Sebetulnya catatan ini sudah membuat saya gatal dari bertahun-tahun lalu. Kegundahan muncul sejak tahun 2008 dengan munculnya properti yang selalu membawa embel2 hijau, entah dalam klaimnya maupun namanya. Sehingga munculah tulisan kegundahan saya disini dan disini. Keduanya adalah tulisan sama, namun yang terakhir adalah versi original dan memuat beberapa opini dan diskusi antar rekan.

Bagi para optimis, mereka mungkin dapat melihat ke”hijau”an produk tersebut sebagai hal yang positif. Mereka bilang, tak apalah salah sedikit, tapi setidaknya ada yang memulai. Ada lagi yang bilang, anggap saja sebagai proses pembelajaran.
Tapi saya tidak bisa begitu dan duduk diam mulut terkunci. Saya jengah. Karena saya jengah, jika ke”hijau”an developer hanyalah di permukaan saja demi marketing gimmick. Properti butuh trend baru, agar produknya laris manis. Properti di Indonesia butuh tema, makanya ada satu periode dimana produk real estate berasa seperti produk keluaran Dunia Fantasi.

Saya jengah dan blingsatan ketika mereka menyantap kekhawatiran dan keprihatinan dunia, yaitu global warming dan climate change, sebagai strategi dan cara berjualan. Ini masalah serius, bukan waktunya promosi kredit dan konsumsi. Di saat dunia seharusnya mengerem tingkat konsumsi, produksi dan sampah, maka mereka justru memakai isu tersebut supaya terjadi konsumsi dan konsumsi terus. Ini tak hanya terjadi pada developer, tetapi juga pada produk-produk non real estate. Untuk mudahnya sebut saja upaya-upaya ‘mencat dirinya hijau’ sebagai Greenwashing. Penjelasan singkat mengenai Greenwashing dapat juga dibaca disitus GreenLifestyle disini dan disini.

Kegundahan akan produk-produk ‘green’ – baik yang benar-benar green maupun tidak – juga dituangkan dalam pertanyaan disini. Akankah justru produk2 tersebut membawa pada tingkat konsumsi yang baru? Tapi itu pertanyaan lain yang bisa didiskusikan pada kesempatan berbeda.

Kembali lagi kepada trend hijau. Pertengahan tahun 2009, saya sangat terganggu dengan iklan properti yang terletak relatif dekat dengan rumah saya. Didalam iklan tersebut tertulis besar-besar: Buy Green To Make Green. Dan dibawah iklan tersebut tertulis: The Royale Springhill Residences: The first green apartment in Indonesia. Saya terganggu, dan tergelitik. Kemudian saya mengamati maket, melihat lokasi, melihat kantor pemasaran, meminta brosur, dan membaca website mereka disini. Saya berusaha menggali informasi dan membandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman saya selama ini: Bagaimana mereka dengan beraninya mengklaim diri sebagai ‘The first green apartment in Indonesia”.

Tapi akhirnya saya tidak tahan, sampai 2 hari lalu saya mengambil brosur lain, yang kembali mengklaim hal yang sama. Dan akhirnya ketika saya mencoba meng-google mencari informasi baru tentang proyek tersebut, saya malah menemukan berita luar biasa lagi, seperti yang saya baca disini. Lebih berani lagi mereka mengklaim begini: The one and only concept Apartment in Indonesia with Green Label Certification.

Kemudian saya tuangkan dalam status facebook saya, dan komentar dari beberapa kontak pun cukup menarik. Dan salah satunya malah memberitahukan siapa-siapa nama orang yang sebaiknya dihubungi untuk saya tanya lebih lanjut. Dan dari situ saya bertemu fan page The Royale Springhill Residences. Wah saya pikir pas banget nih, setelah beberapa kali gagal mengirimkan email melalui contact us nya situs resmi Springhill Group. Akhirnya saya (terpaksa) menjadi fans, demi bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mengganjal sejak 6 bulan lalu! Kalau tidak dikeluarkan, saya bisa ambeien kali.

Saya bertanya beberapa hal yang mendasar: atas dasar apa mereka mengklaim dirinya sebagai the first green apartment building? Apakah sudah ada standarnya? *sayangnya saat ini semua pertanyaan dan jawaban dari pihak marketing DIHAPUS dari wall fan page tersebut – bukti ketidakprofesionalan atau ketidakdewasaan ? Tapi itu cerita lain. Tapi untungnya saya masih menyimpan jawaban-jawaban mereka dalam inbox notification saya! Fiuh …

Mereka menjawab kurang lebih begini: “meminta saya untuk menghubungi mereka, supaya mereka bisa menjawab pertanyaan saya.”

