image

Akhir Juni saya mendapatkan kabar dari School of Data bahwa saya menjadi salah satu kandidat School of Data fellowship dan peserta Open Knowledge Festival di Berlin. Mereka meminta saya untuk membuat perjanjian visa dengan kedutaan Jerman dan mempersiapkan segala sesuatunya. Tentu saya bersiap, termasuk memikirkan itinerary tambahan (iya, memang saya punya mental ‘mumpung’) ke beberapa kota di Eropa, karena panitia mengijinkan saya untuk mencari booking tiket pesawat lebih awal dan bahkan melewati waktu event. Lalu mereka mewawancarai saya selama 1 jam untuk mengetahui lebih lanjut soal rencana pengembangan data yang saya rencanakan paska kembali dari Berlin.

Sekitar 1 minggu kemudian, saya mendapat kabar bahwa mereka tidak memberangkatkan saya. Tentu saja saya kecewa, tapi ternyata semesta bekerja dengan caranya sendiri, sehingga sekarang malah membuat saya bersyukur karena saya tidak terpilih sebagai fellow tahun ini.

Sehari setelah tanggal 9 Juli, entah darimana mendapatkan tautan website KPU yang memuat scan C1 seluruh Indonesia. Di hari yang sama saya bertanya, siapa yang melakukan inisiatif penghitungan atau pelaporan berbasis Open Data yang dikeluarkan oleh KPU. Saya bertanya via twitter dan Facebook. Walaupun saya cukup paham dan berpengalaman di bidang Open Data, saya tidak punya kemampuan untuk membuat aplikasi berbasis Open Data. Hari Kamis berlalu, dan kemudian memasuki hari Jumat. Saya pun mengajukan pertanyaan sama lagi di twitter.

Akhirnya tanggal 10 Juli malam, alias hari Jumat, saya mengangkat diri sendiri menjadi koordinator untuk mencek kejanggalan Scan C1. Saya membuat status facebook yang intinya menerima lamaran relawan – dan terbuka bagi siapa saja. Mereka akan bertanggung jawab terhadap masing-masing kota atau kabupaten. Status tersebut dibagi oleh teman, kolega dan pengikut facebook saya hingga mencapai 200an kali. Tak lama kemudian email berdatangan. Dan saya langsung bekerja, menyiapkan google form, google docs untuk pelaporan dan back office serta email2 sambutan. Dan tak terasa saya bekerja terus hingga jam 3 malam, hingga mendadak mati listrik – tandanya saya perlu berhenti bekerja. Tak sampai 12 jam, ada hampir 100 relawan yang mendaftarkan diri, dan hanya segelintir yang saya benar-benar kenal. Saat saya tinggal tidur sebentar, keesokan harinya ada puluhan email relawan masuk – begitu juga berbagai macam mention di twitter dan private message di Facebook. Inisiatif itu kemudian kami beri nama #CekJanggalC1

Tiga pesan lewat facebook itu berasal dari seorang guru matematika dan 2 orang pekerja IT yang akhirnya membawa saya masuk ke inisiatif kedua. Saat itu belum bernama – dan masih berupa random facebook page. Saya dengan pasrah dimasukkan oleh Ainun Najib ke inisiatif yang nantinya akan dikenal sebagai KawalPemilu. Ainun dan salah satu programmer KawalPemilu menghubungi saya secara terpisah mengenai kemungkinan berkolaborasi, supaya kerja lebih efisien. Saya saat itu mengatakan bahwa karena saya tidak punya kemampuan IT dan membuat aplikasi, saya hanya mampu mengajak relawan untuk mencek hal-hal aneh dari halaman 4 scan C1, misalnya penjumlahan yang salah, dll. Saat itu Sabtu pagi tanggal 12 Juli.

Keesokannya, mendadak saya masuk kedalam grup lain, grup rahasia. Dan akhirnya situs operasi yang nantinya bernama kawalpemilu pun muncul. Saya masih tetap mengerjakan konsolidasi laporan #CekJanggalC1 dan saat itu relawan #CekJanggalC1 sudah mencapai 200 orang, jadi kurang lebih ada 200an pengawas scan C1 di 200an kota/kabupaten. Saya pun memasukkan entry pertama saya, di Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, dan ternyata saya ketagihan. Lalu saya mengundang beberapa teman yang saya percaya untuk menjadi salah satu pengentry data.

Karena kegiatan inisiatif #CekJanggalC1, maka group ‘yang nantinya akan bernama KawalPemilu’ merupakan sumber daya luar biasa cepat dalam mengindentifikasi C1 mana saja yang aneh, terlebh untuk sisa 300an kota lagi. Data Scan C1 semakin lengkap, walaupun tidak terkonsolidasi dengan baik. Lalu saya menjadi salah satu admin dan berlanjut menjadi wajah media untuk grup ‘yang nantinya akan bernama KawalPemilu’ itu. Pekerjaan saya sebelumnya membuat saya memiliki teman-teman di bidang media – dan mereka pun menghubungi saya, karena saat itu banyak inisiatif urun daya terkait scan C1 , dan turut meghangatkan pilpres kali ini.

Tak hanya sekadar admin dan media, saya pun menjadi tukang kirim email ke Help Desk KPU. Email tersebut dimulai dari Hari Senin, 14 Juli. Dan sampai akhirnya berjumlah 135 emails hingga tanggal 23 Juli.

Hari Selasa malam, atau tanggal 15 Juli situs KawalPemilu versi publik pun siap, dan sisa bulan Juli berjalan demikian cepat.

——————————

Rencana sedikit berantakan tapi berakhir dengan baik. Saya mungkin tidak belajar cara membuat apps, tapi saya belajar bersama dan terjun langsung di pemanfaatan Open Data. Saya berani klaim, dari sejarah Indonesia menerapkan Open Government, baru kali ini ada urun daya secara masif (tak hanya KawalPemilu, tapi banyak sekali inisiatif lainnya dalam nama Jaga Suara, Kawal Suara, dll) dengan menggunakan sumber Open Data. Bahkan saya yakin di Berlin tidak ada kasus seperti ini, dan saya yakin (mungkin) tidak ada juga di Amerika, dimana saya menghabiskan waktu lbh dari 2 bulan Travelling fellowship tentang Open Data.

Terima kasih kepada KPU atas open data nya, dan kepada semua relawan dari berbagai macam inisiatif yang telah menjadikan bulan Juli ini menarik dan berharga.