Proposal Workshop AMI yang bertema: Ruang Tinggal dalam Kota

ada 3 poin disini, yaitu RUANG – TINGGAL – KOTA.

Dan bagaimana saya sebagai penghuni KOTA mendeskripsikan RUANG dan TINGGAL ?

Dan karena ini berasal dari proposal pribadi jam 3 pagi maka akhirnya pun menjadi sangat PERSONAL dan menjadi bahan diskusi hangat di kelompok yang baru terbentuk (Jo, Evelyn, Julian, Arifin, Wike dan Lia).

Mari kita menDedikasikan pemikiran kita sebagai Komuter di Jakarta.

Ini dia isi proposalnya:

Kami selalu bergerak. Kami bersaing dengan matahari, siapa paling cepat terbit dan meninggalkan rumah.
Anak kami bangun disaat seharusnya masih tertidur.
Kami berjalan jauh, bukan untuk menikmati Great Ocean Road (memang kita punya itu ?), bukan untuk mengamati gunung kejauhan dari puncak jalan tol, atau birunya teluk Jakarta dari tepian jalur lambat jalan tol Sedyatmo. Tapi kami menempuh puluhan kilometer demi selembar cek di akhir bulan.
Di akhir pekan kami terlalu lelah untuk berwisata, terlalu capai untuk turun dari tempat tidur, penat untuk membawa anak kami ke taman, lebih baik simpan tenaga untuk minggu depan.

Kami tidak tinggal di rumah, kami tinggal di jalan. Dan kami anggap jalan adalah rumah kami.

Lalu satu komuter berkata: mari kita pindah saja ke jalan tol.
Yang satu berujar: Ya, toh jalan tol memang sudah mengelilingi Jakarta.
Sementara yang lain: Betul, kita bisa sekalian keliling Jakarta.
Kita bisa melihat laut – melihat hutan bakau !
Yang lain berujar: ya, ya: kita tinggal di jalan tol, bergerak selalu dan keliling Jakarta sekaligus!

Lokasi ?

Jalan Tol Dalam Kota mengelilingi Jakarta melewati titik strategis kota, namun didedikasikan kepada kendaraan pribadi. Sementara masyarakat semakin terpinggirkan dengan kecenderungan perencanaan yang membuat mereka menjadi budak kendaraan pribadi.

Jalan Tol dalam Kota didalamnya meliputi Jalan Tol Pelabuhan, Jalan Tol Wiyoto Wiyono dan Jalan Tol Cawang Pluit menyambung menjadi satu sepanjang 45 kilometer dengan lebar jalan berkisar antara 20-30 meter. Dan tambahan, dapat juga dimasukkan rencana ‘gila’ pemerintah  dengan 6 ruas jalan tol baru didalam kota dengan panjang mencapai 85 kilometer.

Meniti Impian – MenJALANi Ruang – MengALAMi Jakarta
Maka proposal ini hendak secara radikal menggugat jalan tol: lahan yang tepat untuk RUANG (tinggal) BERGERAK, berdampingan dengan transportasi massal dan ruang publik (entah itu ‘berwarna ruang’ hijau, biru, ungu atau pelangi).

RUANG (tinggal) BERGERAK memungkinkan penghuninya untuk berkomuter bersama-sama komunal dengan rumahnya. Mengelilingi Jakarta lewat ‘bentuk’ yang terus bergerak – namun kadang diam ketika si penghuni ruang ingin diam.

MengALAMI Jakarta dari berbagai sisi; memandang Monas dari Utara, Selatan, Barat Daya Jakarta; mengintip hijaunya lapangan golf di Kemayoran dan sisa danau besar di Sunter; hingga bermandikan gemerlap malam di puncak Semanggi. Dan semua itu bukan dialami didalam alat komuter, tapi terjadi didalam RUANG (tinggal = rumah) BERGERAK.

Untuk lebih membantuk merelasikan diri dengan proposal ini, bisa dilihat masukan sebelumnya:

Urban Sprawl di Jakarta: Korelasi antara Ketergantungan Kendaraan Bermotor dan Perencanaan Kota

10 Mitos Ketergantungan Kendaraan Bermotor versi Jakarta