Ini cerita tanteku.
Dulu, dia mengendarai mobil kemana-mana. Pernah terserempet, pernah ditabrak, usianya juga lebih setengah abad.
Dia tinggal di gated community, tanpa pedestrian dan berpagar tinggi.
Tanteku senang ke Glodok, Citraland, hingga Taman Anggrek dan Pondok Indah Mall. Atau menjenguk cucu di Kelapa Gading.

Tahun ini ada jalur TransJakarta lewat didepan rumah tante. Dengan segala pengalaman buruknya, tante berpindah ke TransJakarta.
Di pagi hari, dia bisa kembali ke masa kanaknya, saat bermain bebas di Kota. Membayar 2000, berangkat jam 6 pagi. Hanya perlu waktu kurang dr 20 menit. Ujarnya: ‘enak naik busway, kayak mrt di singapore.’

Seorang tante-tante, dari golongan menengah, tinggal di gated community, hidup makmur dan memiliki mobil. Tapi dia bisa berpindah pola dengan mudah begitu jalur TransJakarta lewat persis didepan kompleksnya.

Jakarta adalah kota yang tidak konsisten, meninggalkan program setengah jalan, untuk program yang lain. Program TransJakarta terlupakan, malah menyambut proyek 10 trilyun MRT atau puluhan kilometer 6 lajur baru jalan tol dalam kota. Perjalanan TransJakarta baru dimulai, tapi sudah disunat dan tidak jelas kelanjutannya.