Jakarta sedang mengalami kritis ruang hijau, dalam periode 1965-1998 saja, ruang hijau kota telah menyusut dari 37.2% hingga hanya tinggal 9.6% saja. Ruang hijau berubah menjadi apartemen, pusat perbelanjaan dan pom bensin. Ruang hijau yang sedianya menjadi paru-paru kota, terabaikan. Isu global warming seakan hanya menjadi tren semata, saat para media, korporasi, institusi, dan individu hanya berlomba-lomba mengangkat tren itu, sementara perusakan hutan bakau di pesisir Jakarta masih terjadi dan jalur hijau di daerah tertentu, yang sudah sangat minimal, hilang berganti menjadi lajur transportasi, atau megaproyek terbaru bukanlah hutan kota melainkan megastruktur proyek hunian dan pusat perbelanjaan.

Hilangnya ruang hijau berdampak besar bagi kota, meningkatnya suhu kota, terutama pada pusat aktivitas yang minim ruang terbuka hijau, atau kerap disebut Urban Heat Island. Pohon yang mampu menghasilkan oksigen sekaligus menjadi filter polusi kendaraan bermotor seakan hanya menjadi aksesoris kota. Apabila akhirnya ruang hijau harus mengalah demi kepentingan pembangunan dan transportasi, adakah cara untuk mengganti ruang hijau yang hilang itu. Salah satu cara adalah dengan memperbanyak taman atap pada bangunan, yang bisa terwujud dengan partisipasi para pebisnis dan pemilik bangunan di Jakarta diperkuat dengan campur tangan pemerintah.

Walaupun pada akhirnya taman atap memiliki beberapa isu, seperti proses konstruksi dan perawatan yang mahal, yang pada akhirnya terkadang dinilai tidak ekonomis pada beberapa proyek tertentu. Taman atap pun tidak memberikan kontribusi besar pada komunitas sekitarnya – selain pengguna bangunan tersebut. Pada akhirnya memang taman atap mampu mengurangi suhu di pada atap – terutama pada bangunan tinggi, namun tidaklah berpengaruh besar pada suhu di permukaan jalan, dimana masyarakat kebanyakan beraktifitas. Lalu bagaimana caranya mendinginkan pada level permukaan di beberapa titik di Jakarta, sementara kota kekurangan lahan untuk membangun taman berskala Monas ?

Sehingga yang menjadi pertanyaan apakah mungkin mendinginkan suhu lingkungan permukaan jalan hingga dua digit lebih rendah dibandingkan suhu lingkungan sekitar? Sekaligus menghijaukan daerah tersebut, termasuk nilai tambah sebagai ruang publik baru? Disaat bersamaan mampu mengurangi beban listrik negara? Dan selain itu, hanya membutuhkan ruang tak lebih dari 100 meter persegi?

Di tahun 2004, Urban Ecosystems atau EcosistemUrbano melalui desain inovatif, estetis dan ekonomis, akhirnya menarik perhatian Madrid Municipal Housing Corporation’s Residential Innovation Office dalam sebuah kompetisi desain. Tema kompetisi tersebut adalah ide desain Eco-Boulevard dimana para pesertanya diminta untuk mendesain ruang urban terbuka di Vallecas, pinggiran Madrid. Salah satu tuntutan kompetisi tersebut: meningkatkan tingkat kenyamanan, mempromosikan interaksi sosial antar warga, sekaligus memiliki moda keberlanjutan (sustainable) terhadap pertumbuhan kota. Eco-Boulevard tersebut nantinya akan menempati lahan sebesar 500 meter x 50 meter.

Urban Ecosystems kala itu mengajukan sebuah konsep inovatif yang dapat ditempatkan tak hanya di Madrid, melainkan di seluruh belahan dunia. Air Tree, demikian nama julukan terhadap proyek itu, kemudian menarik perhatian para dewan juri dan akhirnya selesai dibangun pada pertengahan tahun 2007.

Ide dari Air Tree sangatlah sederhana, bagaimana menciptakan suatu ruang komunitas, sekaligus memberi manfaat ekologis pada lingkungannya dan mudah didirikan dimana saja. Struktur utama instalasi Air Tree sendiri mudah dibongkar pasang dan dipindah, ringan serta dapat berupa hasil daur ulang. Sedianya Air Tree tersebut mampu menampung puluhan hingga ratusan pot tanaman yang disusun bertingkat, tergantung berapa besar dan bentuk struktur utamanya.

