Pengalaman pertama ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, demi mendukung korban pemerkosaan di Halte Transjakarta Harmoni. 4 terdakwa hanya dituntut 1.5 thn penjara dipotong masa tahanan. Sesuatu yang mengganggu pikiran saya sejak hari Minggu.

Walaupun saya anak dari seorang pengacara (merangkap mediator, konsultan RS dan dokter gigi – iya bapak saya kurang kerjaan dan kebanyakan sekolah. But I love him very much. Proud doughter!) saya tidak pernah menginjakkan kaki ke pengadilan negeri di Indonesia. Saya pernah masuk ke pengadilan di Los Angeles, karena lantai paling atasnya ada kafetaria murah dan pelataran atap untuk menikmati skyline Los Angeles plus Walt Disney Concert Hall nya Frank Gehry.

Siang jam 11.30 paska jemput anak sekolah, saya langsung ke PN Jakpus. Saya pakai baju apa adanya: kaos Meteran Politik dari John Muhammad dan celana jeans 7/8 serta sandal jepit.
Tidak terbersit sedikitpun dalam pikiran saya untuk berpakaian rapih atau pakai sepatu.
Begitu sampai sekitar jam 1 kurang, saya diberhentikan satpam, dia bilang gak boleh pakai kaos. Lalu dasar badung, saya main masuk dan ngeles aja: ‘saya janjian ketemu sama teman di depan sana pak, mau kasih barang.’
Pak Satpam membolehkan saya masuk sambil mengingatkan ada satpam lagi didepan pintu masuk.
Dan saya badung lagi, mengamati dari jauh, dan menunggu saat satpam lengah dan menyelinap masuk disamping gerombolan orang-orang yang masuk juga. Saya berhasil masuk – sesudah itu bengong, mau kemanakah saya? Kiri-kanan-lantai 2? Dan karena saya bengong, ehh ketahuan satpam yang mau keluar. Akhirnya saya diusir keluar.

Sudah bertekad terlalu kuat untuk memberi dukungan dalam bentuk kehadiran, saya akhirnya berjalan ke Gajah Mada Plaza: beli kemeja seharga 35.000 dan sepatu 50.000. Kata si mbak, size sepatu adalah 40 kecil, tapi saat dipakai berasa seperti size 37.

Akhirnya saya berhasil masuk, walaupun sempat khawatir karena celana jeans 7/8 saya bakal dipermasalahkan. Akhirnya bersua dengan bang Tigor Nainggolan, Aktivis FAKTA yang sudah ada disana dari jam 11 siang – berjaga-jaga jika mendadak hakim dan jaksa seenaknya main memindahkan jam sidang.

Tidak ada jadwal, kejelasan lokasi tempat sidang. Jangan harap kita menemukan papan pengumuman tentang jadwal, jangan harap! Tidak ada keterbukaan informasi disini. Jika ingin ada reformasi di penegakan hukum, mulailah dengan sederhana, contohnya memberikan papan informasi jadwal dan lokasi sidang.

Ternyata banyak warga dan media berkumpul didepan ruang yang diduga akan menjadi tempat sidang. Ada mahasiswi, aktivis, dll. Beberapa kali saya ditanya oleh media, polisi, hingga mahasiswa, ibu dari (lsm) mana? Saya jawab: gak darimana-mana. Hihihi… Well, saya hanya warga biasa namun luar biasa prihatin atas kejadian ini dan merasa perlu sekali memberi dukungan semampu saya – walaupun korban gak minta dan gak kenal saya.

20140708-201704-73024085.jpg

Kurang lebih sekitar 1.5 jam kami menunggu di lantai 2. Mendadak ada yang memberitahu sidang dipindah ke 306, atau lantai 3. Maka kamipun berbondong-bondong pindah ke lantai 3. Dan kembali bak menuggu godot.

