Seperti biasa, dalam hitungan menit setelah Jusuf Kalla menganggap pertanyaan Hatta Radjasa sebagai kesalahan dan tidak perlu dijawab, maka tak lama kemudian bermunculan meme tentang HR dan Kalpataru (sayang tidak ada meme serupa dari kubu sebelah ketika JK salah mengartikan pertanyaan HR soal demography bonus – yang kemudian dijawab oleh JK sebagai democracy bonus).

Esok harinya – atau hari ini, ada salah seorang yang men print screen berita dari Padang soal Kalpataru.
Beritanya seperti ini

20140706-165756-61076113.jpg

Kalau kita TIDAK membaca dengan teliti dan hanya membaca judul, kesannya ada kota/kabupaten yang mendapatkan Kalpataru. Loh, jadi HR jangan-jangan gak salah ngomong.

Tapi jika kita baca dengan teliti di paragraf kedua dan seterusnya adalah warga yang mendapatkan hadiah tersebut.

Lalu saya merasa usil di pagi hari. Karena sangat kebetulan sekali bahwa judul berita itu tidak tepat. Saya ingin tahu berapa banyak yg mengoreksi (berarti membaca) dan berapa banyak yg RT. Saya berpikir agak lama, kalimat twit pengantar bagaimana yang cocok sebagai pembuka.

20140706-172112-62472141.jpg

Follower saya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 2500. Dan untungnya twit saya di RT oleh salah satu follower yg pny follower jauh lbh banyak (dan orang bersangkutan, sayangnya bisa membaca maksud saya hahaha). Kalau dibaca dari twit diatas, ada 2 kesalahan yg disengaja. 1 adalah isi berita itu sendiri dan satu lagi … Yuk dicari🙂.

Tak lama kemudian ada beberapa twit yang masuk dan mengoreksi saya

20140706-173706-63426331.jpg

20140706-173706-63426219.jpg

20140706-173706-63426437.jpg

Tentu tidak semua orang membaca. Krn ada juga yang MeRT tanpa koreksi. Dan ada juga yg memakai kata agak kasar. Misalnya seperti ini – padahal lumayan loh dia sudah bisa mengindentifikasikan kesalahan satunya (yang masih saya kosongkan diatas), tapi dia malah justru gak baca isi berita🙂

20140706-174020-63620690.jpg

Sehabis itu saya meminta maaf karena telah ‘salah’ dalam membuat twit dan menunggu ada yang membalas atau MeRT. Ternyata tidak ada.

Saya mengulangi hal ini di facebook, tapi tidak memiliki ‘tingkat kesuksesan’ yang sama. Salah satu teman FB bilang, mungkin karena FB bersifat open comment dan semua bisa baca komentar begitu ada yang memperbaikinya.

Tapi saya lega, bahwa sebagian besar orang membaca isi berita juga turut mengoreksi.

———-

Maksud saya dari eksperimen kecil di pagi hari ini adalah untuk menunjukkan akan begitu banyaknya berita menyesatkan di sekeliling kita. Kampanye yang begitu terpolarisasi membuat kita terkadang mencari pembenaran atas apa yang kita yakini.

Ada yang akan khawatir akan kemungkinan kecurangan di TPS maka semuanya langsung meRT indikasi2 yang sekiranya mengarah kesitu: contoh kertas suara di HK dan kertas suara manipulasi dari foto di berita Antara. Dan ternyata, kedua berita tersebut adalah bohong besar.
Dan begitu sudah diRT dan kemudian ada yang mengoreksi, tidak semua tweeps yang meRT berita tersebut merasa perlu mengoreksi berita tersebut.

Atau berita soal quick count di luar negeri – yang jelas2 menyesatkan dan mustahil, mengingat semua penghitungan baru terjadi tanggal 9 Juli.

Hilangnya kekritisan mungkin terjadi karena tertutupi oleh fanatisme atau gelap mata. Persepsi ‘tidak lengkap’ terjadi karena hanya ingin membaca fenomena yang ‘cocok’ dengan ketakutan di hati.

——
PS: kepada semua yang mengoreksi twit saya, terima kasih.🙂

Tambahan (8 Juli 2014). Sempat ada pertanyaan dari teman setelah dia membaca tulisan ini. Sehingga saya perlu klarifikasi disini:
1. Saya sepenuhnya sadar saat bahwa judul berita itu tidak tepat.
2. Saya sepenuhnya sadar akan konsekuensi men twit berita ini, karenanya saya membutuhkan waktu lama utk mentwit kata pembuka. Bagaimana supaya orang tetap membaca tapi ada sedikit ‘hint’ bahwa saya tahu itu hoax. Susah ya ….
3. Mohon saya jangan dilaporkan ke Banwaslu ya … Trims🙂