Seperti dimuat di Kompas, 20 Mei 2007

Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April sebaiknya diperingati lebih dalam dari sekadar seremonial belaka. Proyeksi horor yang mungkin terjadi pada Bumi sekitar 50 tahun mendatang dapat dilihat melalui film dokumenter “An Inconvenient Truth”.

Dalam film dokumenter pemenang Oscar 2007 itu, mantan Wakil Presiden AS yang kemudian menjadi aktivis lingkungan, Al Gore, menjelaskan tentang pemanasan global dan konsekuensi yang akan diterima Bumi.

Kota metropolitan sebagai lingkungan buatan merupakan salah satu kontributor terbesar gas penyebab pemanasan global, yaitu CO2. Kemacetan lalu lintas, emisi gas buang kota, hingga rendahnya rasio ruang terbuka hijau menimbulkan kenaikan suhu lingkungan bertahap. Pada akhirnya, metropolitan dan megapolitan yang kebanyakan terletak di sepanjang garis pantai akan menerima efek negatif terbesar.

Mungkin pikiran seperti inilah yang mendasari petinggi Bank of America memilih Cook+Fox mendesain gedung kantor Bank of America terbaru di Times Square, New York.

Mengambil citra berbeda daripada bank kelas dunia lain, Bank of America menyatakan komitmen mereka untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup.

Menyadari semua kegiatan perbankan mereka mau tak mau akan memengaruhi lingkungan hidup, Bank of America berkomitmen mengintegrasikan kebijakan berwawasan lingkungan dalam semua kegiatan operasional mereka.

Langkah berani mereka ditunjukkan dengan pembangunan menara terbaru yang konon akan menjadi bangunan tertinggi kedua di New York pada awal tahun 2008. Menara ini bukanlah sembarangan, di balik gemerlapnya paduan besi, aluminium, dan kaca, ternyata tersimpan upaya luar biasa untuk menyelamatkan lingkungan.

Peduli lingkungan

Dimulai dari hal paling dasar, yaitu bahan bangunan. Beton yang digunakan bukan beton konvensional, melainkan campuran antara 55 persen beton konvensional dan 45 persen sisa buangan peleburan besi (slag).

Perpaduan kedua bahan (yang bisa dikategorikan sebagai salah satu varian semen jenis portland) tersebut ternyata menghasilkan beton yang lebih kuat daripada beton konvensional.

Bahan bangunan daur ulang itu pun diperoleh tak jauh dari New York, sehingga turut mengurangi beban emisi gas buang yang ditimbulkan dari transportasi bahan bangunan. Pihak Cook+Fox sendiri mengklaim hampir 90 persen sampah konstruksi tersebut didaur ulang untuk digunakan lagi.

Tidak seperti bangunan kantor di Jakarta yang banyak menggunakan kaca laminasi, Bank of America menggunakan kaca tembus pandang pada keseluruhan fasad bangunan.

Penggunaan kaca tembus pandang mampu memaksimalkan intensitas cahaya matahari yang menembus ke dalam interior bangunan.

Kaca tembus pandang itu bukan kaca biasa, tetapi sebelumnya telah mengalami proses insulasi sedemikan rupa. Hasilnya, pada musim panas, panas matahari tidak terlalu menyengat penghuni di dalam bangunan tersebut. Insulasi yang sempurna tersebut juga akan mengurangi penggunaan AC pada musim panas dan pemanas pada musim dingin.

Menara ini juga dilengkapi sistem pengondisian udara unik. Pada saat gedung tidak digunakan, sistem ini akan bekerja membuat es yang kemudian digunakan untuk menurunkan suhu bangunan pada saat jam kerja.

Sebagai tambahan, menara ini juga menggunakan sensor CO2 dalam gedung dianggap cukup tinggi, maka sistem AC secara otomatis meningkatkan suplai udara baru. Pasokan udara segar tersebut didapat dari udara luar bangunan yang telah mengalami proses penyaringan. Pihak Bank of America mengklaim udara yang dikeluarkan dari dinding eksterior menara lebih bersih daripada udara sekitar.

