Kuliah umum terakhir semester ini ! Bolehlah saya berpuas diri sejenak, barang semenit dua menit …… *yak puas. *yak lega.

Bukan saya yang memberi kuliah, tapi Marco Kusumawijaya: sosok yang komplit – arsitek, penulis, ketua Dewan Kesenian Jakarta, penasihat untuk proyek rehabilitasi Aceh pasca Tsunami sampai calon gubernur Jakarta !
Karenanya, cocoklah beliau menjadi penutup serial kuliah politik saya dan pantaslah jika beliau berbicara tentang ruang [politik] Jakarta.

Beberapa minggu sebelum kuliah umum digelar, beliau minta bertemu saya, untuk berdiskusi – agar apa yang disampaikan beliau sesuai dengan perkuliahan saya. Dan kami menghabiskan berjam-jam untuk ngobrol dan hanya setengah jam saja untuk diskusi kuliah, sisanya ngobrol ngalor ngidul – dari fotografer sampai cerita rehabilitasi Aceh.

Saya mencoba memberi review tentang kuliah ini, yang mampu membuat mahasiswa saya diam selama 1.5 jam lebih dan ketawa sekaligus banyak bertanya.

Kuliahnya dibuka dengan kalimat ini:

Jakarta bukan gagal, melainkan belum pernah diberi kesempatan untuk berhasil.

Lalu apa itu Membayangkan Jakarta ? Adalah instalasi imajinasi pribadi berbagai kalangan, mulai dari arsitek hingga perupa, dari fotografer hingga penyair. Disitu mereka menggugat Jakarta.

Kemudian ada pula sanggahan – kata siapa Jakarta sudah padat ? Masih ada [banyak] tempat kosong (high five, Pak Marco), namun pemerintah dan swasta lebih memilih solusi mudah, cepat dan murah – yaitu mambangun suburban.

Gugatan Marco ada 2 yaitu mengenai Permukaan Ruang Publik (surface) dan Monas. Permukaan Ruang Publik digugat dengan Bundaran HI, ketika kita berhadapan pada kenyataan bahwa selama ini kita selalu bicara mengenai ruang, ruang, dan ruang. Lalu bagaimana dengan permukaan bangunan, permukaan ruang ? Siapa pemiliknya – publik kah atau pemilik bangunan kah ?
Hasil instalasi nya pun cukup lucu – alih2 reklame, Marco menggantinya dengan running text di beberapa spot Bundaran HI, yang berisikan pesan publik dan kamu pun bisa menuliskan pesan apa pun. Strategi serupa yang dipakai oleh Chanel MobileArt Tokyo dan Hongkong.

Sedangkan yang terakhir adalah gugatan terhadap Monas – sebuah ruang publik tapi tidak berlaku seperti layaknya ruang publik.
Mahasiswa pun mendapat banyak masukan mengenai sejarah Monas – termasuk fakta bahwa Lapangan Monas itu dulunya adalah halaman rumah Istana Negara. Dan Istana Negara itu dulunya adalah rumah orang kaya.
Marco menggugat Monas dengan melemparkan pertanyaan: Apakah menurut kalian Monas itu bagus ? Indah ?
Selama ini menurut beliau, tidak pernah ada satu kritik ataupun esai seni dan desain yang membahas keindahan Monas. Monas adalah produk ambisi seseorang yang dipaksakan untuk ‘tumbuh’ di sebuah ruang publik.

Idenya kemudian melakukan mapping Lapangan Monas seluas 80 hektar dengan peta Bukittinggi, termasuk didalamnya Ngarai Sianok. Bukittinggi dipilih karena daerah itu merupakan hasil konsensus bersama 40 nagari – daerah pasar tempat bertemu dan transaksi para nagari. Deskripsi ruang dan aktivitas publik semacam itu yang hendak diimpikan ada di Monas. Meniadakan sentralisasi dan kepusatan – itulah tujuannya.

Kuliah diselingi oleh berbagai cerita – mulai dari cerita Ayu Utami, sahabatnya, yang begitu mencintai kehidupan dan gemar naik turun gunung hingga kegiatan aktivis Marco seputar bundaran HI, sebagai saksi maupun sebagai pelaku. Tak lupa juga mengenai hak tanah di Indonesia yang bukanlah menjadi hak asasi, tetapi hak beberapa pihak.

Karenanya bolehlah saya berpuas diri sebentar …. berpiikir bahwa saya melakukan sesuatu yang tepat dengan memilih Marco Kusumawijaya sebagai penutup serial mata kuliah Politics and Architecture.