Bibliotheque - Paris
Bibliotheque – Paris

Badan sudah menua, tulang sudah mengering, nafas sudah memendek, mata sudah melamur, bekas bius spinal menyiksa tiap langkah. Tidak, saya belum 65 tahun, tapi sudah 35 tahun hanya badan rasanya berat.
Dulu saat di Jepang (2010), saya berhasil menjelajah Tokyo dan 4 kota satelitnya – termasuk Yokohama dalam waktu 12 jam, mencari Tadao Ando, Toyo Ito hingga FOA. Sekarang, 8 obyek arsitektur di dalam kota saja sudah bersyukur.

Di awal musim panas dengan rasa musim gugur ini, saya berkelana ke beberapa kota: Berlin, Venice, Paris, Brussels, Rotterdam, Utrecht dan Amsterdam. Saya tidak mempersiapkan catatan arsitektur sedetil perjalanan saya sebelumnya, karena memang tidak cukup waktu dan cukup percaya diri, karena ini bukan kunjungan pertama saya ke Eropa.

Ternyata, saya lupa hal penting, yaitu: mereka berorientasi sebelah kiri, berbeda total dengan kebiasaan di Jakarta, yaitu mengemudi di kanan. Tentu saja cara membaca peta dan logika saya harus dibalik. Akibatnya sempat tersasar beberapa kali, tapi saya menikmati tersasar walaupun harus merasakan sakit di bekas suntikan spinal.

Berlin, kota dimana memori kekerasan, teror dan kejahatan kemanusiaan diabadikan secara sadar dan diperingati setiap hari oleh entah berapa ribuan pengunjungnya.
Saya menyukai kota itu, saya dimanjakan oleh transportasi publiknya: U-Bahn, S-Bahn. Tram, Bus. Jarak antara permukaan tanah menuju U-Bahn mungkin hanya sekitar 3 meter dibawah permukaan tanah, turun sekitar 30 anak tangga, dan kereta berhenti disampingmu.
Kota itu membuat saya merasa hikmat tapi santai saat bersamaan.
Beberapa kilometer dari obyek turis, semisalnya Postdamer Platz, maka akan ada wajah kota yang lain, yaitu orang mabuk di siang hari, wajah-wajah lelah, tapi juga semangat.
Saya pergi mengunjungi Unite de Habitation, hunian karya Le Corbusier pada era modernisme. Begitu banyak kritik terhadap karya tersebut, tapi itu adalah karya yang paling saya sukai sejauh ini di Berlin.
Berlin bisa dibilang Mekah produk arsitektur modern dan era sesudahnya, hancur akibat perang, namun mendapat kelimpahan perhatian paska runtuhnya Tembok Berlin. Dari Le Corbusier hingga OMA, dari Norman Foster hingga Sauerbruch Hutton. Ada disitu.

Dan Berlin dengan 65 museumnya, sesungguhnya bisa menjadi banyak kisah sendiri. 1 tahun disanapun tidak akan selesai.

Venice, kota impian, kota mustahil di eranya, dibangun karena perdagangan, korupsi, kolusi dan penjajahan. Kota itu ada karena darah dan tangis orang lain di ribuan kilometer dari kota itu. Disitu tempat Ghetto pertama, yang terletak di barat laut.
Venice Biennale memukau saya, walaupun ini kali pertama saya hadir. Saya tidak keberatan datang lagi tahun depan, kalau ada yang mensponsori🙂.

Paris, bukan kota yang menyenangkan. Saya merasa logika jalur transportasi publiknya tidak bersahabat dengan lokasi bangunan saya. Tapi mungkin nyaman untuk yang sehari-hari tinggal di Paris?
Ada beberapa bangunan luar biasa yang saya temui, misalnya gedung Kantor Pusat Partai Komunis, karya Oscar Niemeyer. Luar bisa, dengan interior ruang pertemuan yang menakjubkan.
Saya bertemu kembali dengan Zaha Hadid MobileArt, mengulang pertemuan saya di Hongkong saat masih dipakai oleh Chanel. Sekarang MobileArt bersanding dengan karya cantik Jean Nouvel’ Institut du Monde Arab.
Dominique Perrault dengan Bibliotheque nya sangat luar biasa, begitu elegan, cantik tak terkira, 2 kali kesana mendapatkan mood yang berbeda. Avenue de Paris sepertinya akan menjadi the next Mecca nya Paris, setelah karya-karya besar, termasuk dari Jean Nouvel selesai di tahun 2016.

Brussels, saya menyukai kehidupan turis disitu.

Rotterdam, mengapa saya tidak terlalu terkesan padahal tadinya demikian bersemangat? Mungkin nanti saya kembali lagi, dan lebih beruntung.
Amsterdam? Jauh-jauh melihat WoCoZo nya MVRDV. Katanya itu perumahan untuk orang tua, tapi serius, jauh sekali dari halte bus.
Kesal karena paviliun desain Steven Holl tidak dapat diakses. Saya tidak serajin itu juga untuk mencari pintu masuk dari sisi kanal.
Senang dengan The Eye, yang menarik hati bahkan ketika melihat dari seberang sana.
Dan Borneo Sporenburg, menarik, sepertinya berhasil ya mengubah pelabuhan menjadi tempat tinggal?

Utrecht, siapa sangka kota ke3 di Belanda dan saya pandang sebelah mata itu sesungguhnya menyimpan banyak kejutan. Walaupun kesal karena Paperdome-Shigeru Ban sudah dipindah dari lokasinya, tapi ya saya senang melihat balai kota Enric Miralles. Sengaja tidak mampir Shcroder Haus, supaya saya ada dorongan kembali lagi.

Jadi apa yang tercantik? Tetap, gedung partai komunis Perancis dari Oscar Niemeyer dengan ruang pertemuannya yang seakan sedang didalam mimpi itu menJUARA untuk saya.