Sebelum tahun 2007, saya belum pernah menemui panduan perumahan berkelanjutan berwawasan Indonesia khususnya di Jawa, hingga tahun lalu disertasi Tita sampai di tangan saya, setelah melalui perjalanan Delft – Amsterdam – Jakarta – Cirebon dan Jakarta lagi. Kemudian, saya menghabiskan beberapa saat untuk menyelesaikan buku berdominasi warna hijau tua tersebut karena ketertarikan saya yang tinggi terhadap topik disertasi. Ketika saya membuka mata kuliah Sustainable Development and The Urban Environment, sudah ada 2 orang yang saya incar untuk memberi mata kuliah umum, yaitu teman saya Aida di Semarang untuk bidang passive design dan Tita untuk disertasinya.

Lalu apa sebenarnya isi kuliah kemarin dan sekilas isi disertasi Tita (disamping yang telah saya review) ? – tidak semua slide saya tampilkan disini

(Slide 3) Tita membuka kuliah dengan perkenalan akademis. Kemudian berlanjut ke latar belakang disertasi dan pendekatannya. Latar belakangnya adalah melihat kondisi lingkungan Indonesia, yang rentan bencana baik alam maupun yang ditimbulkan oleh manusia. Juga menilik bahwa terkadang bangunan pengganti yang didirikan oleh pemerintah ataupun NGO terkadang tidak sesuai dengan masyarakat.
Yang kedua adalah mengenai partisipasi masyarakat, yang dianggap menjadi kunci penting dalam proyek tersebut.

Tita memberi sedikit latar belakang mengapa partisipasi komunitas (baik itu di pihak masyarakat maupun akademis, dll) sangat penting dengan memberi studi kasus dari Kamboja: bantuan sepihak berupa kaki prostesis dari Amerika menjadi tidak berguna begitu diterapkan di masyarakat Kamboja, dibandingkan sebuah solusi yang dinamai Demotech, dimana solusi tersebut mengangkat kemampuan si pengguna untuk menolong dirinya sendiri.

Tidak seperti prostesis hasil bantuan dari Amerika yang mahal, Demotech justru menawarkan desain prostesis yang berasal dari material lokal dan harga terjangkau sekaligus disertai guideline yang mudah dimengerti oleh si pasien dan pembuatnya.

Akhirnya disimpulkan beberapa hal, bahwa metode untuk mengerjakan ‘sesuatu’ secara berkelanjutan itu haruslah seperti 5 point yang ada di slide 1. Kemudian isi presentasi tersebut akan dibagi menjadi 4 bagian besar: (1)Determine ‘Sustainable Housing’ for Indonesia; (2)Determine the current levels; (3)Bamboo: a sustainable material?; (4)Produce a communication tool

(Slide6)Apakah itu pemukiman berkelanjutan di Indonesia ? Berangkat dari beberapa guideline dan pengertian menurut Eropa dan Amerika, disimpulkan bahwa seluruhnya itu sebenarnya mengarah pada hal yang sama.

(Slide7) Sehingga ada poin2 diatas yang menjadi aspek-aspek pada bangunan berkelanjutan – Sustainable Building – berdasar National Measures for Sustainable Building.

(Slide8)Dalam penentuan indikator tersebut, Tita juga berangkat dari pemahaman terhadap Sustainable Development (dengan 3P nya – People, Planet, Prosperity dari Earth Summit 2002) dan dalam proses (Project = sustainable housing) akan dihasilkan 4P dengan aspek bangunan berkelanjutan seperti diatas. Apabila dikutip dari disertasinya, Sustainable Building is: Sustainable Building results in buildings that are designed and constructed with high ecological standards (especially in minimizing waste and negative environmental impacts, and efficient use of energy, water and material resources), that are within the economic means of the occupants and promote their well-being (Larasati,30)

(Slide11)Lalu apa yang menjadi indikatornya ? Sebagai indikatornya, yang dipilih adalah metode DCBA yang dikembangkan oleh BOOM. Penjelasan singkat mengenai DCBA dapat dilihat di slide atas.

Berlanjut ke Bagian 2.