Seperti dimuat disini.

Gerutu dan gumaman bermunculan ketika saya mengumumkan tugas kedua untuk mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Perkotaan. Mungkin ini bukan perasaan kolektif 31 mahasiswa jurusan arsitektur Universitas Pelita Harapan, tapi setidaknya itu yang dirasakan oleh Carolina, mahasiswa semester 6, yang mengaku shock ada tugas baru yang harus dikumpulkan menjelang ujian akhir semester.

Ketika saya tanyakan kepada mahasiswa apakah mereka pernah mendengar tentang peta hijau atau greenmap, tak ada satupun yang menjawab. Karena kebisuan dan ketidaktahuan mereka, maka saya menjadi semakin yakin, semangat dan merasa wajib untuk ‘membebani’ mahasiswa dengan tugas peta hijau.

Secara teori dalam mata kuliah Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan Perkotaan, mahasiswa diminta untuk memahami pembangunan berkelanjutan, dan salah satu kunci keberhasilannya adalah dengan adanya partisipasi dan peran masyakarat. Mereka diperkenalkan pada berbagai aspek, contoh dan cara pandang berkelanjutan, entah itu transportasi, air hingga desain urban. Namun hanya berhenti sampai disitu.

Tak hanya demi memenuhi kualifikasi yang ditetapkan dalam satuan acara perkuliahan (SAP), kali ini mahasiswa dapat merasakan sedikit gempita dari proses keberlanjutan itu melalui proses pembuatan peta hijau. Peta hijau memang contoh dan praktek sempurna yang mampu mencerminkan aspek keberlanjutan secara nyata, sekaligus cukup mudah untuk dilaksanakan.

Berbekal dengan pengetahuan singkat mengenai peta hijau dan lembaran 170 ikon peta hijau, maka meraka pun akhirnya pergi ke tempat yang ditentukan: Pesisir Jakarta. Mengapa Pesisir Jakarta yang dipilih – berangkat atas dasar pertimbangan keprihatinan terhadap pesisir Jakarta. Jakarta adalah kota pantai, namun penataan dan desain tepian pesisir serta pantai Jakarta terkadang membuat penghuninya lupa kalau mereka sesungguhnya tinggal di kota pantai.

Jadilah Pesisir Jakarta terbagi menjadi enam bagian, terbentang dari ujung hunian mewah Bukit Golf Mediterania di Pantai Indah Kapuk hingga kampung padat sekitar Pelabuhan Tanjung Priuk, dan suka tidak suka mereka harus memulai melakukan survey. Mereka memetakan dan mencocokkan 170 ikon yang menjadi representasi dari kehidupan berkelanjutan, alam dan budaya. Ternyata kegiatan survey dan pemetaan ini tak disangka membawa mereka kepada pengetahuan dan pengalaman baru.

Ada satu kelompok yang mengutarakan ketakutan mereka ketika menjajaki Tanjung Priok. Sementara yang lain bercerita pengalaman kucing-kucingan dengan petugas keamanan sebuah perumahan mewah. Lalu ada yang mengungkapkan rasa heran sekaligus takjub ketika menemukan hutan bakau dan balai penelitian hutan bakau didalam kawasan pemukiman mewah, seperti yang diutarakan oleh Helen.

Di saat bersamaan, indera ‘arsitek’ bekerja, ketika salah satu mahasiswa, Irene Setiawati menyayangkan kondisi dan desain bangunan balai penelitian tersebut. Mahasiswa lain, Kelly, bercerita keseruannya berburu tempat ‘hijau’ yang akhirnya berbuah hasil dengan menemukan suatu komunitas pengolah kompos di Ancol. Kelly pun menambahkan lagi, dengan survey peta hijau membuat mereka menemukan hal baru di tempat yang sehari-hari mereka temui. Survey peta hijau pun terasa berbeda dengan survey ‘arsitektural’ yang selama ini mereka kerjakan, dan bagi Kelly terasa seperti bertualang dan disaat bersamaan mampu menumbuhkan rasa antusias sekaligus prihatin. Dia pun mengkritik kondisi hutan bakau yang tidak terawat: padahal seharusnya itu dapat menjadi tempat publik yang menarik, demikian protesnya. Perasaan serupa pun diutarakan oleh Carolina yang tadinya terkejut mendapat tugas diawal. Akunya, proses pemetaan hijau ini menyadarkan dirinya akan ‘keberadaan’ alam aktual Jakarta yang menyedihkan. Dia pun mengharapkan, setelah proses pemetaan dan publikasi usai, peta hijau ini harus dikirim ke lembaga atau pemda supaya ada tindak lanjut dan peningkatan kualitas alam Jakarta. Keprihatinan yang sama mencuat dari kelompok penjajak Museum Bahari, melihat kondisi tak terawat pada ruang dalam dan luar museum.

Demikian beragam temuan mereka, mulai dari taman komunitas kecil hingga tempat pengolahan sampah, atau merasakan pasar ikan lalu menemukan tempat menarik untuk melihat matahari terbenam tanpa perlu membayar tiket masuk Taman Impian Jaya Ancol. Pada akhirnya, tugas beban itu justru membukakan mata mereka, membawa masuk kedalam pengalaman kota Jakarta yang baru, memperkenalkan mereka kepada dunia komunitas hingga akhirnya mampu menjadi bagian dalam upaya menjadikan kota Jakarta lebih berkelanjutan dan berkehidupan.

Tertarik dengan upaya mahasiswa jurusan arsitektur Universitas Pelita Harapan dalam memetakan pesisir? Kunjungilah pameran hasil karya peta hijau Pesisir pada tanggal 27 April – 1 Mei 2009 di Gallery UPH, Gedung B, Universitas Pelita Harapan, Karawaci.