“The Earth is one, but the world is not”

Our Common Future, 1987

Kutipan diatas diambil dari laporan UN World Commission on Environment and Development, yang telah berusia 23 tahun. Kalimat sederhana tersebut mengawali bab pertama Our Common Future atau yang kerap disebut sebagai Bruntland Report. Jika dijelaskan,  ia berarti dunia (negara) kita banyak, namun bumi kita hanya satu. Menyadarkan bahwa segala kompleksitas, energi, sumber daya, potensi dan masalah 5 milyar penduduk bumi ini berasal dari satu bumi saja.

Kalimat diatas mudah diilustrasikan kedalam berbagai skenario regional, yaitu ketika satu aliran sungai mempengaruhi kehidupan berbagai negara, misalnya Sungai Danube di Eropa dan Sungai Kuning di Cina; satu danau untuk beberapa negara Afrika. Satu yang akhirnya sangat mempengaruhi hidup banyak orang, tetapi ia harus dibagi-bagi.

Untuk pertama kalinya, isu lingkungan ditetapkan diatas agenda politik; serta terlepas dari berbagai kritik terhadap isinya, Bruntland Report berhasil menarik perhatian dunia akan ancaman bersama di masa depan. Popularitas istilah ‘sustainable development’ atau pembangunan berkelanjutan mencuat berkat laporan tersebut.

Pengertian sederhana pembangunan berkelanjutan jika diambil dari Brundtland Report yaitu pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Pengertian tersebut berangkat dari kenyataan bahwa konsep kebutuhan manusia modern, keterbatasan sumber daya dan lingkungan serta ketidakadilan. Dalam ilustrasi sederhana sering sekali pembangunan berkelanjuan digambarkan sebagai tiga cluster sosial, ekonomi dan lingkungan yang saling beririsan. Bisa juga disebut bahwa sosial, ekonomi dan lingkungan merupakan pilar dari pembangunan berkelanjutan.

Pada dasarnya Bruntland Report tersebut banyak mengkritisi pembangunan yang bertumpu pada kemajuan ekonomi belaka dan mengabaikan lingkungan sama sekali. Jepang saat itu dituding sebagai salah satu negara yang hanya menggenjot perekonomian negerinya sendiri namun melakukan pengrusakan di negara-negara lain.

Paska Perang Dunia 1, Jepang mengalami transisi dramatis di bidang sosial-ekonomi dan ditandai dengan kenaikan golongan menengah. Populasi kota meningkat yang sebagaian besar disebabkan oleh migrasi dari daerah rural, sehingga menstimulasi peningkatan pelayanan dalam kota. Dalam hal ini, peningkatan kualitas hidup dinikmati oleh golongan menengah yang tinggal di perkotaan. Untuk studi kasus Jepang paska Perang Dunia 1, urbanisasi memegang peranan penting dalam perubahan tatanan ekonomi dan sosial.

Selain urbanisasi, revolusi industri dalam tatanan kehidupan Jepang turut memegang peranan penting dalam perubahan ekonomi dan sosial. Kebanyakan migran dari rural Jepang menjadi roda penggerak ekonomi Jepang seiring dengan pertumbuhan industri-industri Jepang.

Ketidakseimbangan sebagai awal Tragedi

Tragedi Minamata merupakan contoh tragedi ‘sempurna’, ketika arah kehidupan dan penghidupan hanya berdasar pada kepentingan ekonomi belaka. Paska Perang Dunia Kedua, kebijakan pemerintah Jepang menitikberatkan pada kemajuan ekonomi, dan Minamata merupakan salah satu kota yang menjadi sasaran kebijakan. Dahulu desa nelayan, namun berkat lokasi dan serta kedekatannya dengan laut lepas, pada tahun 1902, Chisso memutuskan untuk mendirikan pabrik dan pelabuhan di pesisir Minamata. Chisso sendiri adalah perusahaan penghasil bahan-bahan plastik dan turunannya.

