38 hari yang lalu saya dihadapi pertanyaan dan kemungkinan untuk menjadi Golput dengan sadar untuk pertama kalinya. Saya tentu tidak akan memilih Prabowo. Tetapi hati saya ragu terhadap Jokowi dan Jusuf Kalla. Faktornya banyak, mulai dari pengalaman pribadi saat Jokowi mengingkari janji kampanye untuk menolak bangun tol dalam kota (lah ini saja ingkar, bagaimana dengan proyek yg penuh intrik dan politik nanti?), Jusuf Kalla yang berbohong di Sidang Century plus saya tidak bisa melupakan bahwa Jusuf Kalla nongol jadi cameo di The Act of Killing (buat saya lebih berbahaya orang yg mencitrakan diri sebagai sesuatu yang tidak benar pribadinya), hingga koalisi jenderal2 yang meragukan.

Lalu tepat 1 minggu kemudian atau kurang lebih 31 hari yang lalu, setelah melewati proses diskusi dan kontemplasi, saya akhirnya memutuskan. Saya memilih 02 tapi tidak mendukung 02. Tidak mendukung berarti karena kepercayaan saya tidak 100%, sampai 50% saja tidak. Kepercayaan itu bukan karena Jokowi tampangnya gak keren, kurus, gak pinter bahasa Inggris dll, tapi semata karena kasus 6 ruas jalan tol (sebetulnya ada hal lain juga sih, gak cuma itu termasuk politisasi JEDI).
I’m not joining the bandwagon.

Ternyata saya nyaman di tempat saya. Saya tidak punya beban dalam mengkritik – gak pakai mikir: duh kalau nanti membuat orang gak vote Jokowi gimana ya, misalnya. Saya menikmati mengkritik orang-orang yang terlalu berlebihan dalam mendukung dan biasanya orang-orang tersebut menurut saya sudah agak delusional dan sebentar lagi merasa paling benar sedunia. Saya menikmati meluruskan semua desas desus terkait paranoia pendukung 02. Dari ‘mission impossible’nya menyebarkan uang 100.000.000.000.000 (100T), surat suara di HK, berita Antara yg kononnya dihack hingga foto Antara yang diubah, dan entah banyak apalagi.

Tapi semakin hari, kepercayaan terhadap Jokowi semakin besar. Ada beberapa hal. Setiap debat saya melihat ada perubahan kematangan dalam Jokowi. Saya sampai bilang ke teman FB: Jokowi exceeds my expectation! Sebab kedua adalah karena saya melihat ada banyak ketulusan dalam mendukung Jokowi dibalik dari segala euforia yang kadang berlebihan itu. Akhirnya antusiasme warga lah yang membuat saya percaya. Saya percaya pada warga, maka saya percaya pada Jokowi (tapi masih belum percaya JK – kayaknya ini sulit diubah).

Saya tetap menentang segala pemutaran fakta demi pemenangan. Jika kenapa hanya yang seputar 02 yang dikritik tapi tidak yang lain, ya gampang sajalah alasannya – soalnya kalian2 ini yang taruh didepan muka saya. Saya mengkritik terhadap apa yang ada di wall saya dan timeline saya. Karena saya tidak akan memilih Prabowo, kurang kerjaan amat kalau saya sampai mencari tahu soal Prabowo.

Seperti saya tulis dalam status di FB sekitar 10 hari silam. Preferensi saya memilih pun berubah. Saya memilih demi anak saya, agar anak saya antusias dan bisa berekspresi bebas seperti antusiasme dan keberagaman warga-warga kreatif tanpa motif politik seperti yang sudah ditunjukkan. Saya memilih Jokowi dengan Mendukung keberagaman dalam warga.