Mungkin bagi kebanyakan orang nama Baron Haussmann terdengar asing, tapi tidak bagi arsitek dan perencana kota. Nama ini seperti Coco Chanel dengan Chanel nya, Baron Haussmann pun tidak bisa lepas dari Paris.

Haussmann, di pertengahan abad 19, mengeluarkan proposal pembaharuan kota Paris yang sangat radikal – hingga cukup radikal jika dibandingkan proposal paling radikal pada jaman sekarang. Tanpa ba bi bu, dibawah naungan dan perijinan Napoleon III, Haussmann memimpin renovasi revolusioner besar-besaran. Setelah itu tak ada lagi Paris seperti yang digambarkan Victor Hugo di Les Miserables nya.

Dengan teganya Haussmann menggusur banyak bangunan yang sudah berdiri sejak abad 11-12, termasuk beberapa bangunan di Ille de la Cite – tempat dimana Notredame berdiri.

Rencananya begitu radikal, hingga memaksa pemilik bangunan di jalan tertentu untuk dilibas jalan baru sehingga berubah menjadi boulevard selebar 30 meter ! Untuk ukuran abad 19, jalan selebar itu cukup mengejutkan, baik secara skala maupun penampilan.

Radikalitas kedua adalah memaksa para pemilik bangunan untuk mengubah tampak bangunan secara total, dan seragam ! Sampai aturan derajat atap pun wajib 45 derajat. Material ditentukan, ketinggian pun ditentukan. Tak hanya itu, mereka wajib untuk memelihara bangunan, dan utilitas kota yang turut dibangun. Tapi berkat utilitas (got-got) tersebut, konon angka kematian menurun.

Hasilnya, adalah Paris yang kita kenal sekarang, Paris yang romantis, Paris yang teratur seragam, boulevard yang dipenuhi pohon, trotoar yang nyaman, dan tentunya drainase dan got yang lancar.
Paris yang kita kenal sekarang adalah hasil dari kebijakan urban yang diktator.

Diperintahkan oleh Napoleon, dipaksakan kepada bank, dipaksakan kepada pemilik bisnis dan bangunan. Dana yang dikucurkan bank pun dijamin oleh Napoleon III dan Third Republic nya.

Jakarta ? Apa ada kemungkinan untuk memaksakan sebuah perencanaan kota, demi tercapai tujuan yang utopis ? Di suatu kota dimana pihak swasta lebih dominan dibandingkan pemerintah – saya menanti-nanti ‘ratu adil’ yang bukannya tak mungkin mampu bertindak se’sadis’ Haussmann.

Entah seandainya reinkarnasi Haussmann datang ke Jakarta, apa yang hendak dilakukannya ?
Mungkin pertama menghancurkan jalan-jalan tol dalam kota (terutama dari Pluit hingga Gatot Subroto), dibuat menjadi boulevard yang nyaman – berdampingan dengan transportasi publik yang cepat dan nyaman. Ada pohon-pohon disisi jalan. Jumlah motor pun menyusut, karena mereka lebih memilih naik transportasi publik yang murah, cepat dan tidak buat mereka berpeluh dan basah.

Mobil-mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang – tidak ada kopaja dan mikrolet atau metromini, karena pemerintah telah mengambil alih moda transportasi secara monopoli, hingga tidak terjadi tumpang tindih.

Tidak ada container yang tiba-tiba melintas didepan Untar atau Trisakti, karena berkat relokasi dan integrasi antara industri dan transportasi antar kota-pulau yang lebih bagus, akhirnya kontainer dan truk itu tidak lagi memasuki dalam kota.

Pengelola superblok seperti Taman Anggrek dan Podomoro City dipaksa untuk merenovasi podium mereka, terintegrasi dengan transportasi umum dan bangunan sekitarnya dan berorientasi pada pejalan kaki.

