Jakarta sedang dalam masa kampanye pilkada gubernur 2012. Ada 6 calon gubernur bertarung untuk posisi DKI1. Tentu tidak mudah memilih di jaman yang tidak pasti seperti ini, tanpa kejelasan kemana Jakarta dibawa. 5 tahun ditentukan oleh masing-masing individu.

Poster-poster menjengkelkan mulai muncul, atau karena alunan jingle kampanye yang dipaksa masuk ke otak, terngiang-ngiang berulang.

Sementara saya mulai mencoreti, siapa yang TIDAK akan saya pilih:

1. Fauzi Bowo-Nara

Kenapa? 5 tahun apakah belum cukup juga, masih mau tambah 5 tahun lagi? Saya kerap sekali bersinggungan dengan rencana yang ‘ujug-ujug’ muncul, contoh Jalan Layang Non Tol Antasari. Tiba-tiba muncul tanpa diduga.

Lalu ‘tidak berdaya’nya Foke terhadap organisasi tukang buat onar, malah berteman, berjabat tangan. Cukup 5 tahun, dan tidak tambah lagi. Tidak perlu panjang-panjang berargumen. Saya tidak mau berada dalam status quo, saya mau berada dalam jaman perubahan.

2. Hendardji – dan lupa nama wakilnya

Oke, dengan saya lupa nama wakilnya, sudah pasti gak bakal saya pilih, karena tak kenal tak sayang. Pak Hendardji sendiri selalu hadir di tiap acara yang saya adakan. Terima kasih untuk itu. Tetapi sayangnya, saya tidak yakin dengan kemampuannya, terbukti dari komentar-komentar yang beliau berikan pada saat acara-acara tersebut.

3. Jokowi-Ahok

Yang ini jelas-jelas tidak akan saya pilih. Jokowi, saya kecewa sekali saat dia menjawab pertanyaan Mata Najwa ‘Mengapa mau menjadi Gubernur?’, dan dijawab: ‘Karena disuruh partai.’ Oh tidak! Terlepas dari semua prestasinya di Solo (saya yakin itu terjadi juga karena kontribusi wakil walikota Solo juga), orang yang disuruh dan tanpa motivasi serta visi kuat, tidak boleh memimpin Jakarta.

Berdua mereka berslogan “Sudah Terbukti”. Saya menertawakan slogan itu, apa yang mereka buktikan di kota dan kabupaten yang hanya sebesar 2 kecamatan dan kelurahan di Jakarta. Hanya 1 orang yang boleh menggunakan slogan “Sudah Terbukti”, yaitu Almarhum Ali Sadikin.

Saya punya pengalaman buruk dengan Ahok dalam pertemuan sekitar 30 menit beberapa bulan silam di cafe depan rumah saya. Pertemuan 30 menit itu cukup memberikan segudang alasan untuk tidak akan pernah memilih pasangan itu. Arogan (sepanjang pertemuan kerjanya memotong omongan saya, dan seenaknya bikin asumsi sendiri), sok tahu (seenaknya saja mengira saya pendukung Faisal Basri), dan tidak kompeten yang jelas. 3 Jabatan Publik tidak pernah diselesaikan, saya sebut dia kutu loncat untuk itu. Tidak hanya tergiur dengan posisi lebih tinggi dan terus lebih tinggi tapi rela-rela saja pindah partai tanpa malu. Gak kalah malunya dengan Fauzi Bowo untuk itu sih.

4. Hidayat-Didik
Pasangan delusional, saya bilang. Pasangan yang seenaknya menjanjikan Sekolah (swasta!) gratis, pengobatan gratis, dll. Saya tidak perlu membuat perhitungan jumlah harus disubsidi pemda jika menggratiskan pendidikan swasta, bisa berapa triliun per bulan? Sementara wakil pasangan ini adalah seorang ekonom yang pastinya tahu cara menghitung bukan?
Subsidi pendidikan itu penting, tapi kepada siapa dan bagaimana caranya, bukan sekadar seenaknya main gratis saja. Tentu mudah mempertanyakan kredibilitas pasangan ini.
Alasan lain adalah karena jauh sebelum masa kampanye, pasangan cagub dengan slogan Beresin Jakarta, sudah jauh-jauh hari mengotori Jakarta via poster2nya. Kalau pemilihan gubernur berdasarkan jorok dan tak tahu malunya lokasi poster, maka mereka pasti jadi DKI 1.
6. Alex-Nono
Seperti yg nomor 3, saya tidak akan pilih orang yang meninggalkan mada jabatan publiknya. Pasangan ini selain kutu loncat juga delusional, dengan umbar janji 3 tahun bisa! Lalu kalau ditanya balik, bagaimana kalau tidak tercapak dalam 3 tahun? Jawabnya: Mundur.
Gampang sekali …. Tinggal pindah jadi gubernur ke propinsi lain.

Tinggal tersisa pasangan independen no 5 alias Faisal-Biem. Untuk sementara ini saya jarang menemukan kekurangannya, selain kurang poster (tentu melegakan ya!). Ada sedikit kritik saya, adalah Pak Faisal terlalu terus terang dan tajam. Memang dengan iklim politik partai yang selama ini saling jilat dan saling menusuk, terus terang dan gamblang bagaikan angin segar. Semoga tidak menjadi senjata makan tuan buat Faisal, karena benar kata-kata kadang lebih menusuk daripada pedang.
Ada yang menyoroti bahwa Faisal-Biem tidak punya pengalaman. Hmmm, kenal dengan Ali Sadikin? Memangnya dia punya pengalaman sebelumnya? Atau Sutiyoso? (yang digemborkan Ahok bahwa dia pernah banyu Sutiyoso selama 1 th, eeeee tapi saat Sutiyoso mau nyapres, *yahhh, penonton kecewa*). Oke, mungkin Sutiyoso bukanlah contoh seideal Ali Sadikin, tapi saya sengaja iseng saja masukkan Sutiyoso disini karena si Aho bangga banget pernah bantu dia selama 1 tahun.
Faisal tidak punya pengalaman dalam memimpin 9 juta lebih warga Jakarta, itu benar. Tapi dia punya integritas dan kecerdasan luar biasa – yang saksikan Debat Cagub tgl 24 Juni silam tentu tahu kejernihan jalan pikirannya. Dia pun membumi dan tidak malu mengakui bahwa dia salah, ini kualitas yang jarang ada dalam pemimpin Indonesia saat ini.
Tentu, ini seperti pertarungan David VS Goliath, tapi kita tahu kan siapa pemenang duel terkenal itu?