Rasanya tulisan ini bagai pecandu narkoba menulis bahaya narkoba, pecandu alkohol menulis mengapa harus berhenti, atau pecandu rokok meriset hubungan antara kanker dengan rokok.

Berkat paranoia orang tua dan kemalasan pribadi, saya tidak pernah belajar menyetir hingga umur 27 tahun. Untunglah saya memiliki pengalaman sedikit walaupun kurang relevan, yaitu demen menonton Formula 1 – dan benar ini tidak ada relevansinya. Resume perjalanan saya bersama kendaraan umum, meliputi copet, colek, sampai todong. Mileage terjauh saya adalah keliling Grogol – Pondok Pinang, Kemayoran – Karawaci, hingga Daan Mogot – Kelapa Gading. Sayang tidak ada program frequent flyer untuk angkot.

Dalam kurun waktu 2 bulan saya sanggup menempuh perjalanan pulang pergi dari Citra Garden (Cengkareng) ke Jl Mandar – aka Jl. Arsitek (Bintaro sektor 3A). Rutenya pun tidak kalah dengan rute angkot, melewati lampu merah Daan Mogot, arteri Puri, masuk ke jalan kecil Karang Tengah, melewati macetnya lampu merah Ciputat sampai Bintaro Sektor 9.

Dan setelah itu, adios kendaraan umum. Dari kebiasaan sebelumnya, melewatkan pagi bersama mikrolet, metromini, dan bus patas AC hingga bus rute 400 dan 396 (kingsford – circular quay) kini era itu pun berlalu. Mobilitas semakin tinggi, jelajah pun semakin jauh – dari yang tadinya akrab dengan rute angkot, menjadi hafal jalan pintas menghindari 3 in 1.

Dan saya tidak mampu menemukan satu alasan pun mengapa saya harus membuang mobil untuk kembali kebiasaan dahulu ? Mobil akhirnya menjadi rokok, ganja, dan minuman keras saya.

Saya mencoba mencari obat – dan kami pindah ke pusat kota, lengkap dengan area pejalan kaki dan pohon besar menaungi. Namun hanya area itu yang ada – pejalan kaki terputus, mobil berjalan cepat, motor ugal-ugalan.
Saya mencoba ‘rehabilitasi’, 1 minggu bolak-balik Karawaci dengan dengan kendaraan umum, dan ternyata waktu tempuh pun bertambah, kulit kusam dan sesak nafas. Setelah itu saya lega luar biasa karena akhirnya saya kembali naik mobil.

Yakin pula, jika kencanduan ini menjadi derita bersama, terutama bagi yang tidak punya hati kuat untuk memulai bersepeda. Apalagi jika seperti saya yang punya kegemaran tidur dan badan pemalasan plus tapak kaki rata.

Jakarta pun diberkahi dengan kelembaban, polusi dan cuaca panas. Jakarta pun dihadiahi sekian banyak mobil dan motor baik diinginkan maupun tidak. Mereka terus mengalir – mengindahkan peribahasa patah tumbuh hilang berganti. Jakarta pun menjiwai kekerasan dan mengindahkan rasa aman.

Seperti kata Kartini versi saya: Jane Jacobs, mobil menjadi pelarian penghuni kota, memberikan rasa aman di tengah kota yang tidak bersahabat ini. Memang berlebihan jika sampai saya bilang: saya terbebas karena mobil saya. Dan saya mencandu karena saya ingin bebas. Karena mobilitas di Jakarta sudah mendekati level tidak masuk akal, ketika perjalanan Kemayoran – Binus Senayan kemarin memakan waktu yang sama dengan Jakarta-Bogor PP.

Keyakinan saya akan perlunya penghentian ketergantungan terhadap mobil masih sama yakinnya ketika 5 tahun yang lalu saya membaca riset dan jurnal lampau Newman-Kenworthy. Masih sama tegasnya ketika saya memulai kuliah mengenai Sustainable Transportation awal tahun ini.

Jika ada klnik ketergantungan mobil, mungkin saya adalah peserta pertama. Kalau ada Car Anonymously, saya berjanji hadir tiap pertemuan.

Selama Jakarta sakit, maka saya pun sakit.

[ditulis menjelang tahun 2009 sebagai pengantar mata kuliah pilihan Sustainable Development and The Urban Environment – Universitas Pelita Harapan]