Seperti layaknya skenario desa yang berubah menjadi kota berkat dorongan revolusi industri, maka Minamata pun menikmati pertumbuhan ekonomi. Dan di lain pihak, nikmatnya pertumbuhan ekonomi itu menyebabkan ketergantungan terhadap industri dan Chisso, baik bagi penduduk Minamata, pemerintah lokal, prefektur dan pusat. Terlebih ketika Chisso mampu menjadi salah satu lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi Jepang di saat itu hingga saat ini.

Ketergantungan berlebihan inilah yang menyebabkan berlarutnya dan peliknya tragedi dan penyelesaiannya, yang memakan waktu hingga lebih dari setengah abad.

Keterpurukan dimulai dari tragedi lingkungan, yang kemudian menyebabkan hancurnya tatanan sosial budaya, dan diakhiri dengan mundurnya perekonomian kota. Satu persatu pilar kehidupan hancur seperti efek domino. Dalam tragedi Minamata, terjadi pertarungan antara ekologi dan ekonomi, dimana ekonomi dianggap sebagai pemenang.

Tragedi tidak musti sesuatu yang terukur, tidak musti harus ada korban didepan mata. Pulau kecil Nozaki, di ujung barat daya Jepang, memperlihatkan sisi lain tragedi. Sebuah pulau dengan pemandangan yang luar biasa indah, air demikian jernih, gereja berdiri anggun di puncak bukit, serta ratusan rusa berlarian dengan bebas.

Namun jika berjalan mengelilingi lebih jauh di pulau tersebut, dapat ditemukan ratusan puing-puing rumah di bagian utara dan selatan pulau. Botol-botol sake berserakan, sisa-sisa kehidupan dan lahan pertanian yang terbengkalai. Sekitar 10 tahun yang lalu pulau Nozaki ditinggal oleh penghuninya. Gereja Katolik yang dengan susah payah diupayakan oleh umatnya selama hampir 3 abad, ditinggalkan begitu saja setelah 60 tahun berdiri.

Tragedi sosial ini bertitik mula sama, mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi. Berbeda dengan Minamata, Pulau Nozaki yang tak bertuan tersebut perlahan-lahan mengalami kepunahan sosial, dan sampai akhirnya ketiadaan kehidupan sosial tersebut, perlahan-lahan mengancam keseimbangan ekologis. Keseimbangan tersebut terancam ketika jumlah rusa membludak, sehingga mengganggu rantai makanan dan termasuk merusak habitat pohon-pohon.

Pulau lain, Ojika, sekitar 30 menit dari Pulau Nozaki, menghadapi ancaman kekosongan yang sama, yaitu diperkirakan seluruh penghuninya akan meninggalkan pulau tersebut dalam jangka waktu 8 tahun jika tidak dilakukan upaya kreatif. Ketidakseimbangan komposisi penduduk muda dan tua, serta tingkat pertumbuhan penduduk yang minus, hanyalah satu indikator.

Pulau Ojika maupun Nozaki seakan-akan hanya dua pulau kecil yang bahkan tak terdaftar di Google Earth. Namun keduanya merasakan dampak global dari apa yang terjadi di dunia dan bumi ini. Ketika kebijakan ekonomi Jepang dan dunia menuntut kota-kota dan negara untuk semakin global. Atau ketika melihat tumpukan sampah di tepi pantai barat Pulau Nozaki dan Pulau Ojika – dan ternyata sampah-sampah tersebut tidak hanya berasal dari Kepulauan Jepang, namun termasuk dari Korea Selatan, China, Vietnam, Philipina hingga Indonesia bagian Utara.

Tragedi sebagai Titik Awal Perubahan

Tanpa berlarut-larut mengetengahkan penderitaan warga Minamata serta carut marut tatanan sosial ekonomi paska Symptom Minamata ditemukan, sehingga lebih memusatkan apa yang menjadi titik tolak perubahan sehingga Minamata kini dikenal sebagai salah satu kota terbaik dalam upaya pemilahan dan pengolahan sampah.

