Bukan Gaza, bukan Israel, bukan kelangkaan BBM, bukan juga karena pemerintah mengeluarkan aturan konyol soal fiskal – walaupun saya tidak kena efek harus bayar fiskal sih.

Sebelumnya berita ini sudah mewarnai edisi Kompas terdahulu, namun laporan detail mengenai rusaknya situs Trowulan benar-benar membuat pedih hati dan marah.
Saya tidak akrab dengan kisah kerejaan Majapahit dan tentu saja tidak pernah menginjak Trowulan hingga saat ini.

Melihat halaman 17 Kompas Minggu, 4 Januari 2009, seperti melihat awal mula kehancuran suatu identitas, dan saya sepakat dengan judul artikelnya: Ketika Sejarah Dinistakan…..
Bagi saya pribadi, tanpa perlu membaca lebih lanjut berita Kompas itu, foto-foto situs yang dirusak oleh konstruksi moderen begitu menyedihkan – dan keterlaluannya memiliki dampak yang sama ketika saya menonton Schindler’s List untuk pertama kalinya.
Penanda konstruksi bata bangunan era Majapahit direndahkan, dipotong demi berdirinya Trowulan Information Center – rancangan Baskoro Tedjo.

Satu-satunya situs kota kuno di Indonesia dirusak demikian parahnya, hanya demi macam-macam alasan konyol, seperti sumur purba diJEBOL demi memasang tulangan baja ! Dan dengan entengnya, si Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala berdalih: ” Memang HARUS ada (situs) yang rusak, tapi yang rusak itu bukan bagian penting.”
Keharusan yang ditekankan kepala sebuah balai yang seharusnya MELINDUNGI peninggalan kebesaran sejarah, seakan mengiyakan bahwa Indonesia adalah negara yang tidak bisa menghargai masa lalu. Seperti tulisan Bre Redana: atas nama proyek pembangunan, apa yang terkubur di bawah tanah dianggap tidak ada.
Sama seperti ketika dulu Suharto ‘mengubur’ Soekarno, dan kinipun tanah yang sama lebih memilih untuk meniadakan dan mengubur kerajaan maritim terbesar pada jamannya.

Tulisan marah-marah seperti ini, bukannya tak mungkin selalu menyertakan preseden dari luar negeri, seperti bagaimana Jean Nouvel dengan Gallic-Roman Museum nya yang justru melindungi situs, atau Chris Johnson dengan Sydney’ Music Conservatorium nya. Percuma saja dibandingkan – karena pada akhirnya Sang Arsitek lebih suka membangun baru dibandingkan bernegoisasi. Dari sekian banyak dana (25 milyar) dan dari sekian banyak teknologi konstruksi, serta dari sedemikian luasnya situs Trowulan, ataupun berbagai macam solusi desain, mengapa harus cara seperti ini yang diambil ?
Apakah karena ini adalah jaman serba instan, fast-food dan teknologi kuantum maka teknologi membangun ala rumah sederhana lah yang diambil ? Pendekatan ala membuat ruko kah yang diambil. Dan gilanya semua konstruksi bata Majapahit itu hanya 50 cm dari permukaan tanah sekarang ! Bahkan untuk mengubur jenazah pun perlu ‘6 feet under’, sementara situs yang begitu dekat dengan jarak satu-dua cangkul teramat mudah dilupakan hingga dianggap tidak ada.

Saya tidak kenal arsiteknya, dan saya tidak tahu bagaimana denah maupun rencana tapak secara detil – tapi contoh dari beberapa foto-foto Kompas memprovokasi hingga membuat saya menuduh serta melupakan asas praduga tidak bersalah. Terlepas dari segala perdebatan tentang desain, konstruksi maupun bahan bangunan, yang menjadi pertanyaan – begitu pentingnya kah bangunan yang disebut Trowulan Information Center itu ? Sampai harus seluar lebih dari 3600m2 ? Sampai harus selesai sebelum Pemilu ? Sampai harus bisa diresmikan oleh SBY ?

Mengutip sedikit dari Michel de Certeau, sambil mengubah nama kota yang ada di kalimat itu (New York) menjadi Indonesia.
Indonesia has never learned the art of growing old …
Its presents invents itself, from hour to hour, in the act of throwing away its previous accomplishments ….

Hentikan Pembangunan Situs Trowulan