Tentu saja itu hal aneh bukan? Bukannya saya sekarang saya sedang menghubungi mereka. Lalu saya meminta mereka menjawab di ruang publik saja. Karena pertanyaan saya ini untuk kepentingan publik juga.

Dan berikut yang mereka jawab:

"Group kami adalah Founder of Green Building Council di Indonesia. Dan The Royale
SpringHill sendiri didesign oleh tenaga2 profesional dibidangnya masing2 salah
satunya dibagian arsitek yaitu xxxxxx xxxxx, beliau merancang gedung dan tata
letak didalamnya sedemikian rupa supaya The Royale SpringHill hemat energi.
Dan dengan besarnya nominal yg dikeluarkan untuk project kami The Royale SpringHill
tentunya kami tidak hanya sekedar bicara. Terima kasih,kami harap penjelasan dari
kami cukup.  "

Waow, jawaban yang mengejutkan dan sekaligus menunjukkan kedangkalan pengertian mereka atas kata green. Terutama dibagian ‘besarnya nominal yang dikeluarkan untuk project kami’. Terlebih lagi mereka menitikberatkan pada status mereka sebagai Founder Green Building Council Indonesia – sejajar dengan Pertamina dan Medco yang menjadi founder juga. Dan tentu saja jawaban tersebut BELUM menjawab pertanyaan saya yaitu dari mana dan apa standar klaim The First Green Apartment di Indonesia.

Lalu untuk kedua kalinya saya tanya lagi, dari mana asalnya klaim tersebut. Dan darimanakah asal Green Label Certification yang diklaim oleh beberapa situs dan iklan2 online lain. Dan saya pun  menambahkan beberapa pertanyaan, seperti, jika susah menjawab, tolong jawab beberapa pertanyaan standar yang menyangkut apakah bangunan itu hijau atau tidak, misalnya: bagaimana penghuninya bermobilisasi, apakah ada angkutan umum (LEED tahun 2005 sudah memasukkan moda transportasi publik sebagai salah satu penilaian), apakah catnya mengandung bahan beracun, bagaimana mereka mengolah sampah, bagaimana mereka mengolah air hujan, resapan air, etc etc etc … (saya lupa berapa banyak lagi, karena komentar saya sudah dihapus mereka). Itu adalah pertanyaan standar yang ada dalam Basix, Green Star Rating (Australia) maupun LEED (US GBC). Dan saya mencoba cek situs Green Building Council Indonesia, dan mencoba mencari apakah standar versi Indonesia sudah keluar atau belum. Hasilnya kurang memuaskan, hanya ada berita di Jakarta Post yang mengatakan katanya sudah keluar dan bakal dijadikan Peraturan Gubernur di tahun 2010. Menilik dari pemberitaan Jakarta Post, maka inilah kurang lebih yang bakal ada dalam LEED versi Indonesia:

The main “Greenship” guidelines are:

The availability of access to public transport

The availability of parking spaces for bicycles and changing rooms

The management of rainwater

The protection or restoration of open spaces

The constructing of absorption wells

The usage of water-efficient plumbing

Water quality and usage monitoring

The recycling of “wudhu” (Islamic method of washing oneself before praying) water

The usage of grey water and black water recycling systems

The monitoring of a building’s energy usage

Reporting on emission reduction

Optimizing the usage of environmentally friendly cleaning products

Using recycled materials

Smoke-free building

Natural lighting

Surveying the building users’ comfort – dikutip dari sini.

Saya pun memakai aturan universal yang pasti ada di setiap negara – terlepas dari kondisi geografis kota tersebut.

Dan ini dia jawaban mereka:

"Terima kasih atas pertanyaan2nya, semua akan kami tampung. Kembali bahwa kami
adalah bagian marketing dari The Royale SpringHill, bila ibu ada wkt silahkan mampir
untuk lihat lokasi dan unit contoh yg ada di lokasi. Kami harap setelah semua
pertanyaan ibu kami jawab ibu bisa membeli product kami. Salam sejahtera."

Dan setelah itu saya menjawab lagi, tapi tidak bisa muncul di wall mereka. Dan ternyata, selidik punya selidik saya sudah di UN-FANS, alias dikeluarkan dari fans mereka. Dan ketika saya iseng mencoba masuk lagi dalam fans mereka, saya tidak bisa memberikan komentar sama sekali.

Hingga sampai saat terakhir pertanyaan saya tidak terjawab. Saya bertanya 1+1, tapi jawaban yang mereka berikan adalah A,B, C alias ‘gak nyambung bo’. Seandainya pun green certification mereka berasal dari GBCI (saya masih berusaha mencari berita penganugerahan Green Certification kepada TRSR – tapi masih NIHIL hasilnya), lalu apakah desain mereka sudah mencerminkan ketentuan rilisan baru GBCI diatas? Bukankah pertanyaan yang saya tanyakan memiliki kesamaan dengan rilisan GBCI.