Adalah generasi muda baik dari kawasan Minamata maupun dari luar Minamata yang berupaya keras menyatukan dan memperbaiki kota. Adalah Mazayumi Yoshii, salah satu generasi muda yang tergerak berupaya merubah, dengan langkah pertama yaitu mencalonkan diri sebagai walikota. Saat menjadi walikota, langkah pertama yang dilakukan adalah upacara permintaan maaf di tahun 1994. Sejak pertama kali symptom Minamata merebak 1956, tidak pernah sekalipun pemerintah lokal, prefektur maupun nasional berupaya sepenuh hati memperbaiki hubungannya dengan warga. Yoshii-san adalah yang pertama, walaupun menuai banyak teguran dari tingkatan pemerintah diatanya.

Selain upacara permintaan maaf, Yoshii-san mendorong munculnya gerakan yang kemudian disebut Moyai-Naoshi atau perbaikan tatanan sosial, yang berupaya menyatukan kembali komunitas-komunitas serta warga-warga yang tercerai berai. Dalam gerakan ini, pemerintah daerah berupaya menjadi fasilitator dan menyediakan fasilitas untuk berdiskusi dan ruang rekonsiliasi – tanpa ada maksud sedikitpun menggurui maupun memerintah. Gerakan-gerakan komunitas pun muncul paska Moyai-Naoshi, termasuk diantaranya adalah gerakan pemilahan sampah lingkungan. Hingga saat ini, Minamata mampu menyortir sampahnya menjadi 78 komponen sampah yang berbeda.

Gerakan lain adalah GAIA, yang dimotori banyak dari sukarelawan luar Minamata. Gerakan tersebut berupaya untuk memulihkan kehidupan para nelayan dan keluarganya dengan memberikan alternatif penghasilan bagi mereka. Gerakan sederhana namun memiliki makna luas, yaitu mengajarkan cara bercocok tanam, terutama budidaya jeruk – yang memang sejak dulu kala Minamata sebetulnya popular dengan hasil pertanian jeruk dan produk turunannya.

Tanggal 1 Mei 2010 lalu, pemerintah nasional Jepang, untuk pertama kalinya Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama berkunjung ke Minamata. Peristiwa tersebut demikian bersejarah dan mengawali babak baru perbaikan hubungan sosial secara keseluruhan, yaitu hubungan warga dengan negara.

Sementara di Pulau Nozaki dan Ojika, kelompok pemuda berusaha untuk memulihkan kehidupan sosial, dengan secara kreatif berusaha mengkombinasikan antara ekoturisme dan pendidikan. Di Nozaki dan Ojika,para pengunjung diajak untuk mengapresiasikan dan merenungkan pentingnya keseimbangan ekologi.

Satu Untuk Semua

Manusia hanyalah satu spesies dibandingkan jutaan spesies lainnya di seluruh bumi, setidaknya demikian yang diajarkan dalam prinsip Jimotogaku. Dari berbagai macam upaya komunitas yang muncul di Minamata, Jimotogaku sangat mengedepankan pentingnya kolaborasi, baik antara manusia dengan alam, maupun antara penduduk lokal dan ‘good practices’ dari luar Minamata.

Jimotogaku of the Soil, demikian disebut upaya masyarakat lokal untuk mengenali dirinya sendiri lewat studi terhadap dirinya sendiri. Sementara Jimotogaku of the Wind membuat masyarakat lokal untuk merefleksikan temuan akan dirinya sendiri dengan belajar dan berkolaborasi dengan pengalaman-pengalaman orang lain. Dari hasil kolaborasi antara masyarakat lokal (soil) dan luar (wind) akan menghasilkan kreatifitas dan kemampuan untuk memberdayakan diri.

Prinsip Jimotogaku mengajarkan bahwa jika ada sesuatu yang tidak dimiliki kota, jangan berusaha untuk mempunyai hal tersebut, tetapi lebih pada upaya untuk menghargai potensi yang dimiliki kota dengan berusaha untuk mengoptimalkan hal yang ada. Penciptaan hal baru dapat dicapai dari melakukan kombinasi antara yang sudah ada dengan energi kreatifitas yang dimiliki oleh komunitas.

