Saya tidak akan memilih Prabowo, itu sudah final. Pengalaman seperti ini sudah menjadi alasan minimun mengapa tidak memilih eks jenderal. 

Tapi apakah berarti saya akan memilih lawannya: Jokowi-JK? Tidak, atau setidaknya: belum tentu. Lalu apakah saya akan memilih Golput? Sejak saya mendapatkan KTP, hanya sekali saya menjadi Golput, yaitu saat Pemilu legislatif 2004, karena berhalangan. Tetapi selalu ada untuk pertama kalinya: yaitu menjadi Golput dengan sadar dan mawas. 

Saya ragu terhadap Jokowi karena saya memiliki keragu-raguan yang sama seperti saat dia menjabat Gubernur DKI. Saya yakin 99% bahwa Pak Jokowi adalah pribadi yang sangat baik, dan jika saya sampai mendapat kesempatan berteman dengan Pak Jokowi, saya bersedia menjadi teman yang baik untuknya. Tapi apakah Pak Jokowi bisa menjadi pemimpin Indonesia? Itu saya yang masih ragu. 

 

Saya khawatir dengan orang-orang di belakang Pak Jokowi. Sekhawatir melihat deretan orang-orang di belakang PraHara (mulai dari Aburizal Bakrie, hingga PKS dan ambisi HaRa dengan megaproyek MP3Enya).
Saya khawatir dengan Hendropriyono, Wiranto bahkan Jusuf Kalla yang menjadi cawapres. Dulu saya sempat cukup suka dengan Jusuf Kalla, sampai saya melihat cuplikan beliau di dokumenter Jagal dan saat beliau berBOHONG mengenai Century beberapa saat sebelum menjadi cawapres. Saya juga khawatir dengan kenyataan bahwa PDIP bukanlah partai politik yang bisa memegang janji. Dan prihatin sekali dan sangat khawatir betul bahwa PDIP adalah Partai Terkorup berdasarkan rilis yang dikeluarkan lCW, sampai ada beberapa orang terpidana korupsi dalam timses, bahkan Jokowi duduk bersebelahan dgn Panda Nababamd dalam pressconf! saya paham bahwa dalam politik perlu ada koalisi, tapi tetap ada batas dalam berkoalisi – saya belum lupa bahwa Megawati sempat berkoalisi dengan Prabowo, bukannya sekali saja, tapi berkali-kali. Dan terus terang merasa kesal, kenapa jabatan Gubernur DKI seakan hanya menjadi batu lompatan saja – setidaknya bagi si partai.

Banyak penceramah diluar sana koar-koar tentang memilih bukan hanya hak tapi kewajiban, bahwa Golput adalah ‘salah’. Saya dulu saat menjadi pendukung Faisal Basri utk DKI 1 termasuk orang yang mendorong para golputers utk memilih Pak Faisal, karena saya percaya kualitas dan integritas Pak Faisal, baik sebagai pribadi maupun pemimpin; tetapi saya tidak punya keyakinan sama dengan Pak Jokowi. Jika saya saja ragu pada figur satu, lalu apakah demi hak-kewajiban saya harus tetap memilih?

Saya selalu melakukan apa yang saya bisa, yaitu menulis dan mengingatkan terus menerus tentang apa yang terjadi pada masa lampau. Saya lebih merasa bertanggung jawab untuk membantu teman-teman, sesama pemilih, generasi baru pemilih, untuk dapat memilih dengan cerdas dan mawas diri, paham dengan konsekuensi serta tetap aktif sebagai warga negara paska pemilu. Saya mempromosikan nilai-nilai universal yang dapat menjadi panduan untuk memilih, contohnya Hak Asasi Manusia.

Say juga berusaha dengan segenap cara yang saya bisa untuk mempengaruhi orang2 lain yang belum memutuskan juga agar mereka tidak menjatuhkan pilihan kepada Prabowo. Juga memberikan informasi kepada generasi millenials atau orang-orang yang lupa tentang apa yang terjadi di masa silam, baik apa yang dilakukan oleh Prabowo maupun pasangannya.
Mengenai apakah nanti merek memilih Jokowi atau tidak, itu bukan tanggung jawab saya, itu menjadi tanggungg jawab timses Jokowi dan Pak Jokowi sendiri.

Tidak seperti sikap final saya terhadap Eks Jenderal, saya masih memberikan kesempatan bagi Pak Jokowi untuk ‘membujuk’ saya agar memilih beliau. Saat ini saya adalah golongan yang kerap disebut Swing Voters. Saya yakin bahwa saya tidak sendirian disini.

Mari Pak Jokowi …..