Saya mulai muak melihat iklan berbagai real estate yang begitu menjamur dan mewabah sambil mengusung tema-tema pemanasan global, arsitektur hijau dan gaya hidup hijau. Apalagi beberapa hari lalu saya baru saja melihat iklan 1 halaman yang mempromosikan Mega-Suburb (dengan tagline Living In Harmony dengan berbagai nama proyek berbau hijau) di Barat Jakarta. Dan sebetulnya Mega-Suburb tersebut kurang layak membawa embel-embel Jakarta – loh kan letaknya sudah di propinsi Banten, bukan di DKI Jakarta lagi.

Seperti biasa, dalam soal tren arsitektur, Indonesia agak terlambat dibandingkan negara-negara tetangganya. Ketika Ken Yeang (Malaysia) sudah lepas landas dengan Menara Mesiniaga yang diklaim sebagai bioclimatic design di tahun 1991-1993, ada dimanakah kita? Memang betul Wisma Dharmala Sakti oleh Paul Rudolph telah berdiri sejak tahun 1988 di Jakarta – tapi itupun hanyalah pengecualian, karena setelah itu minim pembangunan gedung bertingkat yang adaptif terhadap iklim Indonesia. Memang secara bentuk, Dharmala Sakti yang brutalis susah dibandingkan dengan Mesiniaga yang demikian memperhatikan efisiensi dan pemanfaatan iklim secara maksimal. Berikutnya yang mewarnai jalanan utama Jakarta adalah deretan gedung-gedung berkaca, dibentengi oleh pagar-pagar, sekaligus meminimalisasi kontak penghuni gedung dan lingkungan sekitar.

Diatas hanyalah secuil contoh.

Suburbanisasi yang diwujudkan dengan munculnya perumahan real estate di daerah pinggiran Jakarta, seakan menjanjikan apa yang disebut Impian Jakarta ( seperti AS dengan American Dream dan aglomerasi suburb nya). Hal itupun didorong dengan semakin mahalnya harga tanah dan memburuknya kualitas lingkungan hidup. Pada akhirnya mendorong sebagian masyarakat Jakarta untuk menetap di pinggiran Jakarta (termasuk saya 2 tahun yang lalu).
Padahal perpindahan mereka tanpa diikuti dengan perubahan pola hidup dan jejaring hidup justru merupakan asal mula kotak pandora baru.

Pertumbuhan real estate di area suburban dan rural tentunya tidak dibarengi dengan pertumbuhan fasilitas, infrastruktur maupun integrasi zoning kota. Ditambah lagi, para developer tersebut bertendensi pada perkembangan suburban di Amerika Serikat – yang tentu saja merupakan rumah dari Megaburbia – suburban sprawling. Contoh paling mudah adalah kawasan Lippo Karawaci dan Bintaro. Perhatikan beberapa hypermarket dan pusat perbelanjaan yang tersebar di Bintaro, dengan lahan parkir tak kalah ekspansif dengan parkir Wal-Mart di berbagai suburb Amerika. Dengan pemikiran bahwa harga tanah di suburb lebih rendah dibandingkan pusat kota, tentu saja developer ‘agak’ semena-mena (seperti contoh diatas).
Tapi mereka lupa, kalau tanah itu tidak hanya dibanderol secara rupiah, tapi juga memiliki NILAI EKOLOGIS, yang tidak bisa dirupiahkan, didollarkan atau diemaskan.

Kembali ke judul dan kalimat diatas.

Saya merasa ‘sedih’ betapa fakta pemanasan global justru diangkat sebagai tema pemasaran para developmer. Coba sebutkan satu saja developer (suburb) yang tidak memasukkan unsur-unsur hijau dalam nama proyek terbarunya. Walaupun bukan menjadi namanya, tapi minimal memasukkan unsur hijau dalam tagline nya. Pada akhirnya ISU Pemanasan Global berubah menjadi TREN, tak ada bedanya ketika dekade sebelumnya para developer dilanda demam Mediterrania dll.

