Awal mula pun sepele, ketika siang tadi terpekur diantara kemacetan – menatapi orang-orang menyeberang dari halte TransJakarta ke Pasar Baru atau sebaliknya. Lalu menatap sedikit keatas – terbentang jembatan penyeberangan ketiga arah berbeda.

Tiga belas tahun lalu, saya memakai kendaraan umum, saya menyeberang di zebra cross, saya naik turun tangga jembatan penyeberangan. Saya melotot pada si pengemudi mobil atau motor kalau mereka justru mempercepat lajunya ketika saya ingin melewati zebra cross – karena pemahaman egoistis yang tertanam dalam diri saya selama ini, seharusnya mereka yang lebih cepat dan bermesin memperlambat lajunya – dan saya berhak mendapatkan perlakuan seperti itu karena saya menyeberang di tempat yang menjadi priviledge kami para penyeberang dengan kakinya.
Saya naik turun jembatan penyeberangan sambil mengutuk pemda, karena mereka membiarkan saya kehujanan, kepanasan, atau ketakutan di waktu gelap.
Saya benci ketika melihat ada lantai jembatan yang berlubang – sehingga saya harus berjalanan bukan menikmati pemandangan sekitar malahan melihat ke bawah.
Saya pun harus bersaing dengan pedagang kaki lima – dan saya pun disalip sepeda motor diatas jembatan penyeberangan.

Saya naik kendaraan umum – saya kehilangan set rotring disana, mereka memberhentikan saya bukan pada tempatnya, dan mereka terkadang berjalan seakan sedang bertanding dengan kura-kura. Lucunya, ketika saya menunggu di halte Grogol, yang saya tunggu malah berhenti di jalur cepat atau 50 meter dari halte.

Saya jengkel karena dari halte Taman Anggrek harus berjalan diatas trotoar yang dikuasai oleh bukan pejalan kaki, harus kehujanan dan kepanasan disaat saya sudah berdandan cantik. Dan betapa tidak ramahnya bangunan itu, ketika saya harus memutar seperempat Taman Anggrek demi memasuki pintu masuk terdekatnya – sementara pintu masuk untuk mobil berlimpah demikian banyaknya.

Saya langsing berkat jalan kaki jauh dari depan kompleks kantor tempat saya kerja. Namun diakhir bulan betis saya tak ada ubahnya dengan abang tukang becak. Saya kagum karena hanya ojek saja satu-satunya kendaraan umum di Taman Palem – tempat saya memulai karier sebagai arsitek.

Enam tahun lalu saya meninggalkan neraka pejalan kaki ke surga pejalan kaki. Empat tahun lalu saya bertekad – tidak ada lagi neraka. Apabila kota tidak ramah, mereka tidak ramah, bangunan tidak ramah, perlukah saya ramah juga ? Kesabaran pun ada batasnya. Saya belajar menyetir dan dua bulan kemudian meluncur kemana-mana dengan mobil kesayangan.

Dua tahun lalu saya mencoba naik TransJakarta ketika ada kunjungan studi dengan mahasiswa ke Museum Nasional – setelah beberapa waktu sebelumnya kapok dengan TransJakarta karena kaki saya terjepit pintu untuk waktu lama dengan petugas yang hanya bisa bengong melihatnya.

Tujuh jam lalu saya berada di belakang setir – mengutuki penyeberang yang lenggang kangkung didepan, sementara jembatan diatasnya kosong melompong.
Tak lama kemudian, saya memaki dalam hati ketika sepeda motor seenaknya berhenti di jalur belok langsung.
Tak jauh dari situ, mikrolet berhenti dan voila! dua penumpang wanita turun tepat di tengah jalan.

Sayang, saya tidak pernah menjadi pengemudi sepeda motor, kernet bus, supir bajaj dan supir mikrolet. Entah apa yang mereka teriakkan, makikan atau keluhkan didepan setir mereka. Saya bersyukur karena saya bukan supir bus TransJakarta yang ‘tidak’ sengaja menabrak penyeberang jalan atau sepeda motor yang ‘sengaja’ menerabas jalur khusus.
Saya pun tidak tahu bagaimana rasanya menjadi polisi dan petugas DLLAJR, tidak pernah pula merasakan duduk di belakang meja menjadi pengambil keputusan untuk memberi perijinan superblok baru ditepi bantaran sungai.
Saya juga bukan estimator kontraktor jalan yang harus memperhitungkan anggaran antara ‘pelicin’ dan aspal.
Bukannya mustahil bila semua insan di jalan Jakarta menderita setiap harinya, terlepas dari umur, status, ras hingga tingkat pendidikan.

Apakah harus hancur dulu baru kami bisa nyaman ?

Apakah memang tidak ada solusi hingga perlu revolusi ?
Sepertinya memang pelaku jalan hanya menjadi bahan eksperimen keseharian hidup.

Kami, the everyday humanthe ordinardy man, penderitaan kami tanpa representasi.

Di jalan Jakarta ini kami bukanlah pelaku demokrasi.