25 November 2009

Objective: Singapore Design Week, Design City 2050, Marina Barrage, Ion (Muji, ya ya, saya tahu di Jakarta juga ada), Wheelock (toko coklat yang kayak apotik itu, desainer yang sama dengan Times nya UPH) .
Singapore Design Week dan Design City 2050 adalah rangkaian acara yang berhubungan dengan desain (mulai dari grafis, foto hingga arsitektur).

Tenggat waktu balik York Hotel : 2.30 PM

6.30 AM : bangun, buat teh, mandi

7.45 AM : makan pagi

8.30 AM : keluar dari hotel, titip barang di 206

8.35 AM : Quincy Hotel (Ong+Ong), 22-24 Mt. Elizabeth Road
Hotel butik terbaru dengan kolam renang atap transparan.

8.50 AM : naik bus ke Australian High Commission (depan Singapore Botanical Garden) demi melihat pameran mahasiswa COFA-UNSW dan Woodheads International. Melewati Camden Medical desain Richard Meier, sudah hampir 20 th kali, tapi masih menarik untuk dilihat.

8.55 AM : Sampai di AHC, harus antri dan security check, sihhhhh dan tidak bisa bawa kamera, tidakkk !!!!

9.05 AM : akhirnya sampai juga didalam gedung dan menikmati ide2 dari mahasiswa COFA tentang how you define Singapore Success? Hehe🙂
Dan Woodheads tentunya

9.20 AM : Keluar di AHC dan menunggu bus balik ke Orchard MRT

9.30 AM : ada didalam MRT menuju Marina MRT

9.35 AM : menunggu bus menuju Marina Barrage dan akhirnya

9.50 AM : sampai di Marina Barrage, langsung ngacir foto2 di tepi luar Barrage (kepanasan) dan menuju Sustainable Singapore Gallery demi menggali dan mengamati lebih dalam lagi. Tapi untuk kedua kalinya, lupa melihat ruang pompanya, hihi.

10.45 : Menunggu bus balik ke MRT Marina

11.00 : didalam MRT Marina menuju City Hall depan Padang

11.15 : Sampai di City Hall MRT, memutar menuju City Hall. Akhirnya sampai juga, Dari lantai 2 hingga 4 penuh dengan eksibisi. Terima kasih untuk kartu nama Rujakku, dapatlah press kit dan tag Media, untuk pertama kalinya saya dilabeli sebagai media🙂

11.20 : Penjelajahan didalam City Hall dimulai. Sayangnya ada beberapa eksibisi yang tutup. Setidaknya saya melihat 10 ruang eksibisi dengan tema dan negara yang berbeda. Dari Taiwan, Inggris, Itali, Singapura, Prancis dan satu negara Eropa Timur yang mendadak amnesia saya lupakan namanya.
Highlights:
1. Melihat desain souvenir Singapore yang amat sangat kreatif dan kental akan keSingaporeannya.
2. Upaya arsitektur Italia untuk bangkit
3. Ternyata desain ala Rusia masih ada🙂
4. Sayang instalasi ruang publilk untuk orang buta tutup!! Padahal saya sangat pingin lihat.
5. Gambar Carlo Scarpa keren🙂

1.15 PM : Kabur dari City Hall. Naik bus berhenti 1 stop saja untuk ke

1.15 PM : kantor Woha di 29 Hongkong Street demi melihat visi Singapore 2050 dimata mahasiswa NUS. Workshop ini diadakan dibawah bimbingan principals WoHa.
Kantor WoHa merupakan 2 shophouses yang diubah menjadi kantor. Saya pingin mampir ke lantai 5nya untuk melihat open air lounge nya, tapi Basheer sudah memanggil

1.35 PM : keluar dari kantor, dan jalan cepat2 ke Central Clarke Quay melewati orang-orang yang sedang makan siang, sighh, saya belum makan dan haus😦

1.45 PM : sampai di Bras Basah Central sampingnya Ken Yeang’s National Library. Dan hiksss, mereka sedang bazaar buku dan segala buku ada kaliii. Tapi Basheer di lantai 4 sudah menanti …..

1.50 PM : tiba di Basheer. Ambil buku WoHa (di Aksara mahalnya amit2), 3 edisi a+t, dan 1 buku tentang kompetisi. Bersama dengan 2 hunting buku hari sebelumnya di Books Actually dan Borders plus buku tentang arsitektur Italia yang saya beli di City Hall, total ada
10 buku teballl yang dibeli (dan harta terbaru saya adalah kumpulan kritik dari Ada Louise Huxtable: On Architecture!!). Ternyata disana lama karena yang a+t nya nyempil ! Selamat tinggal Muji dan cafe coklat.

2.20 PM : Setelah urusan GST dll selesai, tunggu bus di bawah. Sial, 5 buku beratnya kayak karung beras. Tuh buku Woha sudah hard cover, besar pula. Apalagi sebelumnya sudah ada buku itali, press release desing week, dan segala brosur yang ada disana.

2.45 PM : sampai di belakang Ion … Sial, buku2 dan brosur2 sudah bikin tangan mau putus. Ditambah lagi jalan nanjak😦
Selamat tinggal Muji (iya tahu, di Jakarta ada)

2.55 PM : sampai di hotel, bus ke airport sudah mau berangkat. Untung koper dan barang2 ikea saya sudah dimasukkan ke bagasi🙂

Lalu apa ‘moral story’ dari cerita perjalanan ini? Bukan menunjukkan apa yang saya lakukan hari itu, atau pamer ya.
Saya merasa, dengan perencanaan mendetail (melewatkan waktu 1 jam malam sebelum untuk menghitung waktu dan menyusun jadwal), peralatan pendukung yang reliable (BB, google latitude dan promo XL-M1 adalah triple combo maut!), sarana transportasi publik yang terjangkau, jejaring trotoar, dan bangunan yang saling terkoneksi satu sama lain (bukan tipe loe-loe, gua-gua) ditambah sangat terjangkaunya biaya transportasi plus disiplin pengemudi bus yang tepat waktu: menjadikan saya mampu mengunjungin 5 tempat berbeda dalam jangka waktu kurang lebih 6 jam. Biaya yang saya habiskan berdasarkan kartu mrt saya sekitar 5 SGD!

Pemikiran awal: MRT adalah salah satu jawaban akan masalah mobilitas. Bus memperbaiki masalah aksesbilitas. ERP memaksa orang berpikir panjang untuk punya mobil. Jalur pejalan kaki dan hubungan harmonis antaranya dengan bangunan dengan sesamanya dan infrastruktur transportasi membuat mudah pejalan kaki dan seakan menganjurkan kita si penghuni kota (citizen) untuk berjalan kaki. Mereka tidak bisa jalan sendiri, mereka bergantung satu sama lain. Dan sebagai bonus: Google Maps menjadi instrumen urban dan transportasi yang mampu melengkapi dan menjadi penyatu manis bagi semua unsur transportasi dan kota diatas.

Elisa: happy google user🙂