Saya merasa cukup beruntung ketika Japan Foundation mengundang saya untuk turut serta dalam program JENESYS East Asia Young Future Leader. Maaf jika judul programnya sedikit jayus, tapi mau tidak mau harus ada orang-orang yang menjadi ‘leader’ di masa depan bukan. Tapi apakah saya akan termasuk dalam lingkaran ‘pemimpin’ atau tidak, itu urusan lain.

Saya buta sekali dengan program ini, tidak tahu sama sekali, jadi bagi yang ingin berminat turut serta dalam program ini, harap hubungi Japan Foundation Indonesia. Tapi berkat kegigihan staff Japan Foundation dalam upayanya untuk terus menelpon serta karena tidak mau mengecewakan orang yang sudah merekomendasikan saya, akhirnya saya diseleksi dan lolos. Terpikir untuk tidak jadi pergi, karena terkena cacar air tepat 4 minggu sebelum perjalanan, dan belum foto paspor pula. Namun entah bagaimana, kalau misalnya harus pergi ya harus pergi.

Wajib hukumnya bagi seorang (mantan) praktisi arsitektur untuk melakukan ziarah arsitektur, alias architorture — demi mengingatkan mengapa kami yang berprofesi sebagai arsitek memberhalakan diri demi bangunan. Tentu saja beberapa prioritas saya adalah karya-karya SANAA, dan saya beruntung melihat 4 karyanya (3 SANAA dan 1 Ryue Nizhisawa). Kenapa SANAA, ya karena Pritzker. Lalu beberapa karya arsitek lainnya.

Dan seperti biasa, berkat semua aplikasi google, dari google maps, google earth, google translate dan google search – terbitlah rencana itinerary yang cukup detil dan mencengangkan. Lalu berkat beberapa website untuk mencek jadwal kereta dan tarif kereta, semuanya terlihat cukup lancar. Akhirnya saya pun di hari kedua, meluncur dengan berani di kota yang baru pertama kali saya jajaki itu, dan naik kereta. Sekadar informasi ada 616 stasiun kereta di kota Tokyo (ya, kota Tokyo, bukan propinsi Tokyo). Dan mungkin Tuhan tahu ada berapa banyak perusahaan kereta yang beroperasi, dan mungkin ada yang bisa menjawab juga mengapa cuma Toei yang kerja sama dengan Tokyo Metro, kenapa tidak semuanya. Kenapa stasiun untuk jalur JR dan dengan jalur-jalur lainnya (seperti Tokyu, Metro, Odakyu, dll) seperti musuhan. Hanya ada beberapa hal yang pasti, di tiap super development milik Tokyu, dibawahnya pasti ada stasiun kereta.

Semua itinerary, peta, jadwal, jalur jalan kaki dan tarif kereta ada!

Dari segala bangunan yang saya lihat, mulai dari kuil Shinto super moderen di Sasebo sampai kuil Budha di Asakusa yang super ramai dengan anak sekolahan, saya seperti melihat slide show super cepat. Seperti ada didalam Nozomi dan dari kaca jendela saya ada begitu banyak bangunan — setidaknya itu yang terlintas dalam pikiran saya. Ada beberapa bangunan yang sengaja saya simpan untuk perjalanan berikutnya, yaitu tepatnya April tahun 2011 bersama suami. Saya berharap New Tokyo Towernya Toyo Ito sudah jadi saat itu (sekarang masih setengah jalan), begitu juga Tokyo Forum (ya, dari sekian banyak karya yang tidak saya kunjungi, karya besar Rafael Vinoly itu saya lewatkan), Fukutake Hall nya Ando dan Sakuragaku, serta Nezu Museum – karena saat itu tutup. Dan mungkin saat saya kembali ada banyak proyek-proyek baru menyambut kedatangan saya nanti. Sisanya cukup sukses.

Dan dari semua itu, ada satu yang begitu menggugah dan membuat terpana, yaitu Moriyama House dari SANAA. Pritzker 2010 benar-benar tepat!

Setelah turun di stasiun, kami (saya dan Alex Lee dari New Zealand) harus berjalan sekitar 500 meter dan bertanya kesana kemari demi menemukan rumah itu. Kami memasuki gang-gang tipikal daerah perumahan. Saat itu kami sudah berada di Kanagawa Prefecture, alias bukan di Tokyo lagi. Rumah-rumah Jepang, yang sempit, dan gangnya yang sempit, dan kadang hanya bisa dilewati orang dan sepeda saja. Lalu tiba-tiba, dari kejauhan, nampaklah kubus-kubus dan kotak-kotak putih bersih – kontras dengan penampilan abu dan coklat suram tipikal rumah-rumah yang lain.

And here we are ... in front of train station
let's keep walking ....
Look, what we found!

Dari semua ketertutupan rumah-rumah lain, tiba-tiba rumah itu memiliki etalase kehidupan, dengan menampilkan sisi paling privat dalam semua rumah, yaitu kamar tidur penghuninya! Melongok kedalamnya, saya jadi tahu siapa penghuninya. Dia mungkin cowok muda yang modis, terbuka (soalnya gordennya tidak tertutup), dan mungkin sedikit malas – karena tidak membereskan ranjang. Dia seorang arsitek, karena begitu banyak buku-buku arsitek tersusun, dan mungkin suka minum matcha. Masih muda dan sedikit petualang, dan pecinta baseball.

Window Living

Lalu ada lagi yang bisa dipelajari dari karya Toyo Ito. Itik buruk rupa itu memang ada. Dari bangunan yang demikian buruk rupanya – Alex menyebutnya UGLY! – didalamnya ada interior yang demikian penuh mimpi dan serasa membawa kita ke dunia lain.

The Ugly sitting duck
and we have red swans inside

Selain dari karya-karya arsitektur, ini dia daftar 10 hal-hal yang sangat saya sukai di Jepang:

1. TOILET !

2. TRAIN, tepat waktu dan cepat – tapi saya tidak suka Shinkansen Nozomi though😛 bikin saya deg2an karena takut telat naik😦

3. PEOPLE, terlepas dari kesulitan mereka berbahasa Inggris, mereka berupaya sekuat tenaga untuk membantu!

4. FOOD … dari Okonomiyaki hingga traditional Fine Dining di Kyoto🙂

5. Sakura, yep, we got 2 different cherry blossoms, before and after Minamata!

6. SNACK🙂

7. COOL BREEZE SPRING

8. Nozaki Island + The most beautiful beach I ever see!

9. KIT KAT

10. TOKYU HANDS, wakaka🙂

Internet cepat sudah pasti menyenangkan – tapi sengaja gak dimasukkan ke daftar, soalnya siapa sihhh yang gak senang dengan koneksi internet super cepat dan stabil, bahkan di daerah terujung sekalipun?

Saya harap, karya-karya yang saya sengaja saya lewatkan (dan kalau diingat-ingat saya belum lihat Osonbashi di siang hari), tetap membuka minat dan menjaga excitement untuk kunjungan berikutnya. Yokoso Japan 2011!