Pak Jokowi yang baik (atau Pak Ahok ya …),

Lamaran ini saya tulis paska membaca tulisan Bung JJ Rizal berjudul Jokowi dan Perpustakaan. Saya beranggapan bahwa selepas Bapak Anas Effendy menyelesaikan masa pembuangannya sebagai Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) dan kembali menjabat sebagai Walikota, siapa tahu posisi tersebut kosong. Dan mengingat semangat lelang jabatan yang kerap bapak lakukan, maka saya hendak mengajukan diri sebagai Kepala BPAD.

Seperti Bapak Effendy, saya tidak mempunyai gelar di bidang Ilmu Perpustakaan, baik S1, maupuan S2 apalagi S3 Studi Perpustakaan. Gelar S1 dan S2 saya didapat dari Fakultas Arsitektur. Namun selama saya menempuh pendidikan Arsitektur, saya telah bekerja paruh waktu selama 2 tahun di Perpustakaan Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara. Referensi bisa disusulkan.

Disana saya belajar mulai dari cara merapihkan buku, melayani teman-teman saya sendiri, memindai dan mencatatkan buku hingga memahami Dewey Decimal System. Kenapa harus paham Dewey Decimal System, supaya mempermudah dan mempercepat saat harus mengembalikan buku kedalam rak-raknya.

Saat melanjutkan ke jenjang pendidikan S2, saya mulai belajar cara membaca micro-film, memperlakukan buku dan arsip kuno, hingga memanfaatkan basis jurnal penelitian secara online. Berkat Perpustakaan University of New South Wales, saya menikmati ribuan judul jurnal secara gratis dan semakin memperluas wawasan dan pengetahuan.

Karena pekerjaan saya di Rujak Center for Urban Studies, membuat saya meluangkan waktu untuk memahami sistem katalog online, yaitu sistem open-source Senayan. Rujak Center for Urban Studies memiliki perpustakaan yang dibangun bersama-sama. Berikut adalah katalog online perpustakaan RCUS: http://library.rujak.org/

Sementara perkenalan dengan dunia arsip dan data baru saja terjadi sekitar tahun 2013 silam, ketika saya mendapatkan Eisenhower Fellowships yang memungkinkan saya untuk belajar lebih jauh mengenai hubungan komunitas dengan pengolahan data dan pengetahuan serta bagaimana kota-kota di Amerika Serikat berusaha menerapkan kebijakan dan teknologi berbasis Open Data. Saya belajar dari Brett Goldstein, eks Chief Information Officer yang mengubah arsip-arsip Chicago (bahkan yang manual!) menjadi berbasis Open Data dengan biaya sekitar USD 200.000 saja dengan jumlah tenaga kerja 3 orang. Brett Goldstein sendiri adalah seorang inventor di bidang teknologi data, dan salah satu pencipta situs OpenTable. Dia bersedia hanya menerima tak sampai dari 10% total pendapatannya saat masih menjadi partikelir; demi memperbaiki dan meningkatkan kualitas data melalui Open Data. Mengapa demikian? Karena Brett Goldstein percaya akan potensi ekonomi di balik itu dan bahwa Open Data sangat membantu pemerintah untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi. Selain itu saya juga menyaksikan bagaimana upaya masyarakat Detroit – mahasiswa maupun para sarjana teknologi, untuk membantu kota mendata dan mengarsip bangunan-bangunan di seluruh kota Detroit. Bayangkan, berapa mahal nilai proyek tersebut jika diserahkan kepada pihak swasta, sesuatu yang tidak terbayang oleh Detroit mengingat kota tersebut dalam kondisi bangkrut.

Saya memiliki kepercayaan diri untuk melamar posisi ini karena ingin meneladani pribadi bapak. Bapak menghargai orang yang bekerja keras demi kebaikan kota dan negeri. Untuk itu saya melamar posisi ini dan berharap agar bapak bersedia mempertimbangkan saya walaupun saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan Ilmu Perpustakaan. Terlampir dalam surat lamaran ini adalah Program Kerja untuk 1 tahun pertama.

Salam Hormat,

Elisa Sutanudjaja

—————————-

PROGRAM KERJA BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH (TAHUN PERTAMA dengan ASUMSI ANGGARAN 33 Milyar)

Program kerja tersebut disusun berdasarkan mimpi agar perpustakaan di Jakarta mampu menjadi Jendela Ilmu dan Pengetahuan warga Jakarta; dan supaya arsip daerah terjaga dan mudah diakses.

Program Kerja Perpustakaan:

1. Mengadakan FGD mengenai perpustakaan dan arsip untuk mendapatkan visi serta strategi tepat dalam mengembangkan perpustakaan dan arsip. FGD dilaksanakan paling lama 2 minggu setelah pelantikan.

2. Memperbaiki halaman situs BPAD agar cepat dan mudah diakses, serta memiliki struktur yang jelas. Perbaikan halaman termasuk diantaranya memperbaiki tautan yang terputus (broken link) pada sistem katalog online daerah dan pusat. Lelang pembuatan situs selambatnya 1 minggu setelah pelantikan, dengan waktu tender 2 minggu dan waktu pengerjaan 3 bulan.

3. Untuk mempopulerkan perpustakaan di kalangan menengah bersosial media, maka akan dibentuk Tim Online yang bertugas melakukan kampanye dan sosisalisasi di media sosial serta membuat aplikasi untuk smartphone. Aplikasi tersebut dapat berfungsi sebagai e-catalog dan kartu perpustakaan.

4. Bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan, Universitas dan Pusat Studi dan melakukan kolaborasi bersama, misalnya menyusun katalog online seluruh perpustakaan di Jakarta (Waktu pekerjaan 1 tahun).

5. Mengembangkan perpustakaan di skala lokal dengan cara mengaktifkan perpustakaan keliling dan kemungkinan membangun perpustakaan skala kecil di tiap kantor Kelurahan.

6. Menambah  jaringan jurnal internasional dan ebook

7. Mendigitalisasi buku-buku langka

8. Mengadakan kegiatan cinta buku secara periodik di segenap perpustakaan daerah di Jakarta, misalnya beda buku, klub buku, tur perpustakaan, dll.

9. Bekerja sama dengan kantor-kantor berita untuk mendapatkan akses bersama untuk berbagai media massa (surat kabar dan TV).

10. Meningkatkan koleksi audio-video.

 

Program Kerja Arsip:

1. Melakukan digitalisasi dan praktek Open Data terhadap seluruh data yang dimiliki

2. Mengadakan Hackathon guna memanfaatkan arsip dan data yang sudah ada.

3. Memulai program pengolahan data. Program pengolahan data warga Jakarta dimaksudkan untuk mempertajam kebijakan dan sasaran kebijakan DKI.

4. Menginisiasi penggunaan cloud untuk penyimpanan data digital

Diluar itu saya juga mengajukan perpustakaan dan arsip sebagai garda depan laboratorium kreativitas, yaitu dengan menjadikan setiap perpustakaan daerah sebagai Ruang Bekerja Bersama (co-working space).

——

Karena saya sudah ngantuk, saya tidak sanggup mendambah program lagi.
Tapi maksud saya menulis surat ini bukan untuk mengolok-olok atau apapun. Saya serius dengan isi surat ini. Jika Pak Gubernur bersedia, saya pun bersiap untuk menjalani tes dan wawancara.