Dan ini point paling penting, kita tidak perlu pergi ke Paris untuk merasakan boulevard yang indah dan nyaman – karena reinkarnasi Haussmann sudah menciptakannya untuk kita, dimana pedestrian begitu nyaman dilalui, terintegrasi dengan kaki lima (yang tidak mungkin hilang, karena sudah jadi bagian dari hidup kita) maupun dengan pintu masuk gedung.

Dari satu gedung ke gedung lain, tidak perlu pergi dengan mobil, karena pintu depan gedung langsung berhubungan dengan jalan, dan hanya sekitar 100 meter untuk pergi ke halte. Dan oh ya, antara gedung-gedung itu pun sudah tidak saling bermusuhan, karena semuanya tergabung menjadi satu, baik dengan kolonade, podium bersama atau underground space.

Kalau hujan, tidak perlu berkhawatir, segera berlindung di bawah kolonade yang berjejer manis didepan gedung-gedung. Pagi hari bingung makan dimana, turunlah kebawah gedung, dan nikmati di plaza dekat bangunan, yang tak jauh dari tempat kamu naik kereta.


Jika Reinkarnasi Haussmann berkunjung ke Jl Yos Sudarso/bypass dengan Jalan Tol Sedyatmo-Priok di atasnya (lihat gambar), mungkin dia akan menghancurkan semua jalan tol itu. Lalu mengubah bypass yang begitu tidak bersahabat, membuat paru-paru cepat terkena kanker menjadi kanal buatan, sehingga Kelapa Gading dan Sunter tidak dilanda bajir setiap tahunnya.

Karena dia reinkarnasi, maka dia sempat melihat Cheonggyencheon (gambar dibawah) di Seoul, sehingga itu menjadi inspirasinya. Dan siapa tahu disitu menjadi setting sinetron ! Jangan kalah dengan Cheonggyencheon yang wajib menjadi setting drama Korea. Jangan lupa tadinya Cheonggyencheon pun tak ada ubahnya dengan Jalan Yos Sudarso diatas – deretan elevated highway sepanjang 6 km, dan sekarang berubah menjadi tempat destinasi publik (gratis!) paling populer di Seoul. Dan kabar bagusnya untuk Gubernur Jakarta, Presiden Seoul sekarang adalah bekas walikota Seoul yang menggagas dan berani menggusur jalan tol itu menjadi surga urban Cheonggyencheon.

Nah, Bang Yos, sebelum dikau mencalonkan diri menjadi presiden, jangan pede dulu dengan hanya berhasil menggagas busway (dan masih kalah keren dengan leluhur TransJakarta di Curitiba, Brasil). Berkacalah pada Presiden Lee Myung Bak.

Bang Foke, sesama gubernur dan sesama urban designer , jangan kalah dong dengan bang Jaime Lerner, yang sama-sama arsitek dan gubernur juga. Bedanya yang satu berhasil mengangkat Curitiba sebagai kota percontohan Sustainable Transportation, bagaimana dengan Bang Foke dan Jakarta ?

Kata Reinkarnasi Haussmann, tidak perlulah Jakarta seperti Bilbao memanggil Frank Gehry untuk membuat versi Indonesia-nya Guggenheim. Tidak perlu kita membuat kereta api maglev ala Shanghai, tidak perlu juga kita membangun gedung tertinggi ala Burj Dubai, tidak perlulah Jakarta membangun superblok sebesar 10 kali Candi Borobudur.
Katanya, semua akan sia-sia apabila yang terjadi di permukaan jalan – tempat yang dilalui pelaku hidup sehari-hari – tidak diperbaiki, ditingkatkan dan dinaikkan ke level yang lebih bermartabat.

Psttttt … diatas cuman mimpi saja, seperti layaknya Italo Calvino memimpikan perjalanan Marcopolo,
dan saya pun memimpikan Haussmann jalan-jalan di kota Jakarta sambil sumpah serapah dalam bahasa Prancis … kekekeke …