Malam itu saya menelusuri jalan-jalan di Kotatua Jakarta. Di tepi Kali Besar berderet tenda-tenda menjual berbagai ragam barang konsumsi. Sisi lain, ada pemijat menawarkan jasanya. Ada warung kopi dadakan beralaskan terpal, hingga ada orang yang menganggap Kali Besar sebagai toilet umum. Ada gadis-gadis yang merumpi, ada pasangan yang saling tersipu malu-malu diterangi temaramnya lampu jalan dan bulan berlatar belakang gedung-gedung saksi bisu sejarah. Terdengar dentuman musik dangdut sebagai pengiring kesibukan malam itu.

Ilustrasi tersebut adalah ruang ‘informal’ dalam kota. Tidak ada yang pasti dalam ruang tersebut. Apakah tenda-tenda tersebut akan ada esok malam, atau akan berpindah ke truk Satpol PP. Apakah para perempuan malam akan tetap duduk manis bergincu atau akan pindah ke tempat temaram lain. Tidak ada kepastian di jalan yang sudah ada sejak 4 abad silam tersebut. Waktu disitu memiliki nilai yang lain, karena dalam ketidakpastian terdapat nilai ekonomi yang berbeda.

Jika ilustrasi di awal berpindah dalam ruang formal dengan segera aturan serta kontrak ekonomi, maka jalanan Kotatua tersebut sebetulnya tidak lah beda dengan 200-an pusat perbelanjaan yang berdiri di Metropolitan Jakarta. Tenda-tenda biru tersulap menjadi toko beretase kaca. Sinar rembulan dan semriwing angin malam menjadi lampu-lampu terang dan AC. Pengunjung ruang formal menyadari bahwa mereka harus ke ruang privat di sudut bangunan demi bisa membuang hajat – bahkan rela berjalan puluhan meter demi mematuhi norma sosial yang berlaku: buanglah hajat pada tempatnya.

Sesungguhnya kelompok tenda biru di penggalan Kali Besar dan 200-an mall di Metropolitan Jakarta adalah ruang belanja. Tentu dengan sasaran kelas pembeli yang berbeda. Namun keduanya sama-sama berupaya melayani nafsu dan dorongan hasrat manusia, yaitu untuk memiliki sesuatu.

Menjamurnya ruang belanja secara sporadis tak terkendali, entah itu dalam rupa tenda atau bangunan beton di Metropolitan Jakarta adalah bak pertanda bahwa imajinasi akan kemungkinan yang ada di Jakarta sangatlah terbatas.

Ruang-ruang di Kotatua, ruang-ruang dimana menjadi saksi sejarah, di malam hari berubah menjadi ruang yang bak lupa sejarah. Tidak ada alternatif yang ditawarkan, yang ada dan terakomodasi hanyalah belanja dan konsumsi. Pengunjung yang hadir di tenda hanya akan memuaskan hasrat konsumtifnya. Ruang-ruang di Kotatua tersebut menyerah pada transaksi ekonomi. Ruang yang ada menjadi terjual, agar bisa dibeli.

Perdagangan ruang tanpa imajinasi juga terjadi pada ruang-ruang formal. Penggunaan lahan atau zoning di Jakarta hanya dilihat dan diperjualbelikan karena koefisien yang ditawarkan, tentu dengan maksud mendapatkan untung sebesar-besarnya. Maka yang terpikir dan terimajinasi hanya ruang-ruang yang memungkinkan untuk berkali-kali mendapatkan keuntungan. Bahkan ada sejengkal jalur Transjakarta, jika memungkinkan sejengkal itu pun akan dijual kepada penawar tertinggi.

Satu persatu ruang dilelang atas dasar harga tertinggi. Padahal kota dan ruangnya bukanlah lukisan atau patung hasil lelang. Kota tak bisa hidup tanpa manusia, dan manusia meruang di saat dia melaksanakan tugas manusianya. Dia bekerja didalam ruang, dia berinteraksi dalam ruang dan dia bercanda didalamnya juga. Dia menjadi manusia bukan dinilai dari berapa banyak barang yang dibelinya. Dia disebut manusia karena dia menghasilkan kekaryaan manusia. Bukannya justru terpuruk pada nafsu konsumsi.

Pada akhirnya menjadi tanggung jawab manusia untuk tidak membiarkan satu persatu ruang terkonsumsi lalu kehilangan makna. Terus tantanglah makna dalam kota, cegah harga ruang menjadi alasan untuk memperbudak manusia. Pada akhirnya masa depan kota ditentukan bagaimana sang warga berelasi dengan ruang kota.