Diskusi berkepanjangan dengan orang-orang basah, seperti sepupu saya dan adik saya, ternyata membawa pada banyak kesimpulan tentang air. Air di Jakarta tidak dikelola dengan benar, begitu pernyataan Edwin, adik saya yang sedang melanjutkan studinya di TU Delft. Adik saya, berdasar pengalaman tinggal di Sambas untuk salah satu proyek, mengatakan bahwa masyarakat tradisional disana sendiri mengerti teknologi dasar pengolahan air, mulai dari resapan sampai penampungan air. Sedangkan Jakarta yang jauh-jauh lebih maju, tiap 5 tahunnya banjir besar (dan sekali-kali banjir lokal) dan beberapa bulan sekali terkadang kesusahan air.

Jakarta tidak muluk-muluk seperti Singapore dengan NeWater-nya atau New York dengan gedung-gedung hijau nya, seperti Bank of America Tower di Times Square yang 100% mendaur ulang airnya.
Pemandangan seperti pipa air bocor di jalanan dan dibiarkan begitu saja, sering saya temui hampir tiap hari. Di sisi lain, pemandangan jalan Jayakarta yang selalu terendam air juga tak kalah menjadi ritual harian penghuni sekitarnya. Sebaiknya dua hal yang mendasar itu perlu diperbaiki dulu sebelum kita melihat dunia luar.

Sistem Pengolahan Air ala VictoriaPark

Sedikit fakta mengerikan tentang kondisi air dunia:

1. Time, 2 Mei 2007, Can Weather Cause War ?
Salah satu penyebab konflik di Darfur tak lain dan tak bukan adalah perebutan sumber daya air.
Dan ternyata setelah WW2, telah terjadi 40 insiden antar negara disebabkan karena masalah air (UNDP).

2. Indonesia sangat beruntung menjadi negara kepulauan dan terpisah dari dataran benua. Coba bayangkan seperti negara-negara Afrika bagian Utara dan Timur Laut dengan jumlah total penduduk 150 jt yang bergantung pada Sungai Nil. Atau negara-negara seperti Kenya, Tanzania dan Uganda yang bergantung pada Danau Chad. Buat yang sudah nonton An Inconvenient Truth mungkin familiar dengan salah satu adegan yang memperlihatkan surutnya air danau hingga tinggal 1/10 nya dalam tempo waktu 40 tahun ! (Time, An Inconvenient Truth, UNDP)

3. Saat ini sekitar 1.1 milyar penduduk dunia tidak memiliki akses air bersih, dan sebagian besar penduduk minim akses air tersebut didominasi oleh wanita dan anak-anak (UNDP)

4. 1 dari 5 orang di negara berkembang hidup dengan air kurang dari 20 liter per hari, sedangkan penduduk negara maju hidup dengan air 200-300 liter/hari. Bahkan penduduk Amerika lebih boros lagi 575liter/hari (UNDP)

5. Penduduk negara berkembang, seperti Indonesia, Philipina dan banyak negara di Amerika Selatan membayar air 5-10 kali LEBIH MAHAL dibandingkan penduduk negara kaya.
Contohnya: saya membayar air 16.000/m3 = 1.8USD/m3 sementara sepupu saya di LA membayar air hanya 0.2USD/m3. Ditambah lagi, penduduk Jakarta harus mengeluarkan tambahan uang untuk membeli air galon.

6. Mengapa sepupu saya bisa membayar lebih murah ? Karena pemerintah California mensubsidinya secara besar-besaran, dan bukannya seperti Indonesia yang mensubsidi bahan bakar, hehe. Argumennya mudah, orang akan mati kalau tidak minum air.
Sedangkan Indonesia sendiri menyerahkan air pada Thames dan Lyonaise (Suez Group) yang tentu lebih profit-oriented dan banyak hutangnya.

7. Kenapa banyak sawah yang kering ? Karena kemarau panjang ?? Jangan salah, belum tentu karena cuaca. Tak lain dan tak bukan industri besar terkadang menyabot aliran air irigasi sawah (UNDP).

8. Adakah hubungan antara air dan tingkat pendidikan ? Ternyata ada. Anak-anak di Afrika itu bukannya tidak mau sekolah dan tidak ada sekolah, tetapi mereka terpaksa harus jalan jauhhhh sekali untuk mengambil air, jadi pada akhirnya mereka tidak sempat sekolah. Air yang buruk (secara kualitas dan kuantitas) pula lah yang menyebabkan angka kematian no 2 bagi anak-anak.
Dan tentu saja kelangkaan air menyangkut gender, karena tugas wanita (kebanyakan di Afrika) salah satunya adalah mencari air. (UNSGAB)

9. Banyak sungai besar di dunia, dalam jangka waktu 20 tahun akan surut, saking parahnya malah tidak akan bermuara lagi di laut. Termasuk diantaranya adalah Sungai Mekong, Sungai Kuning dan Sungai Colorado.
California, yang hidupnya tergantung pada sungai Colorado, mulai mencari sumber lain, yaitu dengan desalination plant. Teknologi ini tidak hanya populer di negara-negara Arab, tapi mulai populer juga di China, India, Australia dan Singapore.

Singapore mulai merintis riset desalinasi sejak puluhan tahun lalu, dan kebetulan sepupu saya mendapat kesempatan riset disana juga. NeWater, adalah hasil riset desalinasi Singapore, yang diharapkan akan menghapuskan ketergantungan impor air dari Malaysia.
NeWater sendiri mengalami 4 proses sebelum air tersebut aman untuk diminum, mulai dari proses penyaringan tradisional (seperti yang dilakukan oleh PAM), dilanjutkan dengan penyaringan mikro (penyaringan bakteri); desalinasi dan terakhir penyinaran UV.
Konon air yang dihasilkan diatas standar air olahan PUB (Pam-nya Singapore) yang notabene diimpor dari Malaysia. (NeWater, Newsweek)

Ketika saya mengetahui fakta-fakta diatas dari berbagai macam buku dan majalah, ada banyak perasaan yang timbul. Rasa takut dan seram ketika membaca laporan UNDP, rasa skeptis ketika ngobrol dengan Edwin, penuh harapan ketika membaca NeWater, serta optimis ketika membaca Newsweek.
Tapi intinya hanya satu, jadikan akses air sebagai hak asasi manusia🙂