluruh aspek kota dan urban. Pada akhirnya citra baru tersebut dapat digunakan untuk memasarkan dan meningkatkan nilai sebuah kota. Kota yang gagal memasarkan dirinya akan menghadapi krisis ekonomi dan stagnasi.

PADA saat ini Jakarta memang tetap diminati masyarakat luar Jakarta, tetapi perlu diingat para peminat itu bukanlah peminat yang membawa bisnis, investasi, atau turisme yang dapat menambah devisa. Dapat dikatakan saat ini Jakarta berada pada kondisi city decay dynamics.

Krisis ekonomi, teror bom, penggusuran, dan banjir menambah buruk citra kota yang memungkinkan larinya investasi dan bisnis ke luar daerah. Sudah saatnya Jakarta membenahi diri dan memang membutuhkan usaha luar biasa dan biaya yang cukup besar. Untuk memulai pembenahan diri, mungkin Pemerintah Provinsi DKI bisa melakukan studi kasus pada Melbourne dan Bilbao.

Bilbao pada mulanya dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Spanyol dan memiliki industri besi dan manufaktur kapal. Citra kota tersebut menurun setelah terjadinya serangan teroris dan teror penculikan antara kedua pihak yang bertentangan saat itu, yaitu Pemerintah Spanyol dan kaum Basque. Akhirnya Pemerintah Kota Bilbao memutuskan mengambil langkah drastis dengan melakukan revolusi besar-besaran.

Didukung Uni Eropa, Pemerintah Spanyol dan Basque, pemerintah kota dan pihak swasta, berbagai macam kebijakan dalam bidang kebudayaan dan upaya pembaruan kota diluncurkan untuk mengubah citra Bilbao dari kota industri menjadi kota budaya dan jasa dengan bantuan arsitek internasional.

Dalam sekejap Bilbao menjadi kota kontemporer dan menarik, dihiasi jembatan dan bandara oleh Santiago Calatrava, jaringan kereta api dan stasiun oleh Norman Foster, kawasan komersial oleh Cesar Pelli, dan klimaksnya adalah Museum Guggenheim oleh Frank O Gehry. Sebagai tambahan, pemerintah kota juga memperbaiki fasad kota, merenovasi fasilitas pelabuhan, pembangunan jalur transportasi, dan revitalisasi Sungai Nervion yang mengalir ke pusat kota.

Kunci transformasi Bilbao tak lain tak bukan adalah Museum Guggenheim yang dibuka pada akhir tahun 1997. Museum tersebut terkenal dengan desain yang revolusioner dan ditutupi titanium dan mungkin menjadikannya sebagai salah satu bangunan paling populer pada abad ke-20 bersama-sama dengan Opera House di Sydney.

Pada tahun pertama pembukaan museum ternyata menarik 1,37 juta pengunjung dan memberi imbas pada ekonomi lokal sebesar 147 juta dollar AS pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 170 juta dollar AS pada tahun berikutnya. Dalam jangka waktu tiga tahun, pemerintah kota berhasil mencapai break even point untuk investasi pembangunan museum.

CONTOH menarik lain adalah Melbourne. Pada akhir dekade 1980-an, Pemerintah Kota Melbourne menyatakan diri bangkrut. Pada dekade tersebut Australia memang sedang dilanda krisis, yaitu jatuhnya nilai real estat dan tingginya pengangguran.

Pada tahun 1992 Jeff Kennett diangkat menjadi Premier (semacam gubernur) Negara Bagian Victoria menggantikan Joan Kirnier yang hanya memerintah dua tahun. Sebelum menjadi premier, Jeff Kennett berprofesi sebagai agen periklanan, profesi yang sangat membantunya dalam proses pembaruan Kota Melbourne.

Secara global, langkah yang diambil Jeff Kennett tak ada bedanya dengan Bilbao. Kennet merevitalisasi Sungai Yarra sebagai salah satu tujuan turis dunia, diikuti dengan proyek ambisius, seperti Museum Melbourne dan Melbourne Exhibition Centre oleh Denton Corker Marshall serta pembangunan Crown Casino di tepi Sungai Yarra yang konon kasino paling mewah di seluruh Australia.

Jeff Kennett dengan berani merebut jatah Adelaide sebagai pemegang lisensi penyelenggara balap mobil Formula 1 di Australia yang kemudian memicu perang dingin antara Negara Bagian Victoria dan South Australia. Upaya klimaks Jeff Kennett diakhiri dengan diadakannya sayembara desain internasional untuk pembangunan Federation Square pada tahun 1994.

Sayembara desain memang menjadi langkah terbaik guna mendapat desain kontroversial dan menarik. Dari sayembara internasional tersebut telah lahir dua bangunan ternama di Australia, yaitu Opera House di Sydney oleh Jorn Utzon dan Parliament House di Canberra oleh MGT. Pada bulan Juli 1997, LAB, firma desain dari London, diumumkan sebagai pemenangnya. Pada akhir tahun 2002, Federation Square dibuka untuk umum.

Apakah Federation Square bisa mengikuti jejak Museum Guggenheim atau Opera House, kita masih belum mengetahui jawabannya. Tetapi, langkah revolusioner yang diambil Jeff Kennett saat itu telah mengubah citra Melbourne menjadi Melbourne yang kita kenal kini.

Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa satu karya arsitektur dapat mengubah nasib sebuah kota, seperti Museum Guggenheim dan Bilbao, Opera House dan Sydney, atau Federation Square dan Melbourne. Mungkin hal tersebut terdengar sederhana, tetapi untuk mencapai seperti yang dicapai Bilbao diperlukan upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh kalangan dan intervensi pemerintah.

Elisa Sutanudjaja, ST M. Arch. Arsitek di Hassell Pty Ltd, Sydney, Lulusan Universitas Tarumanagara dan University of New South Wales