Tulisan ini bukan untuk menyarankan agar anda menjadi Golput di tengah keriuhan ini, tapi memberi masukan kepada calon Golputers untuk menjadi golput yang baik. Saya tidak mendukung Golput, tetapi saya akan ada didepan para Golput jika ada yang memperlakukan Golput sebagai warga negara kelas 2. Keberadaan Golput di negara ini sama-sama dilindungi oleh Pancasila, UUD dan UU. Tidak ada, bahkan Soeharto pun tidak, yang meminta melihat kertas suara anda begitu keluar dari bilik suara, dan lalu mengkategorikan anda sebagai pantas atau tidak pantas menjadi warga negara.

Golput pasti ada di sekeliling kita. Di Pileg 2014 lalu, angka Golput mencapai 25-29% (bervariasi tergantung mengutip siapa). Ini artinya, ada 1 orang dari 3 atau 4 orang sekitar anda yang berusia minimal 17 tahun yang memilih untuk tidak memilih. Namun perlu diingat, mengapa tidak memilih pun berbagai macam alasannya, yaitu mulai dari tidak terdaftar dalam DPT (ini tidak bisa dijadikan alasan lagi, karena lepas jam 12 anda sesungguhnya bisa mencoblos di TPS mana saja), logistik (mungkin sulit bagi yang harus menempuh berjam-jam keluar masuk hutan rimba, sungai, dll), keluar kota, sakit, malas, hingga alasan ideologi maupun apatisme. Jika jumlah pemilih adalah 185,8 juta maka jumlah golput (non voter) adalah minimal 46,45 juta orang! Itu hampir 2x jumlah penduduk Malaysia dan 4x lebih jumlah penduduk Jakarta. Tentu adalah naif jika kita menganggap mereka semua itu pergi keluar kota atau sakit kepala. Sayangnya, menurut wartawan Jakarta Post Hans David dan peneliti Merlyna Lim, sampai hari ini belum ada penelitian yang mencermati profil golput di Indonesia.

Saya tidak tahu apakah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, dalam hal ini KPU untuk mengurangi angka golput. Balik lagi ke soal tidak adanya penelitian tentang profil golput, pastinya turut menggembosi upaya pemerintah dan LSM-LSM yang peduli dalam mengurangi angka golput, karena mereka tidak tahu apa yang harus diperbaiki dan ditanggulangi. Tapi kita tidak bisa memungkiri bahwa ini adalah alarm atas ketidakpercayaan terhadap elit politik, sistem perwakilan atau pemerintah itu sendiri. Dan ini yang sesungguhnya perlu dihindari.

Kaum-kaum moral tinggi yang merendahkan para golput, kerap sekali menggunakan argumen bahwa orang golput tidak berhak mengeluh atau menuntut apapun. Untung sekali, anggapan tersebut tidak tertulis dan tercermin dalam satupun produk perundangan kita, kalau sampai tertulis maka: Selamat Datang Fasisme (?). Untungnya konsep kewarganegaraan Indonesia itu berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan bukan berdasarkan kamu coblos satu atau coblos semua didalam TPS.

Jika pemikiran tersebut dibalik dan dibawa dalam konteks buruknya politik dan suramnya kondisi birokrat Indonesia, maka apa yang dikatakan almarhum George Carlin adalah benar adanya. Trims utk Hans David yang sudah memberitahu tautan ini.

I don’t vote. Two reasons. First of all it’s meaningless; this country was bought and sold a long time ago. The shit they shovel around every 4 years *pfff* doesn’t mean a fucking thing. Secondly, I believe if you vote, you have no right to complain. People like to twist that around – they say, ‘If you don’t vote, you have no right to complain’, but where’s the logic in that? If you vote and you elect dishonest, incompetent people into office who screw everything up, you are responsible for what they have done. You caused the problem; you voted them in; you have no right to complain. I, on the other hand, who did not vote, who in fact did not even leave the house on election day, am in no way responsible for what these people have done and have every right to complain about the mess you created that I had nothing to do with.

Tentu saja ini bisa diperdebatkan – tapi silakan debatkan dengan almarhum saja. Hanya mari kita berpikir sedikit bahwa orang-orang seperti Ruhut Sitompul, Fahri Hamzah, dll bisa ada di DPR dan bahkan si lemah SBY bisa jadi Presiden karena ada orang-orang yang memilih mereka. Dan jika Tifatul berlaku bodoh memblokir vimeo dan sebagainya, jangan salahkan para golputer, salahkan karena para pemilih itu memilih SBY yang akhirnya memilih Tifatul. Kurang lebih itu adalah argumen yang mencoba dibangun oleh Carlin, yang sesungguhnya modifikasi dan pembalikan dari argumen para petinggi moral tersebut.