Kaca tembus pandang itu juga memungkinkan penghematan pemakaian lampu pada siang hari. Penghematan didukung dengan pemakaian lampu LED yang diatur otomatis untuk mati pada pagi hari.

LED mampu menghasilkan cahaya lebih terang dan putih dengan hanya menggunakan 40 persen energi lampu biasa. Walaupun lampu LED lebih mahal daripada bohlam lampu biasa, tetapi umur pakai lampu LED bisa tiga kali lipat daripada lampu biasa.

Daur ulang

Gedung ini juga dirancang untuk mendaur ulang air. Air hujan tidak dibuang begitu saja ke riol kota, melainkan ditampung sementara di atap dan di basement yang kemudian didistribusikan ke tiap toilet dalam gedung. Air hujan juga digunakan untuk menyirami tanaman.

Pendistribusian ke toilet juga menggunakan empat pompa pada ketinggian lantai yang berjenjang sehingga mengurangi tenaga yang digunakan untuk mengangkut air.

Air dari wastafel dan toilet pun tak lepas dari proses daur ulang. Bedanya, air tersebut mengalami proses pengolahan lebih dulu sebelum digunakan untuk pendingin unit AHU. Sistem daur ulang air tersebut diharapkan akan menghemat penggunaan air kota hingga 40 juta liter per tahun.

Gedung tersebut akan dialiri listrik dari pembangkit listrik tenaga gas, yang tentu saja menghasilkan gas emisi lebih sedikit daripada pembangkit konvensional bertenaga batu bara. Konon, gas pembangkit listrik tersebut didapat dari gas sisa pengolahan sampah dan saluran kotoran. PLTG juga didukung kincir angin raksasa di atap bangunan.

Perencanaan kota

Teknologi yang luar biasa tidak berarti apa-apa tanpa perencanaan urban yang sesuai. Tata letak lantai dasar Bank of America didesain untuk mengakomodasi arus pejalan kaki tinggi para pengguna gedung dan masyarakat sekitar.

Untuk pembangunan menara ini, pihak Bank of America mengeluarkan uang tidak sedikit. Sudah menjadi rahasia umum gedung seperti Bank of America ini akan memakan biaya 10 persen lebih banyak daripada gedung konvensional. Namun, apabila dilihat dari penghematan yang mereka lakukan di hampir segala aspek, biaya tambahan 10 persen menjadi tidak berarti.

Bank of America bukanlah gedung pertama yang menggandeng teknologi hijau berkelanjutan di Kota New York. Ada beberapa gedung yang akan mulai beroperasi menggunakan teknologi berwawasan lingkungan, seperti 7 World Trade Centre, Hearst’s Headquarter oleh Norman Foster, dan New York Times Building oleh Renzo Piano.

Namun, terobosan yang dilakukan oleh Bank of America membuat US Green Building Council memberi sertifikat LEED (Leadership in Energy & Environmental Design) Platinum, sertifikat pertama yang pernah diberikan kepada gedung bertingkat tinggi.

Tentu saja proyek senilai 1,2 miliar dollar AS ini masih merupakan proyek angan-angan di Indonesia. Tetapi, tidak ada salahnya apabila pihak developer dan arsitek mulai melirik desain passive energy dan desain berkelanjutan.

Mulailah dari penerapan sederhana, seperti pengolahan air hujan dan air kotor, orientasi bangunan, dan penggunaan material tepat guna yang tentu saja dapat membantu penghematan energi.

Dengan cara ini, pada akhirnya gedung-gedung di Jakarta berangsur-angsur berubah menjadi kado indah untuk Bumi kita yang sudah uzur ini.

Elisa Sutanudjaja ST M.Arch., Arsitek