JIka orang bertemu dengan saya, orang mungkin tidak akan percaya jika saya memiliki disabilitas. Saya terlihat ‘normal’, punya 2 kaki, 2 tangan, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan mulut untuk berbicara. Jari-jari saya pun lengkap.

Tetapi saya sesungguhnya hidup bersama disabilitas sejak saya dilahirkan. Kedua lutut saya mengalami masalah, dengan apa yang disebut sebagai dislokasi habitualis pada patella (tempurung lutut). Itu artinya, kedua lutut saya dapat keluar dari tempurungnya dan saya akan jatuh seketika dan tidak bisa berjalan. Habitualis berarti, bisa terjadi secara berulang kali.

Apa saja yang menyebabkan lutut saya itu ‘keluar’ dari tempurungnya? Bisa saja karena ada yang menyenggol saya, karena saya terlalu capek, dan bisa karena ada tangga kecil yang tidak terlihat, hingga tiba-tiba saja jatuh. Lalu mengapa saya tidak melakukan operasi atau sejenisnya. Jawabannya: sudah, dan kembali lagi ke kondisi semula. Jadi ini sesuatu yang saya harus terima dan berdamai selamanya.

Apakah ini berarti saya mengurangi kegiatan saya? Ya, bahkan setelah paska operasi, saya menjadi takut berolahraga, termasuk diantaranya basket dan voli, padahal saya jaman SMP-SMA adalah tim sekolah, tapi ya begitu deh, lengkap dengan knee decker dan tidak boleh terlalu lelah.

Lalu bagaimana saya melakukan kegiatan sehari-hari? Saya berkegiatan seperti biasa – namun sadar diri. Saya juga berusaha mengurangi beban kaki, dengan menjaga berat badan – setidaknya dalam cakupan BMI normal. Ketika saya sedang hamil, doa saya tiap hari adalah agar tidak terjadi dislokasi. Tetapi waktu itu tetap saja terjadi dislokasi, dan ajaibnya dislokasinya terjadi di tempat tidur, karena saya pindah posisi tidur. Untuk itu pun saya bersyukur karena saat terjadi, saya masih di tempat tidur.

Karena kondisi ini, saya tidak bisa ikutan tren masa kini: lari-lari, baik setengah maraton maupun yang penuh. Saya sebisa mungkin menghindari tangga, jadi naik lift jika bisa – walaupun bisa mendapat tatapan menuduh. Kalau sedang diluar negeri dan kursi angkutan umum penuh sementara yang tersisa adalah kursi utk hamil, tua dan difabel, maka saya pun akan duduk disitu diiringi tatapan sinis beberapa orang tentunya.

Bagaimana dengan mobilitas saya sehari-hari di Jakarta? Sangat mustahil bagi saya untuk naik kendaraan umum di Jakarta. Saya terpaksa tergantung pada mobil dan menyetir sendiri. Saya selalu merasa was-was ketika jalan kaki di trotoar, sambil sering melihat ke lantai trotoar (atau jalan, krn trotoar toh suka tidak ada di Jakarta), khawatir apakah ada batu sandungan, tangga kecil yang tak terlihat, atau lubang, atau apapun. Saya selalu merasa jiper melihat tangga penyeberangan yang tidak rata dan anak tangganya tidak sesuai standard, alias lebih tinggi dari 20cm per anak tangga – karena anak tangga seperti itu membuat kerja lutut saya lebih berat.

Pada akhirnya Jakarta membatasi saya dan membuat saya dalam kondisi ketergantungan terhadap mobil tanpa ada alternatif dan tanpa ada perlindungan. Walaupun ya dalam hal ini saya masih jauh-jauh lebih beruntung dari para kaum tuna daksa. Sungguh tidak menyenangkan jika tidak memiliki kontrol terhadap tubuh sendiri, betapa kondisi Jakarta memperburuk kontrol saya terhadap mobilitas dan kebebasan yang bisa saya capai.

Kenapa saya tidak pindah saja dari kota ini? Saya sudah mengakar di kota ini dan saya mau berjuang supaya kota ini berangsur-angsur menjadi nyaman untuk semua. Bukan hanya yang bermobil, bermotor, berduit saja, tapi juga untuk saya, yang berkursi roda atau yang tak bisa melihat.

Mewujudkan kota ramah untuk difabel tak berarti kota hanya berpihak saja pada satu golongan. Demi mengakomodasi kota ramah difabel, maka trotoar akan nyaman dipakai, tidak ada yang berlubang dan menyatu dengan sarana transportasi serta bangunan-bangunan sekitarnya. Bis-bis yang tersedia pun akan dilengkapi fasilitas difabel, dan demi kenyamanan semua maka waktu tunggu pun menjadi kecil. Platform kereta api pun menjadi lebih nyaman karena harus mengakomodasi berbagai macam kondisi tubuh.

Aksesibilitas dan mobilitas yang menguntungkan kaum difabel, otomatis akan memberikan manfaat yang sama untuk mereka yang ‘normal’ juga. Mewujudkan kota untuk difabel otomatis mewujudkan keterbukaan dalam kota. Kota menjadi terbuka atas segala opsi, segala jenis manusia, kota menjadi optimis.

Memperjuangkan hak kaum difabel dalam hidup berkota berarti memperjuangkan hak kita semua, baik untuk masa kini maupun masa depan.

IMG_1966.JPG