Seperti dimuat di Majalah Sketsa, Arsitektur Universitas Tarumanagara, 2006

Arsitektur di era tahun 60-an bertendensi pada warna abu-abu yang diterapkan secara brutal dengan penggunaan material beton. Pada era 80-an, penampilannya bergeser ke nuansa pastel dengan masuknya era postmodernisme. Dan pada masa kini, arsitektur telah berubah menjadi semakin ‘green’.

Strategi desain dengan memperhatikan lingkungan dan ekologi telah menjadi salah satu keharusan di beberapa bagian dunia. Dimulai dengan penetapan Agenda 21 di Rio De Janeiro hingga penerapannya pada komunitas kecil di negara maju, seperti contohnya Australia. Dengan adanya prinsip ESD (Environmentally Sensitive Design) dalam peraturan bangunan, mengharuskan firma yang berpraktik di Australia untuk lebih memperhatikan dampak rancangannya terhadap lingkungan dan begitu juga sebaliknya.

Desain yang berkelanjutan itu – atau Sustainability Design – mulai mencapai puncaknya pada penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas di Sydney tahun 2000. Memang sebelumnya beberapa arsitek telah menggunakan Sustainability Design sebagai landasan praktek mereka, seperti Emilio Ambasz dan Ken Yeang. Namun dengan terwujudnya tema Hijau dan Berkelanjutan dalam event sebesar olimpiade telah memberikan dampak yang besar bagi perkembangan arsitektur. Hal itu disebabkan karena begitu banyak masyarakat awam yang turut terlibat dalam prose situ.


Lalu, bagaimana caranya mendeskripsikan Sustainability Design ? Baden (1996) menjelaskannya dalam 1 kalimat yang sangat singkat, sebagai strategi desain yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mempengaruhi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang juga. Sebagai contohnya, eksploitasi besar-besaran pada lingkungan tentu akan mempengaruhi masa yang akan datang. Generasi yang akan datang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri jika lahan dan tanah mereka terdegradasi, hutan telah gundul atau sumber air telah kering atau terpolusi.

Sudah saatnya para arsitek untuk turut berperan dalam menciptakan suatu siklus berkelanjutan, tanpa meninggalkan nilai estetika. Sehingga mereka turut memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat kebanyakan, dan bukan hanya masyarakat tertentu saja.

Ada beberapa contoh menarik yang dapat kita tengok dari negara tetangga kita, Australia. Dimulai dari Olimpiade Sydney hingga master plan perumahan. Olimpiade Sydney dapat dikatakan sebagai corong kebijakan kelompok pemerhati lingkungan Greenpeace. Olimpiade Sydney juga merupakan Olimpiade dimana hampir seluruh fasilitas bernaung di satu tempat, yaitu Homebush Bay. Homebush Bay sendiri merupakan salah satu daerah yang paling tercemar di Sydney, dimana lokasi tersebut pernah digunakan sebagai lokasi industri berat yang kemudian ditinggalkan.

Ide Professor Lawrence Nield dan Linda Gregoriou untuk mengadakan suatu studi desain urban bersama, telah menghasilkan konsep dasar masterplan Homebush Bay yang baru. Sebuah usaha rejuvenisasi besar-besaran dilakukan untuk memperbaiki kondisi tanah tercemar tersebut, seperti yang diwujudkan pada Millennium Parklands dan Haslams Creek Wetlands. Millennium Parklands terletak diantara Homebush Bay dan sungai Parrmatta. Lokasi tersebut konon merupakan lokasi industri berat dan pembuangan sampah. Dan semenjak penyelenggaraan Olimpiade 2000, Millennium Parklands yang terdiri atas Bicentennial Park, Kompleks North Newington, rawa-rawa dan hutan mangrove, telah selesai proses remediasi, sehingga lokasi tersebut kembali ke fungsi semula, baik secara ekologis dan lingkungan. Firma desain Hassell, Peter Walker dan Bruce MacKenzie bersamaan mengajukan konsep dasar bagi pengembangan 500 hektar area Millenium Park. Yang menarik dari proyek tersebut, Hassell tidak hanya melakukan perubahan teknis belaka, tapi mereka tidak melupakan desain dan tema. Hassell mengangkat Millennium sebagai tema desain, dan kemudian diwujudkan dengan konstruksi spiral di beberapa titik tertentu, baik berupa pedestrian maupun instalasi.

Pada Millenium Parks juga diterapkan segmentasi berupa sistem terasering. Sistem terasering tersebut memiki multifungsi, dapat digunakan sebagai sarana hiking dan rekreasi, karena sistem tersebut dapat diakses oleh pejalan kaki, sepeda, hingga kursi roda. Lapisan bawah tanah terasering tersebut menyembunyikan tanah yang sebelumnya terkontaminasi. Pada koridor-koridor jalan tertentu, diletakkan sistem pool untuk air hujan dan air kotor yang kemudian akan diolah dan digunakan kembali dan disalurkan untuk menyirami jutaan tanaman yang tumbuh di Millenium Parklands.

