Saya teringat pada buku masa kecil yang dibelikan ayah saya, judulnya Mati Ketawa Ala Rusia! Isinya tentang humor yang berkaitan dengan keseharian masyarakat Rusia (atau Uni Soviet pada masa itu). Cukup menghibur buat saya yang saat itu, hmmm 12 tahun ? Walaupun beberapa isinya kurang pantas untuk anak berusia 12 tahun.

Selain komik bergambar Benny-Mice, mungkin jarang buku yang memparodikan kehidupan Jakarta terkini. Benny-Mice cukup bijaksana dalam memilih topik-topiknya, hanya melihat keseharian dengan jeli ditambah sedikit ‘kepolosan’ jadilah strip komik yang bisa menyentil orang sekaligus membuat saya ketawa dalam hati.

Namun malam kemarin saya membaca versi resmi Mati Ketawa Ala Jakarta. Setelah makan malam ulang tahun yang mengenyangkan dan menggembirakan – dilanjutkan jalan-jalan di tepian laut (yang sudah dikuasai swasta), saya bertekad menyelesaikan buku Jakarta 2010.
Jakarta 2010 adalah Peraturan Daerah DKI Jakarta no 6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta. Buku itu berukuran A3 berisi pasal-pasal dan diakhiri dengan kumpulan peta-peta (yang dengan bodohnya saya kopi, akhirnya saya tidak tahu warna ini menyimbolkan apa) dengan total sekitar 200 halaman.

Lalu kenapa buku peraturan ini mengingatkan saya pada buku Mati Ketawa Ala Rusia?

Halaman pembuka ada sambutan Gubernur Jakarta (saat itu Sutiyoso), yang menuliskan visi Jakarta 2010:
sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia yang sejajar dengan kota-kota besar negara maju, dihuni oleh masyarakat yang sejahtera dan berbudaya dalam lingkungan kehidupan berkelanjutan.
Disini saya sudah mulai tersenyum simpul.

Melewati daftar isi dan halaman pertimbangan, pengingatan dan persetujuan (yang wajib ada di setiap UU, Keppress, PP, Perda, Kepmen) saya mulai membaca pasal 2 dan seterusnya berisi angan-angan pemerintah. Bagian visi, misi dan tujuan yang agak-agak ironis, seperti
terselenggaranya pengaturan dan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung dan budi daya (hellloooooo …. hutan bakau dan PIK ?)
atau berkali-kalinya mereka mengulangi kalimat dibawah ini:
mengembangkan lingkungan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan
membangun Jakarta yang berbasis pada masyarakat

Yang bikin shock adalah yang ini:
Memprioritaskan arah pengembangan kota ke arah koridor Timur, Barat, Utara dan membatasi pengembangan ke arah Selatan agar tercapai keseimbangan ekosistem.

Sejalan dengan saya membuka halaman baru, bertemu juga dengan segala ayat yang berlainan dengan praktek lapangan – yang tergres adalah
untuk Wilayah Pengembangan Pantai Utara, dengan kebijakan meliputi:
c) Pantai Lama:
2. Mempertahankan pemukiman nelayan

Sementara sekarang sedang heboh dengan pembangunan Sentra Primer Utara, yang salah satunya bakal ‘mengurangi’ pemukiman nelayan.

Atau lagi-lagi yang ini:
a. Wilayah Pengembangan (WP) Utara terdiri atas:
1. …….dengan konservasi ekosistem terumbu karang dan hutan mangrove.

Ohh … yang diatas .. no comment.

Dan itu baru halaman 7 !

Lalu bagaimana dengan Jakarta Timur (atau Timur Jakarta?) dan aglomerasi perkembangan Cibubur nya ?
Ini dia seharusnya digariskan dalam Perda:
e. Kotamadya Jakarta Timur:
1. Mengembangkan kawasan pemukiman dan mempertahankan kawasan hijau sebagai resapan air

Sudah saatnya berhenti berekspansi ?

Tiap halaman saya selalu mendengus, huh, hahaha, huuuhh, hihihihi .. kurang lebih begitu.
Dan pada bagian lampiran, saya mentertawakan diri saya sendiri, karena semua peta itu harusnya berwarna ! Oke, jenius .. harus balik lagi sambil bawa kamera, hehehe …