Seperti dimuat di Kompas, 16 Oktober 2005

Semakin berkurangnya lahan hijau dan menjamurnya hutan beton di Jakarta, membawa Jakarta ke dalam kondisi lingkungan yang parah.

Kesadaran sebagian penguasa dan pengembang yang kian hari semakin tidak peduli seakan menambah hamparan beton dibandingkan hamparan rumput hijau, saluran air beton dibandingkan resapan air atau hutan mangrove, dinding kaca dibandingkan tanaman merambat.

Pesatnya pertambahan penduduk dan arus urbanisasi menuntut perkembangan infrastruktur secara pesat, masif, dan gigantis. Untuk mengimbangi perkembangan yang mekanis dan nonorganik itu, sudah saatnya penduduk Jakarta menyadari pentingnya sepetak lahan hijau.

Singapura dapat menjadi contoh nyata. Perdana Menteri Lee Kuan Yew mendeklarasikan kampanye Green Singapore pada periode 1960-an. Tahun 1963 Lee mencanangkan kampanye gerakan penanaman pohon. Tahun 1992 Pemerintah Singapura mengeluarkan peraturan pemerintah, yaitu Singapore Green Plan yang menjadi salah satu dasar pembangunan infrastruktur.

Salah satu butir yang dicantumkan adalah Handbook on Skyrise Greening in Singapore sebagai penjabaran detail Singapore Green Plan, yaitu menyadari pentingnya penghijauan pada atap bangunan. Penghijauan ini diharapkan akan menurunkan suhu permukaan atap yang berbuntut pada pengurangan efek rumah kaca dan peningkatan kualitas udara sekitar. (Handbook on Skyrise Greening in Singapore dapat diakses di http://www.nparks.gov.sg/publications/handbooksg.shtml). Begitu besarnya niat Pemerintah Singapura menghijaukan kotanya, mereka mencantumkan pernyataan, ”We must look beyond the greening of available areas to a total greening concept where even buildings become complimentary components of the garden.”

Di belahan dunia lain, Musee du Quai Branly yang sedang dalam tahap konstruksi di Paris mengadopsi paham sama. Lokasi museum tersebut hanya berjarak beberapa ratus meter dari Menara Eiffel dan telah menjadi bahan perdebatan panjang antara pemerintah dan penduduk lokal. Untuk mengatasi berbagai perbedaan yang terjadi, akhirnya Pemerintah Kota Paris mengadakan sayembara desain yang dimenangi Jean Nouvel.

Nouvel mengambil pendekatan berbeda dari sebagian besar kontestan sayembara. Dia mendesain seluruh lokasi sebagai taman dengan mengambil ide dari hutan eksotis Amerika Selatan dan Pasifik. Bangunan museum sendiri didesain menyatu dengan lanskap, bahkan terkesan tersembunyi di balik lanskap yang luasnya 18.000 meter persegi. Fasad museum tersebut didesain seperti rumah kaca sehingga pengunjung dapat merasakan suasana ”menikmati karya seni di dalam hutan”.

Bagian bangunan lama Musee du Quai Branly juga seakan mengagungkan pentingnya lanskap. Sepanjang musim panas tahun 2004, fasad museum ditutupi 15.000 tanaman dari 150 spesies tumbuhan yang menutupi permukaan tampak bangunan seluas 800 meter persegi.

Diberi insentif

Secara hampir bersamaan, Tokyo juga mencantumkan gerakan penghijauan menyeluruh. Tokyo, sebagai kota terpadat didunia, sangat menyadari kebutuhan lahan hijau.

Perkembangan dan pertumbuhan kota yang demikian pesat, terutama didorong bertambahnya bangunan tinggi dan jumlah mobil di jalan raya, ternyata menimbulkan kenaikan temperatur 3 derajat Celsius dalam waktu 100 tahun. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Kota Tokyo adalah mewajibkan setiap bangunan bertingkat mengabadikan 30 persen dari atap bangunan sebagai areal hijau dan lanskap. Kebijakan itu berlaku juga di sebagian besar kota-kota di Jerman dan Swiss selama lebih dari satu dekade.