Millenium Parklands juga merupakan tahap pembuangan terakhir tanah kontaminasi dari Homebush Bay, yang konon bervolume sebesar 1,5 juta meter kubik. Tanah kontaminasi tersebut justru menjadi pondasi dari sistem terasering, yang kemudian dilapis dengan batu-batu dan material organik.


Kini, Millenium Parklands terdiri atas 40 jm jalur pedestrian dan trek sepeda, rumah bagi 2,5 juta tanaman dan rumah baru bagi 10 macam spesies burung, serta menjadi contoh sukses pengolahan lahan tercemar.

Stadium Australia (sekarang bernama Telstra Stadium), yang merupakan stadium utama di Homebush Bay juga merupakan salah satu contoh menarik dari Sustainable Design. Firma lokal Bligh Voller Nield, merancang stadium yang fleksibel, terutama dalam perubahan kapasitas tempat duduknya. Penerangan pada beberapa tempat juga dirancang menggunakan lampu hemat energi dan bersumber dari pembangkit matahari. Lampu bertenaga matahari tersebut diletakkan di daerah pedestrian dan daerah sirkulasi. Koridor stadium tersebut juga tidak menggunakan pendingin udara dan hanya ruang-ruang tertentu dalam stadium tersebut yang menggunakan pendingin udara. Stadium tersebut juga memanfaatkan air hujan yang ditampung di 4 penampungan yang kemudian didistibusikan guna pengairan lapangan rumput dan toilet.

Proyek menarik yang dapat dijadikan contoh dari Olimpiade Sydney adalah Olympic Park Station. Sekitar 50 ribu pengunjung per hari olimpiade saat itu datang dengan menggunakan kereta. Dan stasiun tersebut dapat berfungsi dengan maksimal hanya dengan 4 platform yang ada. Stasiun tersebut berangkat dari ide sederhana yaitu keinginan untuk memberikan kemudahan bagi pengunjung yang datang dan pergi. Konsep tersebut diterapkan dengan baik oleh Ken Maher dan Rodney Uren dari Hassell. Apabila dilihat pada level tertentu, stasiun ini seperti terletak dibawah tanah, dengan hanya menyisakan bentuk atap diatas tanah. Namun tidaklah demikian apabila dilihat dari sisi pintu masuk.

Sirkulasi pada stasiun dibagi menjadi dua level, untuk kedatangan dan keberangkatan. Keseluruhan level tersebut dilayani oleh eskalator yang mudah dijangkau dan lift untuk kursi roda. Material pada lantai dilengkapi oleh penuntun orang buta. Sarana induction loops juga diterapkan untuk membantu orang yang menggunakan hearing aids.

Bentuk atap melengkung pada stasiun merupakan kekuatan utama dari desain stasiun tersebut. Bentuk atap tersebut mengambil bentuk daun, dan diletakkan sepnjang 200 meter. Pada setiap rangka kubah diletakkan skylight yang memungkinkan sinar matahari dan udara masuk. Stasiun ini juga tidak menggunakan pendingin udara, melainkan hanya bergantung dari sirkulasi udara yang mengalir dari bawah dan atas. Pada bagian dalam atap tersebut dilapisi oleh akustik panel aluminium putih dan semua penerangan berupa uplight yang kemudian dibiaskan oleh panel aluminium tersebut.


Contoh proyek lain yang menarik adalah Victoria Park yang terletak di bagian timur Sydney. Sebelumnya Victoria Park sempat menjadi trek balap mobil, pabrik ban, dan gudang militer. Dan pada tahun 1977, perusahaan real estate membeli lahan yang seluas 25 hektar tersebut dan bermaksud untuk mengubahnya menjadi area mix-used dan residential. Hal tersebut merupakan tantangan besar, mengingat Victoria Park merupakan area paling rendah di Sydney, dan menjadi langganan banjir tahunan.

Sebagai langkah menanggulangi banjir tahunan tersebut, desainer masterplan Victoria Park, Cox Richardson, mengambil langkah untuk membelah kompleks tersebut menjadi dua bagian. Kompleks tersebut dipisahkan oleh jalur utama yang satu garis dengan arah aliran air. Jadi ditimbang melawan banjir, mereka memilih untuk mengarahkan banjir kearah tertentu dan bahkan memanfaat air hujan.

Derasnya aliran air hujan dalam tanah dimanfaatkan sebagai fitur landscape yang didisain oleh Hassell dan DPWs (Department of Public Works) terletak dibeberapa lokasi dan pengairan seluruh vegatasi yang terdapat di taman tersebut.

Beberapa proyek tersebut hanyalah segelintir dari contoh usaha arsitek untuk bersahabat dengan alam melalui desain yang berkelanjutan. Dengan dibentuknya Australian Green Building Council, maka sangatlah mudah untuk mengetahui tendensi arsitektur negara tetangga kita ini. Mendesain dengan menghormati alam dan ekologi tanpa meninggalkan nilai estetis patut mendapat perhatian lebih.