Panjang Judulnya, panjang juga slidenya. Sudah basi tentunya, secara seminarnya sudah terjadi tanggal 15 Desember 2008 kemarin: Seminar Nasional Perumahan, mengenai strategi percepatan pembangunan perumahan nasional. Dan kebetulan dihadiri pula oleh Pak Menteri Negara Perumahan Rakyat, walaupun tidak sampai akhir.

Yang bikin bete adalah, ternyata slideshare tidak mampu mengkonversi animasi2 hasil bikinan di powerpoint. Dan bahkan tidak kenal beberapa huruf, alhasil deh kacau balaunya setelah dikonversi ke slideshare. Malah ada beberapa gambar yang hilang.

Cukup sudah acara membela dirinya.

Inti dari paper dan presentasi adalah dimulai dari keprihatinan bahwa semua kebijakan, kelembagaan dan desain perumahan massal nasional untuk masyarakat menengah bawah (atawa istilah kerennya MBR) berasal dari pendekatan konvensional dengan tipe kebijakan top-down.
Pemerintah, urban planner, dan arsitek adalah dewa, dan kalian para calon penghuni tidak berhak untuk tahu menahu mengapa ada kebijakan dan desain seperti itu. Terima jadi saja. Kalau tergusur seperti penghuni kolong jembatan tol atau Taman BMW, jangan khwatir karena pemerintah sudah menyediakan rusunawa di negara antah berantah, atau developer dengan berbagai macam alasan dan serba kelat kelitnya sudah mewajibnkan kalau rusunami yang dijual seharga 90-120jt keatas. Sampai ribuan tahun pun para MBR tidak bakal bisa memiliki rumah impian.

Kita tidak perlu memiliki grand project seperti Sri Lanka dengan The Million Houses Program. Gak perlu bikin 1000 rusunami, mungkin proyek microplanning tepat sasaran bisa menjadi alternatif masalah perumahan. Lihat CODI dengan Baan Mankong nya, saking suksesnya sampai sudah ratusan proyek di Bangkok. Saking suksesnya ada rumah yang disebut 15 baht/day house.

Prioritaskanlah MBR, kampung kumuh – walaupun dengan hal itu bakal menjadi magnet hadirnya dan membludaknya urbanisasi, tapi bisa saja strategi ini dilakukan di pelosok. Lihat dengan proyek CAP kecil2an di Yogyakarta, dan ada juga di Surakarta. Sesuatu yang besar bukannya tak mungkin berasal dari si kecil.

Sebetulnya ada 3 poin utama dalam isi presentasi ini:
Patisipasi (komunitas) – Sustainable Development – Tanah.

Mengapa partisipasi ? Selamanya jika perencanaan terus memakai metode tradisional dan top-down, maka bukannya tak mungkin rusun akan tidak tepat sasaran dan mudah berpindah tempat.

Berkelanjutan ? Memiliki makna ganda disini, tapi lihatlah budaya lokal dan konteks masyarakat sasaran.

Tanah – seperti kata Donald Trump dan seluruh pemuja real-estat: lokasi, lokasi, lokasi.
Selagi pemerintah [dan] swasta belum menemukan metode pengadaan tanah yang kreatif dan terjangkau, selamanya rumah itu akan tidak terjangkau. Dan kalaupun terjangkau pun adanya di negeri antah berantah.

Tentu saja isi presentasi ini akan mengundang banyak pertanyaan dan keberatan – seperti yang terjadi pada saat seminar. Dan saya menunggu kritik dan saran.