Apa bedanya Sydney 2000, Athens 2004, dan Beijing 2008 ?

Sydney 2000 menjadi benchmark kesuksesan olimpiade berikutnya, terutama secara tema, konsep dan arsitekturnya. Sydney 2000 begitu sukses dengan Green Olympicnya. Menghadirkan suatu multi-used complex di Homebush Bay yang notabene adalah area pembuangan sampah kimia dimasa lampau yang disulap demikian cantiknya sehingga pengunjung yang mampir tidak percaya asal muasal Homebush Bay adalah sama dengan Bantar Gebangnya Jakarta.

Bagaimana caranya mereka bisa mengubah Homebush Bay menjadi area dan perkampungan Olimpiade yang kita kenal sekarang. Mereka memindahkan semua lapisan tanah yang tercemar ke area disamping Homebush, yang sekarang dikenal sebagai Millennium Parklands. Tidak berarti lapisan tanah itu hanya dipindahkan begitu saja, tapi melalui proses pemurnian dulu yang tidak bisa saya jelaskan secara detail.
Apakah itu berarti hanya memindahkan masalah ? Tidak. Di Millennium Parklands itu mereka menimbun sampah dari Homebush, lalu lapisan tanah tercemar dan yang terakhir adalah tanah yang baru. Yang muncul adalah 3 danau reservoir yang indah serta jalus jogging & bicycle track yang menantang. Luar biasa kan, mungkin Jakarta perlu sedikit belajar dalam hal menangani Bantar Gebang.

Mereka juga begitu percaya diri dengan firma arsitektur lokal, dengan menunjuk lebih dari 10 firma lokal untuk mendesain mulai dari tiang lampu hingga Australian Stadium, walaupun yang terakhir ini BVN harus berkolaborasi dengan HOK dari Amerika. Mulai dari Hassell yang mendesain Olympic Station, Cox yang mendesain berbagai macam fasilitas mulai dari Sydney Superdome sampai Aquatic Centre. Yang luar biasa dari design itu, selain cantik tentunya, adalah betapa hampir semua fasilitas tersebut bekerja secara prinsip sustainble dan memperhatikan lingkungan sekitarnya. Seperti contohnya Olympic Station yang tidak memiliki AC sama sekali dan hanya memiliki 4 jalur kereta, tapi mampu mengakomodir ribuan hingga ratusan ribu orang setiap harinya selama 2 minggu olimpiade.

Usaha penyelenggara tidak berhenti disitu saja, mulai dari mempercantik Internation Airport hingga Qantas Domestic Airport.
Hingga kini, Sydney 2000 disebut-sebut sebagai olimpiade paling sukses, bahkan Athena pun tidak bisa mengalahkan kesuksesan Sydney.

Athens 2004, apa yang bisa diceritakan lebih jauh dari olimpiade ini ? Lalu lintas disana kacau, betul. Persiapan acak adut dan beberapa hari sebelum opening ceremony masih melakukan pekerjaan fisik, itu juga betul. Santiago Calatrava mendesign stadium yang luar biasa indahnya, itu lebih betul lagi. Tapi apalagi yang bisa ditarik dari Athena ?
Athena memang mengalami sedikit kesialan dengan adanya peristiwa Sept.11-2001. Mereka harus sedikit berjalan ditempat dengan peraturan regulasi keamanan yang aneh-aneh. Mereka terpaksa membongkar ulang masterplan yang ada, memastikan kalau perkampungan atlet cukup aman, sehingga Athena bisa berjalan lancar tanpa perlu ada Black September – The Sequel.
Ok, tapi tidak sesukses Sydney.

Beijing 2008, yang ini merupakan proyek gila-gilaan pemerintah China – selain Three Gorges yang kontroversial, sehingga saya sendiri cukup bangga sebagai orang Asia.
Inilah saatnya orang-orang non Asia menengok dan melihat betapa majunya ras Asia. Mulai dari proyeksi pemerintah untuk menjadi juara umum sampai ambisi mereka untuk lebih sukses, lebih hebat dan lebih meriah dibandingkan Sydney.
Siapa yang kecipratan rejeki, tentunya firma-firma Australia yang sukses dengan olimpiadenya tersebut. BVN dengan masterplan Beijing Olympic (walaupun HOK yang menang), lalu PTW dengan National Aquatic (gambar dibawah) yang seperti bubble, hingga proyek-proyek diluar olimpiade.

Penyelenggara juga meng bench mark Sydney sebagai ukuran. Mereka menyadari bahwa kompleks Olimpiade mereka berada pada ring 4 (tiap ring Beijing berjarak lebih dari 30km), sehingga mereka musti memperbaiki transportasi dan membangun ring 4. Airport, tentu harus diupgrade, sehingga dipanggillah Sir Norman Foster yang sukses dengan CLK Hongkong. Konon bentuknya mirip naga kalau dilihat dari atas, namun pendapat saya pribadi sih, ahhh gak .. malah mirip CLK Hongkong, hehehe.

Lalu siapa nih yang design stadiumnya. Setelah diadakan kompetisi internasional akhirnya ‘sarang burung’ lah yang menang. Arsiteknya adalah duo dari Basel, Herzog De Meuron, peraih Pritzker Prize 2001.
Mereka menyebutnya sebagai sarang berkumpulnya manusia dunia, saya sih simple saja, ruwet banget. Tidak seperti desain desain Herzog yang sangat tegas dan clear kali ini kita menghadapi simpul dan jalinan layaknya si burung yang membuat stadiumnya.

Apa yang perlu dikritisi dari Beijing ? Mereka begitu melihat dunia diluar China, sampai yang saya takutkan adalah mereka melupakan siapa mereka sih sebenarnya ? Memang saya tidak mengharapkan sesuatu yang kayak klenteng bakal ada di kompleks olimpiade, tapi saya mengharapkan lebih banyak dari firma lokal untuk mendesain dari budaya mereka bukannya melihat bagaimana Australia atau Inggris mendesain.

Yang ada di Beijing saat ini adalah pameran arsitektur import, bangunan disana didominasi oleh firma luar dan seakan mengesampingkan arsitektur lokal, padahal olimpiade adalah justru menjadi ajang untuk menunjukkan identitas dan kebanggaan sang tuan rumah.