Sebetulnya saya hanya beberapa kali mengunjungi pasar ini. Kali pertama adalah waktu saya harus survey mengenai TANGGA di hotel Gran Mahakam ketika masa kuliah dulu sebagai bagian dari Tugas Teori Arsitektur 3 Pak Gunawan Tjahjono.

Hari itu masih tergambar jelas di ingatan saya, bahkan detil ke tanggal berapa saya survey, yaitu tanggal 12 Mei 1998 (Siapa yang tidak tahu tanggal terkenal itu, terutama alumni Trisakti?).
Kami pergi bertiga, saya, Palar (teman baik sejak SD), dan Robert menumpang mobil Robert. Sebelum sampai ke hotel Gran Mahakam, kami mengunjungi beberapa tempat lain yang sekiranya memiliki tangga yang Grand, mulai dari Hotel Mulia sampai Grand Hyatt. Dan kunjungan terakhir kami saat itu adalah Hotel Gran Mahakam.

Kami diterima dengan amat sangat ramah oleh manager hotel, dan bahkan diberi tur ke kamar-kamar mereka, begitu mereka tahu kami adalah mahasiswa arsitektur. Setelah puas mengambil foto-foto tangga (walaupun tidak se GRAN nama hotelnya) akhirnya kami memutuskan iseng-iseng jalan disekitar hotel.

Ketika itu kami melihat ada pasar yang menjual bunga didekat hotel. Tak hanya bunga, mereka pun menjual burung dan buah, serta ikan. Akhirnya kami memutuskan melihat-lihat disitu. Lucunya tidak ada satupun yang tahu nama pasar itu.

Pengalaman tersebut sangat mengesankan, apalagi untuk Palar dan Robert yang suka fotografi dan setiap saat jepret sana sini, entah habis berapa roll. Kami pun mengelilingi pasar ini yang berbentuk melingkar (Pasar Burung juga berlokasi di taman sebelah Pasar Bunga&Buah&Ikan). Setelah mengelilingi pasar, salah satu dari kami melihat ada gang kecil menuju ke bagian belakang Pasar.

Entah kenapa, kami bertiga masuk, setelah minta ijin pedagang sekitar gang. Dan ternyata kami menemukan sesuatu yang mengejutkan. Dibalik deretan kios mungil ada Oasis yang demikian teduh, asri dan nyaman. Seluruhnya dikelilingi pohon-pohon besar, taman berbentuk lembah, dan ada danau kecil yang mengalir (sepertinya air tanah). Seperti melihat kepingan hutan alam dipindahkan kebalik kios-kios pasar. Buat saya, inilah Nirwana nya Jakarta, walaupun berskala kecil, sekejab semua rasa capek sehabis keliling Jakarta itu hilang seketika.

Setelah itu saya tidak pernah kembali ke oasis itu. Saya hanya pernah berhenti beberapa kali membeli bunga dan setelah itu pergi. Setelah saya pergi biasanya saya baru teringat, kenapa saya tidak mengunjungi nirwana mungil itu lagi. Sampai akhirnya beberapa hari lalu saya membaca di Kompas, bahwa Pasar Barito akan direlokasi. Dan hari Kamis kemarin mulai dibuldozer, Jumat kemarin pula puing-puing mulai dibersihkan.
Gambar diatas memperlihatkan puing Pasar Barito, buldoser dan pohon rindang.

Dan hari ini pun saya membaca lagi, bahwa eks lokasi Pasar Barito itu akan dijadikan taman bermain anak-anak dan ada air mancurnya. Dan Kepala Sub DTK Jaksel pun berjanji tidak bakal ada bangunan komersial disitu, murni ruang terbuka hijau.

Relokasi selalu bagaikan 2 sisi uang. Disatu sisi berhadapan dengan keadilan sosial dan kerancuan hukum (mengingat Pasar Barito itu diresmikan oleh Gubernur Ali Sadikin). Di satu sisi publik mendapat keuntungan, yang tadinya taman tersebut tersembunyi dan seakan lenyap dari pandangan, kali ini dapat dinikmati oleh warga sekitar. Namun kawasan Barito Mahakan kini pun kehilangan salah satu identitasnya, bersamaan dengan pindahnya para pedagang tersebut ke Radio Dalam yang hectic.

Kredit:
Foto diambil dari situs http://www.eljohn.net dan http://www.kompas.com