Perpindahan dan pergerakan manusia tidak bisa dilepaskan dari kejadian dan tempat. Jika sebelumnya saya terpesona dengan gerak komuter dan migran, maka kali ini dengan pergerakan pemudik.

Jika hidup komuter adalah peralihan, maka bagaimana dengan pemudik? Keduanya jelas bukan migran, karena keduanya berpindah tempat menguasai ruang dalam kurung waktu tertentu. Namun di saat bersamaan, ternyata keduanya mampu berhenti diluar maupun menurut keinginannya.Lalu bagaimana pemudik itu? Membaca beberapa artikel dan kejadian sepanjang ‘ikut mudik’ ternyata memperkaya wawasan dalam memahami budaya. Perpindahan besar-besaran dan serempak yang terjadi dalam hari Lebaran ini hanya dapat disaingi dengan fenomena serupa seperti Tahun Baru China (serempak di China, Hongkong, Taiwan, Korea, Vietnam) atau Thanksgiving di Amerika. Namun bercampur aduknya makna, mitos, dan motif bermudik berbeda dengan kedua peristiwa lainnya. Ini dia yang menjadi gado-gado mudik sebagai perpindahan (sementara) dan pergerakan.

Terasa lebih afdal: begitu kata banyak pemudik seperti yang tertulis dalam Kompas edisi Jawa Barat. Menarik pada akhinrya mudik dianggap sebagai penentu keberhasilan merantau dan sarana eksistensialisasi diri. Dan pemahaman ini melanda banyak pemudik, sehingga tujuan mudik (untuk bersilahturahmi dan berkumpul dengan keluarga) telah bergeser jauh. Jika tujuan mudik lampau lebih mencapai kepuasaan psikologis dan rohani, maka tujuan dan motif mudik kini mulai menjadi bagian dalam lingkaran konsumtivisme dan badani.

Pengatasnamaan mudik yang membabi buta juga menjadi fenomena yang menarik sekaligus menyedihkan. Demi mudik, rela berjejal-jejal di bus maupun kereta. Demi mudik, rela berhimpitan di motor – memenuhi 1 motor dengan 4-5 penumpang. Atas nama mudik, ada balita kehilangan nyawa, banyak manusia terlindas kendaraan. Pertaruhan nyawa itu juga demi mengejar harga murah dalam bermudik. Walaupun akhirnya muncul pertanyaan puitis, basi nan membosankan: Sebegitu murahkah nyawa manusia? Tentu saja, realita seperti itu seakan berada di luar akal sehat – dan hanya didorong oleh romantisme suatu tradisi dimana tradisi pun mulai bergeser maknanya.Tulisan luar biasa dari Prof. Amin Abdullah itulah menjadi salah satu pendorong untuk mencermati fenomena mudik.

Bagi seorang Umar Kayam: Lebaran adalah saat dimana orang melakukan kegiatan solidaritas untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai budaya dan sosial tanpa membedakan latar agama, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Untuk itu, mudik atau kembali ke akar sosial dan budaya merupakan salah satu aktualisasi yang dipilih masyarakat kita baik di kota maupun di desa. Sehingga mudik menjadi kegiatan sosial dan budaya. Namun (sesuai dengan artikel tersebut), nilai luhur sosial budaya tersebut tercemari dengan kegiatan konsumsi, kapitalisasi dan komodifikasi. Dan tentunya kegiatan yang membahagiakan itu, justru pada akhirnya menjadi beban bagi kalangan tertentu. Diperparah ketika banyak yang takabur, tidak bisa membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Termasuk juga ketika ‘keharusan’ akan bermudik dilatarbelakangi dengan kultur konsumsitivisme, dan bukannya kultur dan ritus mulia. Karenanya tepat jika diakhir tulisan, Indra Tranggono menulis demikian: Masyarakat perlu mengubah kultur Lebaran dari kultur konsumsi ke kultur yang kuyup nilai-nilai spiritual dan sosial. Karena itu, masyarakat membutuhkan Lebaran yang lebih asketis. Dengan asketisme itu, masyarakat mampu menggenggam pencerahan.

Akhirnya apa yang bisa saya simpulkan dari sekian banyak tulisan dan pengalaman berdampingan dengan pemudik. Apakah seperti Umar Kayam, yang menganggap mudik sebagai sesuatu yang tidak jelas: keajaiban fenomena agama, sosial dan budaya? Seperti layaknya berkomuter, bermudik pun bisa diprediksi, terencana, dan jelas arahnya. Namun jika komuter didorong oleh ekonomi, maka pemudik tidak demikian:

1. Dia memiliki banyak rupa dan wajah.

2. Terjadi kekaburan antara kebutuhan dan keinginan, dimana kebutuhan ter(atau di)konsumsi oleh keinginan.

3. Mampu menghilangkan realitas dan mengaburkan akal sehat.

4. Ketika ada sesuatu yang direlakan atau tidak dihargai, dan semua itu akan sangat sia-sia jika ditujukan untuk pemenuhan romantisme dan ilusi.

PS: Diluar berbicara tentang perpindahan:

Jika dirunut lebih jauh lagi, ada banyak fakta-fakta menarik selama bermudik, terutama dengan pilihan motor sebagai alat bermudik: jumlah pemudik sepeda motor naik (berita tahun lalu, diulang lagi tahun ini) atau justru malah bertambah! Balik lagi ke artikel awal, maka hubungan antara prestise dan murah semakin menguatkan keberadaan motor. Tentunya hal tersebut di perparah dengan kondisi kendaraan umum – entah itu kereta dan bus – yang entah mahal tak terjangkau atau tak tersedia sesuai kapasitas kelasnya. Jika mudik dengan motor, maka tidak ada harga kenyamanan yang perlu dibayar – sehingga kenyamanan dan keamanan terkadang menjadi nomor dua atau kesekian. Namun biarlah ini menjadi studi para budayawan, ahli transportasi, dan sebagainya: demi melihat fenomena ini, memperbaiki kondisi, agar mudik tahun-tahun berikutnya menjadi lebih nyaman, manusiawi dan terjangkau bagi semua orang.