Salah satu fungsi Air Tree adalah sebagai sarana pembiakan tanaman atau tree nursery. Dimana apabila tanaman pot tersebut sudah mencapai tinggi tertentu, maka tanaman tersebut dapat dipindahkan di area lain, seperti tepi jalan ataupun area yang membutuhkan. Namun dalam kasus yang terjadi di Vallecas, Madrid, sedianya tanaman pot tersebut yang akan memenuhi Eco Boulevard yang akan terbentang sepanjang 500 meter dengan lebar 50 meter. Diharapkan setelah 20 tahun sejak struktur Air Tree pertama kali berdiri, maka Eco Boulevard sudah bertransformasi menjadi hutan kota, dan sesudahnya struktur tersebut dapat dipindahkan ke lokasi lain atau didaur-ulang.

Istimewanya, Air Tree ini diharapkan mampu ‘menghidupi’ diri sendiri. Karenanya pada bagian teratas Air Tree tersusun panel surya yang mampu menyuplai listrik. Aliran listrik itu digunakan sebagai sumber energi bagi pompa untuk mengalirkan air dari bawah keatas, serta untuk operasional tirai polyester yang berguna untuk pengaturan kelembaban. Dan bukannya tidak memungkinkan, apabila listrik yang dihasilkan oleh panel surya tersebut dapat digunakan untuk penerangan jalan atau dijual kepada negara. Solusi tersebut sesuai diterapkan di Jakarta, kota negara tropis, yang mendapatkan sinar matahari hampir merata sepanjang tahun.

‘Keajaiban’ Air Tree tidak hanya berhenti disini saja. Setelah instalasi pertama Air Tree terwujud di Madrid, terbukti bahwa suhu didalam lingkup Air Tree lebih rendah 8-10ΒΊC dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, seperti memiliki AC alami ditengah kota. Akhirnya ia pun mampu berfungsi sebagai paru-paru lokal di komunitas tempatnya berdiri. Filter polusi dan panas, itulah fungsi Air Tree yang lain, menyebabkan lingkungan didalam Air Tree menjadi nyaman dan ideal untuk berbagai kegiatan, mulai dari sekadar duduk-duduk hingga olahraga, menjadi sebuah ruang publik bagi komunitas.

Apakah Air Tree mampu diterapkan di Indonesia, setidaknya di Jakarta ? Jawabannya, adalah sangat memungkinkan. Apabila struktur baja dirasakan terlalu mahal, maka bukannya tak mungkin struktur tersebut digantikan dengan struktur bambu, yang lebih murah, berkelanjutan dan tersedia dalam jumlah besar di pasar lokal. Sistem Air Tree di Jakarta, bisa diintegrasikan dengan penampungan air, hingga di masa yang akan datang, tak hanya mampu berdiri sendiri dengan listrik dari panel surya, namun tidak tergantung pada layanan PAM. Terlebih lagi, apabila Air Tree tersebut dibangun disebuah kampung berswadaya, komunitas tersebut dapat memilih sendiri tanaman yang mereka inginkan, sehingga mereka pun terlibat aktif dalam upaya perawatan Air Tree.

Lalu dimanakah Air Tree ini sebaiknya berdiri di Jakarta ? Dimana saja, asal tersedia lahan terbuka minimal 100 meter persegi, entah itu di tengah taman kota, di lahan terbengkalai, hingga di tempat parkir truk yang banyak tersebar di bilangan Kota Tua dan Tanjung Priuk.

Sebetulnya ide dasar Air Tree akan keterlibatan masyarakat tak ada ubahnya seperti layaknya gerakan ‘community garden’ di sejumlah kota dunia, dan bukanlah hal yang asing di kehidupan beberapa kampung Jakarta, seperti di Banjarsari. Dalam beberapa data segi positif community garden di beberapa komunitas, seperti di Redfern, Sydney dan Brooklyn, New York, gerakan tersebut ternyata mampu mengurangi angka kriminalitas dalam jumlah yang cukup berarti.

Pada akhirnya, arsitektur kontemporer tidaklah harus serba wah, minimalis atau mengikuti tren dunia terkini, namun setidaknya arsitektur tersebut mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, memberi solusi lokal namun tetap mengglobal, berupaya untuk memberikan efek maksimum yang postif pada komunitas dengan campur tangan pihak luar seminimal mungkin. Akhirnya pemanasan global tak hanya menjadi tren dan gaya hidup belaka, namun bagaimana arsitektur dan komunitas belajar untuk menyiasati dan beradaptasi dengan lingkungan sambil berusaha untuk memperbaiki lingkungan tersebut bersama-sama.