Berbicara tentang golput sebagai sikap politik tidak sama dengan berbicara tentang golput sebagai warga negara. Dan mengingat bahwa argumen miring soal golput telah dipatahkan oleh George Carlin diatas (saya yakin pasti ada filsuf, aktivis, sosiolog, dll yang punya pandangan serupa – tapi silakan cari sendiri), maka tidak ada alasan bagi Golputers untuk tidak membayar pajak atau tidak mematuhi peraturan lalu lintas.

Ada masanya, menurut Merlyna Lim dan Hans David, golput adalah sekumpulan orang yang justru sangat keren. Mereka adalah pejuang penegak HAM, misalnya pentolan Kontras, demikian menurut Hans David. Tapi semuanya bekerja untuk terwujudnya kehidupan lebih baik di negeri ini. Mereka percaya akan keberadaan poros ketiga, keempat, dan seterusnya – mereka percaya bahwa inisiatif mereka tidak memerlukan apakah besok Angel Helga (Lelga, atau apalah) dan Rhoma Irama terpilih jadi caleg atau tidak.

Karena itu, seandainya anda terpaksa menjadi golput karena alasan ideologi dan tidak bisa membohongi diri sendiri, atau tidak percaya pada kedua kandidat, ataupun banyak alasan personal lainnya, maka marilah tetap menjadi golput yang baik. Tunjukkan anda peduli dengan cara yang anda bisa. Jangan kecil hati, PEMILU itu hanya bentuk partisipasi politik yang terendah. Ada masih banyak bidang lain dimana anda para golputer bisa menunjukkan bahwa kualitas warga negara anda tidak kalah ciamik.

Kalau anda mempunyai kemampuan di bidang IT, anda bisa menyumbangkan kemampuan anda dengan membuat aplikasi ciamik. Berpartisipasilah dalam hackathon/civic hacking day di kota-kota anda. Anda punya waktu luang, Β bisa menjadi relawan – ada banyak LSM yang membutuhkan relawan di berbagai bidang. Anda jengah dengan ketidakadilan atau korupsi di depan anda: LAPORKAN, ada situs lapor dari UKP4. Balai kota membuka kesempatan menjadi Dewan Kota serta anda punya waktu: Daftarkan diri anda. Atau mulai dari yang di sekitar anda, seperti saran Ibu Ramalis Sobandi, kenali RT/RW anda, terlibat dalam kegiatan didalamnya. Atau anda ngakunya peduli dengan anak anda, bagaimana dengan anak orang lain? Anda bisa tiru upaya yang dilakukan oleh Shanty Syahril yang merelakan garasinya sebagai perpustakaan dan tempat belajar anak-anak di sekitarnya. Anda bisa menulis? Tulis sesuatu yang berhubungan dengan kewarganegaraan. Anda pintar mendesain sesuatu? Jangan khawatir ada banyak LSM yang bersedia menerima bantuan anda untuk hanya mendesain poster sederhana atau infografis. Bahkan orang yang berani melapor seperti Pak Rifki ini pun, contoh partisipasi yang baik.

Ada banyak alasan untuk menjadi golput tapi saya berharap anda menjadi golput yang baik. Golput yang baik pun sebaiknya mampu melihat adanya secercah harapan. Bahwa tetap ada orang-orang baik yang mungkin muncul. Jika mengutip tulisan Merlyna Lim berikut ini, orang-orang yang menurut Aristoteles adalah orang-orang memiliki kebajikan moral dan keunggulan karakter.

Aristoteles juga percaya bahwa kepemimpinan adalah keunggulan karakter, atau “kebajikan moral”. Dalam hal ini, kebajikan moral tumbuh dari kebiasaan dan tindakan berulang-ulang. Mereka yang tidak terbiasa hidup dengan, berjalan bersama, bekerja dengan, mendengarkan, bermain dengan orang-orang biasa — rakyat (“kami”, kelas menengah dan bawah) tidak akan memiliki imajinasi moral dan pengalaman hidup yang dibutuhkan untuk melahirkan kepekaan moral dan empati yang menjadi landasan tindakan untuk mengejar keadilan bagi semua.

Pesan Aristoteles ini mudah-mudahan (Facebookers pada umumnya kaum menengah) mendorong kita tidak hanya untuk memilih pemimpin yang mewakili kita, bagian dari kita, salah satu dari kita (atau minimal lebih dekat dengan kita), tetapi juga bagi kita sendiri untuk membangkitkan imajinasi moral, mempertajam kepekaan moral, mengisi jiwa kita dengan empati dan menerjemahkannya ke dalam tindakan.

Jika ada orang-orang seperti itu, saya berharap agar para golput mau membuka hatinya guna membuka jalan dan memberi kesempatan pada orang-orang seperti itu untuk membantu kita mewujudkan masa depan yang lebih baik. Gunakan pikiran dan jiwa kritismu untuk memilih.

Jika memang ada orang-orang seperti itu, ini adalah momen yang tepat bagi teman2 golputers utk meninggalkan status golput.