Itulah yang kurang lebih didengungkan kuliah umum tanggal 11 November kemarin. Dibawakan dengan menarik oleh Yohanes Budiyanto (my partner in crime, best friend, etc).

Dimulai dengan narasi yang unik mengenai pengelaman bersangkutan ‘tergoda’ dan ‘terjerat’ dalam kunjungan terakhirnya ke Tokyo, tepatnya ke flagship store Gucci di Ginza – lengkap dengan barang bukti jeratannya: coklat mungil bermonogram Gucci.

Kuliah dimulai dengan hal cukup teknikal, studi dan paparan menarik mengapa masyarakat mampu terjerat dalam konsumerisme, dan bagaimana kami para arsitek, perencana, interior designer dibantu dengan designer produk, grafis dan diberkahi oleh sekumpulan ‘pemikir’ brand image – membawa kita mengambil hingga membayar barang-barang (terkadang tidak) dibutuhkan ke depan kasir. Semuanya adalah konsipirasi.

Ini adalah anti regionalisme – ini adalah anak kapitalisme hasil buahan globalisasi. Namun jangan salah, kini pun kapitalisme dan konsumerisme mampu dibungkus sedemikian rupa dalam regionalisme – sehingga batas antaranya semakin kabur. Dan arsitektur pun mampu mengantarkan kekaburan itu.

Kuliah ini seakan merangkum satu semester mata kuliah jurusan real estate mengenai pusat perbelanjaan. Hal dasar dan penting yang patut diketahui dalam mendesain pusat perbelanjaan yang ‘baik’ dan mampu menjerat konsumen terdapat dalam kuliah ini. Dan bukannya tak mungkin ini menjadi bekal 40 mahasiswa yang hadir dalam kuliah – siapa tahu dimasa depan mereka menjadi desainer di Jerde, DP – spesialis pusat perbelanjaan – civic center versi kapitalis.

Jo membawa banyak barang bukti – mulai dari brosur-brosur cantik dari Gucci, Chanel MobileArt hingga travel book yang memadukan antara architour dan konsep belanja dan menginap di tempat hip (plus mengeluarkan banyak uang).
Dan seakan memberi nilai tambah, kuliah ini dilengkapi dengan foto-foto hasil jepretan pribadi yang berisikan sebagian kecil perjalanannya sepanjang tahun 2008: Dubai, Tokyo dan Hongkong.

Tak ketinggalan – sebagai penutup kuliah 1.5 jam namun tak membosankan – Jo mengeluarkan senjata pamungkas: Coklat Armani. Dia menuturkan bahwa kaitan antara arsitektur dan konsumerisme bagaikan coklat ini (oke, ini Forest Gump dan coklatnya). Tanpa boks, pita, kota dan monogram yang cantik (serta berbau Armani), coklat itu hanyalah coklat biasa. Namun begitu kita tambahkan segala macam aksesorisnya – coklat itu menjadi luar biasa. Consumerism is like THE BOX of chocolates🙂

PS:
Semoga belum basi – tapi memang 2 minggu ini seperti kereta api tidak henti: 5 hari pameran, 2 journal, 1 seminar, 2 kuliah tamu, mau pingsan deh … hiks …