Bangun dari mimpi, dan tertampar karena kena sindiran oleh serial diskusi mengenai Romo Mangun.

Saya jauh-jauh pergi merantau mencari ilmu, saya belajar membaca buku lebih dan lebih, mencari jurnal terbaru demi menambah ilmu saya, merumuskan pengertian berkelanjutan melalui perspektif dan kaca mata Indonesia – ternyata jawabannya sudah ada sejak puluhan tahun lalu lewat karya dan wastu Romo Mangun.

Sayang sekali, saya hanya membaca sekelumit WastuCitra ketika kuliah S1 dulu, itupun karena tugas – tanpa berusaha memahami apa maksud tersirat dibaliknya. Bahwa itu adalah hadiah selamat tinggal Romo Mangun terhadap dunia (pendidikan) arsitektur (Indonesia) yang komersial, materialistik dan instan. Kalau saya membaca dengan baik dan benar, berusaha memahami isi didalamnya, maka tidak perlulah segala usaha diatas hanya untuk memahami bahwa karya arsitektur adalah holistik dan tidak pernah selesai. Perlu Konferensi On Monumentality (2003) untuk memahami proses tak henti dalam suatu karya. Perlu melihat lewat mata James Weirick (2003) untuk memahami kalau bangunan adalah holistik, satu titik kecil dari urban.

Etos kerja Romo Mangun sejak tahun 1969 meneriakkan prinsip-prinsip keberlanjutan: material lokal, memperhatikan iklim dan geografi tapak, sumber daya lokal serta partisipasi masyarakat. Disini saya berbicara pada contoh bangunan publik, yang terwakili oleh gereja, biara, seminari dan beberapa gedung budaya. Apabila sudah bicara bangunan komersial dan hunian, tentu saja akan beda pendekatan. Romo Mangun tidak perlu teknologi mewah untuk menyelaraskan bangunannya. Tanpa perlu panel surya yang super mahal, serta perhitungan super rumit ala ‘duren’ esplanade dan segala aksesoris dan bahan-bahan mahal.

Citra dan Guna menjadi satu kesatuan. Yang menarik disini adalah beberapa kutipan tulisan Romo Mangun yang terulang: yang benar selalu indah. Yang indah selalu benar. Dan sesungguhnya mengingatkan saya pada ‘idola’ saya yang lain yaitu Louis I.Kahn, akan kejujuran suatu bangunan dan elemennya. Ada benang merah antara keduanya, terutama dalam detil struktur – ketika kejujuran konstruksi dan material menjadi bagian dalam citra dan imaji: disitulah Citra dan Guna menjadi kesatuan. Menjadi semakin malu, karena dulu 1 semester penuh saya mengkaji karya Louis I.Kahn dan tulisannya, sementara Romo Mangun adalah Kahn Indonesia – sementara saya tidak begitu mengenalnya.

Selama ini saya berpegang pada pendidikan dan sumber luar negeri untuk menyusun mata kuliah pembangunan berkelanjutan. Contoh Kali Cho-de hanya dimasukkan sebagai pembangunan partisipatif, sementara saya melupakan karya-karya lain Romo Mangun; padahal wastunya demikian kental akan apa yang ingin saya bagi pada mahasiswa.

Ternyata ada satu hal yang lupa diajarkan oleh dunia pendidikan arsitektur (Indonesia) saat ini: Membumi dan Kesederhanaan. Belajar dari alam dan lingkungan – demi mendapat solusi lokal.

Tanpa bermaksud sok tahu dan sok menggurui, maka saya berusaha untuk lebih membumi dan lebih sederhana – dan tentunya belajar lebih jauh dari Romo Mangun, untuk setidaknya menyebarkan semangat romo kepada mahasiswa arsitektur: ada banyak pandangan lain, fenomena dan sudut pandang alternatif, selain menjadi arsitek komersial seperti yang kalian cita-citakan selama ini.