Adalah judul salah satu proposal di workshop Arsitek Muda Indonesia.

Adalah saya ketika itu merasa frustasi harus berada di luar rumah saya di hari Minggu selama 15 jam. Yang kemudian mempertanyakan pada diri saya sendiri, rumah saya itu di jalan (mobil) atau di Sunter? Sebetulnya ini bukan pemikiran baru, tapi hanya pemikiran sederhana yang setidaknya pernah menghantui para komuter yang berasal dari non Jakarta (Bekasi, Serpong, Depok, Karawaci, Tangerang, dll).

Usulan yang sangat sederhana, menjadi tidak sederhana ketika ditempatkan di jalan tol. Terutama ketika berbenturan dengan pemikiran konservatif yang mempertanyakan kemungkinan jika jalan tol tersebut berubah menjadi kediaman. Lebih berbenturan lagi, ketika mencoba memakai bahasa puitis, mencoba mengeksplorasi akan kemungkinan kediaman yang melewati batas diam tersebut: kediaman yang bergerak, atau kegerakan yang menetap. Ternyata batas melankolis berbentur dengan perbedaan generasi. Tapi pada akhirnya saya pun lega, karena dalam desain unit habitat (ruang tinggal/kediaman) yang ditawarkan ada kegerakan dan temporalitas disitu. Entah dalam bentuk interior, maupun ke-sementara-an ruang tersebut. Kadang bentuk arsitektural lebih baik digambarkan, bukan didramatisir dan dipelintir, yang ada hanya orang salah kaprah.

Proposal itu tidak akan terwujud tanpa berkat bantuan dan kiprah 6 orang yang luar biasa: Arifin Tan, Evelyn, Julian Pratama, Lia Handayani, Wike Kartajaya dan Yohanes Budiyanto. Yang dalam kesibukan perkuliahan dan pekerjaan mereka masih menyempatkan dan mendedikasikan waktu mereka untuk menyelesaikan workshop ini hingga tahap akhir. Merekalah komuter yang tak tergantikan dalam proses ini. Tanpa mereka, tak ada panel-panel A0 dan maket-maket terpampang di Galeri Salihara.

Terima kasih atas waktu yang sangat menyenangkan. Saat ramai-ramai membawa tumbler dan menunggu Starbucks jam 5 sore demi mendapatkan diskon 50%, atau saat kita sedang serius mengerjakan panel A0 namun diguncang gempa, dan serempak menghambur keluar dengan meninggalkan laptop dan segala barang berharga. Atau menjadi penghuni tetap perpustakaan UPH untuk beberapa hari, menjadi terkenal diantara pihak kemanan perpustakaan atau ruang studio.

Saya sangat mengharapkan workshop ini pun berbekas dalam ingatan kalian dan kalian mendapatkan manfaat darinya. Seperti saya yang mendapatkan nostalgia dan kenangan akan masa-masa kuliah lampau saya yang (sangat) indah, dan saya berterima kasih untuk itu pada kalian.

Jangan pernah kapok mempertanyakan sesuatu, pertanyakan terus kota kalian, olah terus pemikiran kalian, dan mampukan diri kalian agar terkadang mampu lepas ‘dari pesanan individual’ masa datang, dan agar kalian pun tetap mampu bermimpi dan tetap bisa terbangun di masa kreatif nanti yang masih jauh terbentang.

Proses berbengkel kerja kami dapat diikuti disini: http://dedikasikomuter.wordpress.com/