Saya berkenalan dengan Mbak Shanty secara tidak sengaja – yaitu saat beliau membaca blog ini mengenai salah satu paper lampau saya yang berhubungan dengan Community Action Planning dan Pemukiman.

Dan ternyata kami berkumpul juga di komunitas yang sama, yaitu komunitas peta hijau Jakarta. Lalu saya berkenalan dengan komunitas lain lewat Mbak Shanty yaitu Komunitas Rumah Bersama, yang hingga saat ini sudah memiliki anggota dari 9 keluarga. Komunitas ini berusaha mewujudkan Rumah secara Kolektif, dengan memakai prinsip-prinsip CoHousing yang diadopsi dengan budaya Indonesia serta kondisi keluarga itu.

CoHousing adalah sebuah komunitas yang memiliki keinginan sama (intentional) untuk membangun, mendiami dan mengelelola kelompol rumah bersama-sama dan memiliki beberapa fasilitas yang dipakai bersama-sama, tanpa perlu kehilangan fungsi privat sebuah rumah.

Fasilitas komunal dalam sebuah cohousing bisa berupa ruang bersama, ruang makan besar+dapur, ruang cuci, kolam renang, ruang bermain, tempat penitipan anak, gudang, bengkel hingga sarana olahraga. Dalam fasilitas komunal juga dapat dibangun kamar-kamar tidur yang kelak dapat disewakan atau untuk tamu menginap.

Bentuk CoHousing bisa berupa townhouse, rumah tunggal, atau flat. Lokasi bisa berada di pusat kota hingga pinggiran kota – asal setidaknya dekat dengan sarana transportasi umum. Karena lokasi dan bentuk memiliki banyak variasi, maka CoHousing bisa menempati sebuah lahan kosong hingga bangunan terbengkalai.

Berbekal empati dan keingintahuan, maka saya membuka Workshop CoHousing bagi mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan – sehingga setidaknya membuka jalan bagi komunitas untuk lebih ‘memasarkan’ komunitas mereka.

Workshop ini sedianya berjalan selama 1 bulan, 8 kali pertemuan dengan disisipi kuliah tamu dari 2 ahli di bidangnya, yaitu Ahmad Djuhara untuk presentasi rumah murahnya, dan Suryono Herlambang (kepala jurusan planologi Universitas Tarumanagara). Produk akhir yang diharapkan adalah perencanaan tapak, maket tapak, pengenalan luasan ruang, RAB, desain skematik dan brosur serta poster. Sedianya mahasiswa yang ikut dibatasi15 orang, namun karena minat yang membludak, akhirnya terpaksa menerima 20 orang.

Semoga workshop ini mampu menghasilkan alternatif barubagi penyediaan rumah untuk kaum menengah.

Lebih lanjut mengenai proses dan kemajuan workshop dapat dilihat disini.