20140708-203546-74146059.jpg

20140708-203609-74169946.jpg

Saya sempat masuk dalam ruang sidang 306. Ternyata sedang berlangsung sidang pelemparan kopi panas ke dr. Fransiska di RS Husada. Selepas itu ada. 2 sidang narkoba dengan terdakwa berbeda. Saat saya berada di dalam ruang sidang, saya menahan diri setengah mati untuk tidak selfie dalam ruangan. Lalu saya sempat berbincang dengan polisi – dia menunjukkan kepada saya keempat pelaku pemerkosaan – tapi saya tidak sudi melihat mereka. Sementara banyak sekali media mengambil foto deretan para terdakwa sekitar ada 5 baris. Saya merasa sedikit kasihan pada mereka, apa mereka pantas ya diambil foto2nya ala papparazi. Tak lama kemudian, sekitar jam 4, kami disuruh keluar, karena akan ada sidang peradilan anak. Padahal anak yang disidang sudah kenyang difoto kali oleh wartawan, privasi si anak sudah terkoyak dan foto2nya sudah menjadi milik media.

Sidang peradilan anak ditutup dengan tangisan sang ibu diluar ruang sidang. Untung banyak media disana (yang dari tadi rajin mengikuti dan menunggu sidang pemerkosaan dan sidang Pejabat BPK yang membunuh istri simpanan), sehingga si ibu bisa menyuarakan isi hatinya pada media.

Sekitar jam 4.30 mendadak 4 tersangka keluar dari ruang 306. Ternyata sidang pindah lagi ke lantai 2! Kembali ke ruang sidang awal!

Ruang sidang di lantai 2 itu adalah ruang sidang terkecil dibandingkan 4 ruang sidang yang iseng saya masuki. Sangat kecil, sampai hanya bisa memuat maksimal 30 orang dengan berdesakan ala pasar senggol. Tidak ada tanda-tanda kapan sidang akan dimulai. Mungkin hanya Tuhan, hakim dan jaksa saja yang tahu.

Jam 5, saya teringat pada Nana, saya janji padanya akan pulang jam 3, tapi ini sudah lebih lama dari yang dijanjikan. Akhirnya dengan berat hati, saya pamit pulang.

Ternyata sidang pembacaan keputusan baru dimulai jam 6.30 malam dan di ruang yang sempit itu. 16 tahun paska Reformasi, masih ada kejadian seperti itu. Simpang siur dan upaya menutup-nutupi persidangan.

——

Apa hubungannya dengan kaos?
Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada teman sesama Eisenhower Fellows yang sedang melakukan reformasi dalam tubuh Mahkamah Agung, saya tidak punya rasa hormat pada pengadilan. Karena tidak terbersit rasa hormat itu dalam hati, saya tidak merasa berkewajiban untuk memakai baju rapih dan bersepatu.

Masing-masing ruang sidang diberi nama Tokoh, yang hampir semuanya bergelar Professor dll dll. Dalam hati, saya berpikir, pasti mereka itu adalah orang yang memberi sumbangsih luar biasa terhadap dunia hukum dan peradilan. Saya sempat membayangkan, apa ya perasaan mereka jika tahu namanya diabadikan menjadi nama ruang dimana terkadang keadilan dicoreng?

Hakim sidang pemerkosaan Transjakarta akhirnya menjatuhkan hukuman kepada 4 terdakwa sebesar 1.5 tahun dipotong masa tahanan.

Kita tidak bisa terlalu harap warga DKI Jakarta, terutama perempuan, akan antusias menggunakan transportasi umum. Di jalanan pun jumlah perempuan pengendara motor pun semakin meningkat. Seberapa cantiknya halte, wangi dan mengkilatnya bis tak akan berarti banyak jika keseluruhan sistem transportasi umum gagal memberikan rasa aman. Dan hal itu diperburuk dengan sistem peradilan kita yang masih jauh dari memuaskan.

Antusiasme warga pengguna transportasi umum dan membaiknya transportasi umum menunjukkan masyarakat kota yang semakin egaliter. Tapi semua itu tidak ditemui di halte Transjakarta.