Upaya menghargai, dimulai dari satu hal yang kecil. Karena dari satu hal tersebut kadang dengan mudah mempelajari potensi dan identitas suatu wilayah. Dari satu aliran sungai, maka dapat dipelajari potensi tumbuhan dan binatang, potensi jangkauan suatu sungai. Kunci dari keberhasilan prinsip jimotogaku, one is everything, yaitu adalah upaya komunitas untuk menjadi sadar akan potensi yang dimiliki.

Secara tidak langsung pengalaman dan kolaborasi seakan menjadi bentuk pendidikan bagi masyarakat lokal dan disaat bersamaan menjadi kumpulan pengetahuan-pengetahuan baru bagi yang lain.

Pendidikan sebagai Jembatan antara Dunia dan Bumi

Semua pengalaman yang diperoleh dari kumpulan tragedi maupun upaya untuk melakukan perubahan, merupakan kumpulan pengetahuan dan pengajaran. Dari seluruh kejadian mengajarkan sesuatu, dan ternyata pengalaman adalah pendidikan yang terbaik.

Pendidikan bisa menjadi jembatan antara rumah dan dunia, antara negara dan bumi, antara manusia dan alam, antara alam dan pikiran. Lewat pendidikan, alam pikiran manusia ditempa sejak awal. Relasi-relasi dianggap ideal dan kebijaksanaan dan kedewasaan manusia ditempa.

Sehingga disimpulkan, bahwa salah satu jalan mencapai dunia yang satu adalah melalui pendidikan. Tetapi pendidikan yang seperti apa? Apakah yang tersegregasi seperti layaknya pendidikan selama ini? Atau apakah yang holistik – pendidikan yang menyeluruh baik secara tubuh, emosi, nalar maupun spiritualitas dan prilaku, dimana dengan ekologi (bumi) menjadi roh dalam tiap bagian pendidikan? Pendidikan holistic yang mengedepankan hubungan/relasi, keseimbangan dan kesertaan, dibandingkan prestasi dan nilai belaka?

Sehingga perlu meredefinisikan ulang mengenai pembangunan (berkelanjutan), bagaimana ia terus berlanjut tetapi tetap mengakar pada lingkungan. Bagaimana membangun kesadaran baru bagi manusia untuk melihat keseluruhan relasi alam dan hubungan-hubungan didalamnya. Model pembangunan berkelanjutan seharusnya memiliki konteks, dan bukanlah model yang general yang wajib diterapkan dimana-mana.

Demikian juga dengan pendidikan. Sudah waktunya mengeluarkan diri dari kotak sekaligus mempertanyakan kembali: apakah tujuan pendidikan itu? Apakah yang ingin dicapai melalui pendidikan yang selama ini homogen?

Tragedi-tragedi diatas, dengan tepat mengajarkan, bahwa tidak mungkin ekologi dan lingkungan hidup menjadi satu bidang sendiri, dimana dengan mudah lingkungan hidup dinominalkan. Tetapi lebih tepat jika ekologi menjadi dasar bagi semuanya. Mengapa demikian? Dengan mudah hal tersebut dijawab melalui kutipan diatas: “Dunia kita banyak, namun bumi kita hanya satu.” Seluruh kegiatan sosial dan ekonomi manusia, tak mungkin terjadi jika tidak ada lingkungan hidup dan ekologi.

Paper diatas ditulis untuk dipresentasikan dalam Seminar Sustainable Development oleh Japan Foundation (30 Juli 2010, Jakarta).

Elisa Sutanudjaja adalah seorang ‘mantan’ arsitek, berpendidikan di Universitas Tarumagara dan University of New South Wales. Dia sekarang mengajar di Universitas Pelita Harapan dan Universitas Tarumangara, dan menjadi peneliti di Rujak Center for Urban Studies. Di waktu senggangnya, dia suka menegur pelanggaran tata ruang yang terjadi disekitarnya, sekaligus menegur Bapeda DKI Jakarta bersama-sama teman-temannya di Koalisi Warga untuk Jakarta 2030. Kegiatan terakhirnya per tanggal 30 Juli 2010 ini adalah baru kembali dari Shanghai setelah workshop marathon bersama 27 delegasi dari negara Asia dan Eropa. Dia dapat dihubungi di elisa@rujak.org