Bagi kota padat seperti Tokyo, keberadaan taman atap bangunan sangat penting bagi siklus ekologi. Sebelum kebijakan diberlakukan, air hujan hanya dibiarkan mengalir dan kemudian dibuang ke laut. Namun, dengan adanya taman di atap bangunan yang terencana, air hujan dapat disimpan dan kemudian dialirkan secara sistematis untuk kebutuhan pengairan.

Bagi negara empat musim seperti Jepang, taman atap dapat menjadi solusi bagi insulasi alami, baik pada musim panas maupun dingin, yang berakibat pada pengurangan pemakaian energi listrik.

Pemerintah Tokyo juga memberi banyak insentif bagi pengusaha yang bergerak di bidang konstruksi lanskap, dengan memberi keringanan pajak. Bagi pengelola gedung yang menolak menyediakan sebagian atapnya untuk taman atap dikenai denda cukup tinggi. Kebijakan itu juga diadopsi kota-kota besar Jepang lainnya, seperti Osaka, Fukuoka, dan Sendai. Di Osaka dan Sendai, pemerintah setempat malah memberi bantuan keuangan bagi pengelola gedung dalam pengadaan taman atap.

Salah satu bangunan menarik di Fukuoka yang mengintegrasikan arsitektur dan lanskap adalah Fukuoka Prefectural International Hall yang didesain Emilio Ambasz. Bangunannya terdiri dari 15 lantai dan menyerupai hamparan sawah terasering di Bali.

Ide Ambasz sangat sederhana, dia hendak memberi kompensasi bagi lahan hijau yang hilang akibat bangunan tersebut. Apabila dilihat dari sisi utara, maka bangunan tersebut bagaikan tangga dengan hamparan karpet hijau. Teras-teras berupa hamparan rumput hijau tersebut dapat diakses masyarakat dan menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk piknik atau makan siang.


Masih banyak contoh yang dapat diambil dari kota-kota besar dunia. New York sebagai salah satu metropolitan mengadakan simposium pada tahun 2002 bertajuk Greening Gotham“s Rooftops. Dari simposium tersebut dihasilkan studi Green Roof for NYC yang dimotori NASA dan Universitas Columbia. Model yang digunakan hampir sama dengan Singapura dan Jepang. Memang Amerika untuk masalah ini memulai lebih terlambat dibandingkan negara maju lainnya. Namun, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menulari kota-kota lain di Amerika.

Diterapkan di Jakarta

Dari beberapa studi kasus di atas, banyak sekali hal yang dapat diterapkan di Jakarta. Konsep taman atap dan tembok hijau seperti Musee du Quai Branly dapat diterapkan secara teknis di banyak tempat di Jakarta.

Bayangkan apabila ruko-ruko sisa kerusuhan Mei 1998 di sepanjang Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada memiliki tampak muka seperti Musee du Quai Branly, yang tentunya dapat menyejukkan mata pengemudi dan masyarakat sekitar.

Konsep dinding hijau ala Jepang dan Emilio Ambasz dapat juga mudah diterapkan di Jakarta, misalnya diterapkan di sepanjang bawah jalan layang yang panjangnya mencapai puluhan kilometer. Hal itu akan jauh lebih baik dibandingkan hanya memagari daerah di bawah jalan layang tersebut.

Bagi arsitek, contoh kasus seperti Musee du Quai Branly dan Fukuoka Prefectural International Hall dapat dijadikan bahan kajian sehingga lanskap tidak hanya menjadi pelengkap bangunan, namun dapat menjadi suatu bangunan.

Bukanlah mustahil apabila suatu saat Jakarta berubah menjadi hutan kota yang didominasi warna hijau tumbuhan, bukannya beton dan kaca.

Elisa Sutanudjaja, ST, MArch Arsitek