Tak lama kemudian, di fan page tersebut keluar tulisan begini:

Mohon maaf friends in green, kami tdk melayani perdebatan dalam forum ini. Bila teman2 ingin tahu lebih banyak tentang The Royale SpringHill, silahkan datang ke lokasi dan kami akan memberikan informasi yg teman2 butuhkan. Trims

Tadinya saya ingin bertanya dan mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, apakah pertanyaan dapat disamakan dengan perdebatan? Tak hanya komentar saya yang dihapus, ada juga yang mengatakan saya ‘kepo’ – bahasa yang saya tidak sangka akan saya temukan di sebuah fan page yang mengaku produknya unggul, tidak mengerti Springhill sama sekali – kritik tanpa tahu duduk masalah, dan lain-lain sebagainya.

Saya belum berani mengklaim bahwa Properti diatas melakukan GreenWashing atau tidak, karena hingga saat ini saya belum mendapatkan jawaban resmi dari pihak The Royale Springhill Residence. Walaupun jika dilihat dari situs greenwashing index, maka yang perlu diamati dan dinilai hanya dari iklan dan tampilan situs – tidak perlu jawaban resmi dari pengeluar produk. Tapi saya memberikan ruang bagi The Royale Springhill Residences untuk menjelaskan klaim dan sertifikasi mereka.

Namun ada beberapa hal yang dapat didiskusikan disini terkait dengan pemberitaan Kompas atas taman terbang yang dimiliki The Royale Springhill Residences (TRSR). Jika kita datang ke Springhill, taman terbang tersebut berada diatas basement super besar yang menghubungkan garasi-garasi hunian Springhill Golf Residences yang mengelilingi apartemen TRSR. Jadi ‘taman terbang’ tersebut bak menutupi ‘danau beton’ berisikan mobil-mobil dan jalan mobil. Setidaknya itu persepsi saya yang sudah entah berapa kali mendatangi taman terbang tersebut. Jika dalam artikel tersebut disebutkan 60% dari total lahan perumahan tersebut adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH), tapi apakah RTH yang berupa taman terbang tersebut mampu memenuhi keseluruhan fungsi RTH, terutama fungsinya sebagai resapan air hujan dan mengurangi run off stormwater (duh, Prof Weirick, sampai sekarang saya susah menerjemahkan ini ke bahasa Indonesia). Kemana air hujan meresap ? Ke dinding beton atau dak beton? Big HAHA.

Lalu tidak disebutkan lebih lanjut mengenai 2 fungsi RTH tersebut, yang sangat vital dengan kondisi dan letak pengembangan, yang walaupun secara administratif berada di Jakarta Pusat, namun hanya berjarak beberapa kilometer dari Pantai Utara Jakarta. Dan tentu kita mahfum dong dengan problema Pantai Utara Jakarta, penurunan air tanah (akibatnya juga berpengaruh ke penurunan tanah) dan intrusi air laut ke daratan.

Saya tidak menentang kehadiran green building di Jakarta. Justru saya menyambut sekali akan hadirnya Bangunan hijau yang BENAR-BENAR hijau. Bukan jadi-jadian, gimmick, bogus, marketing kit, alat konsumerisme belaka. Bangunan hijau yang bukan sekadar menempelkan solar panel lalu beres, yang bukan sekadar menggunakan teknologi impor super canggih lalu distempel hijau. Tidak berarti hanya karena memungkinkan cross ventilation dan natural lighting yang baik – maka langsung distempel HIJAU; karena pada dasarnya cross ventilation dan natural lighting adalah syarat sangat dasar bagi sebuah hunian. Tidak berarti hanya karena memasang ribuan pohon disini situ atas bawah maka langsung sertifikasi HIJAU nongol di situs. Hijau tidak semudah dan sesederhana itu.

Persepsi yang salah, tuntunan yang salah, justru membawa kita ke lubang sumur yang dalam. Tujuan yang diinginkan pada akhirnya tidak tercapai.

Mari kita renungkan kembali, apa itu sustainable/green/lestari/berkelanjutan JIKA dilihat dari perspektif Indonesia, khususnya Jakarta. Saya berterima kasih pada Profesor negeri asing dan firma negeri asing tempat saya sekolah dan bekerja dulu (sekitar 6-7 tahun yang lalu – sudah tua saya ternyata) yang telah memperkenalkan saya pada apa itu Sustainable Architecture/Development/city, etc. Dari pengetahuan dan pegalaman serta standar yang berada di negeri asing – mari bersama-sama mencari apa yang cocok bagi kota dan negara kita.