mAAN@Delhi2009

pssst… where’s elisa ?

Saya mengangkat isu ruang publik dan diskusi publik di Jakarta dalam presentasi mAAN yang baru saja berlangsung di akhir Februari 2009.

Mudah sekali untuk membicarakan ruang publik di Jakarta, karena pertanyaannya apakah publik benar memiliki ruang? Dan siapakah publik itu? Kalaupun ada kelompok publik – siapakah yang merepresentasikan kepublikan dihadapan otoritas?

Dalam ruang ‘buatan’ Jakarta selalu diragukan kepemilikannya. Seandainya dia adalah suatu taman publik – apakah pantas dia dipagari? Jika dia berbentuk bundaran penuh makna politik dan sejarah – tragiskah ketika akhirnya dia berakhir menjadi ruang pamer konsumerisme dan penjajahan abad baru? Jika dia berangkat dari ambisi seorang gubernur yang menagungkan keindahan – namun kita pun wajib mempertanyakan apakah itu indah versi dirinya – apakah kemudian mampu berfungsi menjadi ruang publik.

Selamanya ruang ‘buatan’ untuk publik di Jakarta selalu menjadi wujud pertentangan – karena semua pihak berusaha memperebutkan ruang – tak hanya secara 2 dimensi, namun 3 dan 4 dimensi sekaligus. Lalu dimanakah peran arsitek dan perencana kota disini? Apakah dia menjadi suara bagi publik, atau pemangku kepentingan, pembawa kapital atau idealisme pribadi?

Dan pada akhirnya ruang publik yang muncul tiba-tiba, bermuara dari untuk dan oleh publik – seakan diabaikan: pasar malam di Kemayoran, acara mancing dadakan di Danau Sunter, keriuhan di Pancoran.

Belajar dari Delhi, ketika taman hasil supremasi kolonial menjadi ruang publik tanpa penjaga yang dapat dinikmati oleh seluruh warganya.

Slideshare (proses upload)