Dari Desa Grabag untuk dunia.

Sore itu saya tersentuh menonton salah satu film dokumenter nominasi Eagle Award, bercerita tentang TV komunitas Grabag TV. Apa itu Grabag TV: dia adalah antitesis dari segala produk TV urban Indonesia yang dipenuhi infotainment, sinetron, ‘dramatisir’ tragedi dan acara realitas. Seperti semboyannya: dari, untuk dan oleh komunitas, maka isinya pun seputar kehidupan kampung dan warganya.

Ketika warga Grabag mendapat pertanyaan : Acara favorit mereka di Grabag TV. Ada yang bilang: campursari. Ada lagi yang suka acara musiknya, dan para petani bilang suka dengan acara tips-tips bertani. Kegiatan warga satu sama lain pun menjadi dekat, ada acara shooting yang melibatkan sekolah, ada juga yang melibatkan warga setempat. Para pemuda belajar untuk mengoperasikan alat-alat, sementara para ibu-ibu menanti kapan giliran mereka masuk TV. Mereka berembug bersama, mereka berdiskusi. Mereka mensiasati alat-alat, dengan segala keterbatasan yang ada berupaya untuk tetap menyajikan yang terbaik. Komunikasi tidak lagi terjalin satu arah dan penuh dengan komodifikasi serta fetisisme material, namun yang ada lebih membumi, mendidik dan membentuk karakter.

Sekilas saya pernah menyaksikan TV komunitas lain. Saat itu saya berada di Amurang, Sulawesi Utara. Kota-desa berjarak sekitar 100 km dari Manado, juga menyiarkan serupa tapi tak sama dengan desa Grabag. Saya sangat tersentuh dengan pengalaman saya di Amurang, dan tertegun dengan Grabag.

Mereka tidak kampungan. TV-TV nasional itu yang kampungan. Kampungan karena terjerumus pada rating, akhirnya bertumpu pada sinetron dan berdiri diatas komersialisasi derita.