Kenapa bisa saya klaim demikian, gambar diatas adalah salah satu contoh termudah. Diatas sekiranya adalah salah satu proyek komersial baru di perumahan yang selalu menggembar-gemborkan gaya hidup hijau dan bersahabat dengan lingkungan. Cermati dengan baik, bagaimana cara penghuni suburban itu untuk datang ke pusat komersial itu ? Hmmm, tidak ada halte; hmmm, tidak ada pedestrian; Sepeda mungkin – eh tidak ada jalur sepeda. Hmmmm, yang ada lapangan parkir dengan luas sebesar deretan ruko didepannya. Hmmm, ada tanah kosong didepannya, yang jelas tanah itu bukan untuk resapan air, karena pasti bakal dibangun kompeks ruko baru. Hmmm, kalau begitu, cara saya kesitu HARUS DENGAN MOBIL PRIBADI !

Kalau dilihat lebih detil lagi, hadap kemana ya bangunannnya ? Area parkir beraspal pun saingan dengan besaran rukonya. Berarti dimanakah si air harus meresap ? Dan kecuali pihak developer tersebut menggunakan Uchimizu Pave (yang mampu mengurangi panas yang ditimbulkan kontak radiasi sinar matahari dengan permukaan keras) – yang jelas aspal di sepanjang area parkir dan sirkulasi itu menjadi kontributor efek rumah kaca.

Atau satu lagi dari developer lain seperti gambar dibawah ini:



Apakah dengan menempatkan sembarang pohon di berbagai tempat berarti mereka berhak membawa tagline Living In Harmony ? Dan sedihnya dalam penjelasan di website mereka, tertulis sebagai berikut: An impressive 42 Ha of green pastures ready to be transformed to the next busiest Central Business District in Jabodetabek. Not too worry, Sunburst is located at the heart of BSD City, where traffic and transportation infrastructures are neatly and efficiently mapped out for a much comfortable and safe driving. BSD City is conveniently accessible by 2 main Toll Roads from the West and the South, and strategically located close to South Jakarta’s business centers.

Klaim diatas berasal dari pengembang yang turut membangun produk seperti dibawah ini:


Dan, tak perlu mulai dengan membahas cluster-cluster hunian yang mengklaim dirinya sebagai developer ‘hijau’. Kalau hal tersebut dibahas, maka entri ini akan berubah menjadi essay 10 halaman.

Singkatnya begini, baik bilanya mereka mengklaim desain rumahnya sebagai sangat ‘HIJAU’: ada panel surya lah, ada resapan air lah, atau ada yang mengaku akan daur ulang air, ada roof garden lah, etc etc. Tapi sepertinya para developer itu perlu disekolahkan lagi, bahwa Livable City/Sustainable City/Green City or whatever itu tidak hanya membutuhkan keseimbangan ekologis saja, tapi juga secara sosial dan ekonomi. Betapa sempit pemikirannya, hanya berhenti sampai di ‘aksesoris’.

Dan saya bakal tidak bisa berhenti apabila berlanjut ke proyek-proyek yang berlokasi di bekas hutan bakau atau lahan reklamasi. Untungnya saya belum menemukan bukti bahwa mereka para terdakwa perusakan hutan bakau ini mengusung tema hijau dalam penjualan McMansions mereka.

Memang tidak semua suburb community jelek, seperti contohnya di Amerika Serikat – dengan Woodlands di Houston. Dan kota metropolitan pun tak kalah bersaing dengan suburb-suburb dalam kontribusi pemanasan global. Metropolitan pun memberi kontribusi dengan Urban Heat Islands nya.

Tapi perkembangan dan mewabahnya suburb di tepian Metropolitan Jakarta semakin mengkhwatirkan. Bukannya tak mungkin apabila tidak dikendalikan, daerah penyangga metropolitan pun habis dibabat oleh suburb-suburb itu. Bukannya tak mungkin mereka membebani kota induknya (Jakarta) diperparah dengan ketidakmampuan Jakarta menyajikan solusi infrastruktur yang efisien dan efektif.

Karenanya, wahai kalian developer, malulah kalian menyandang embel-embel hijau.

Dan, ya, saya memberikan alasan bagi kalian para developer untuk memulai studi ke Eropa. Familiar dengan Smart Growth ? Apabila kalian tidak mampu menghentikan rasa lapar terhadap pembukaan lahan, tengoklah Smart Growth – janganlah terus bertumbuh seperti orang kalap.

Picture Credit:
Saya tidak ingin mengungkapkan siapa-siapa developer yang menjadi sumber diatas, tapi gambar tersebut ditautkan langsung pada situs developer.