Yang bangkit dan yang runtuh (foto dari Guardian Cities)

Membaca menjelang tidur sebetulnya bukanlah kegiatan yang bijaksana, karena jika salah satu dari sekian yang dibaca memercikkan ide, maka yang ada otak seperti dapat minyak pelumas untuk kemudian memerintahkan tangan dan mata kembali awas.

Sebelum tidur, salah satu artikel yang dibaca adalah ini. Isinya tentang kondisi kontras yang terjadi di Kota Detroit: yang tergentrifikasi dan yang terbengkalai.
Foto dalam artikel tersebut benarlah tepat menggambarkan kedua kondisi kontras tersebut.

Detroit adalah kota yang cukup menarik perhatian saya termasuk yang saya tunggu-tunggu dalam rangkaian perjalanan saya selama 3 bulan di Amerika, walaupun memang saya hanya 4 malam disana. Tak terlupakan mencekamnya jalan jam 8 pagi dari hotel di Downtown menuju Midtown (daerah hip dalam artikel tersebut) dan tidak berpapasan dengan 1 orang pun! Perjalanan sekitar 20 menit yang mencekam. Atau ketika saya berjalan melewati daerah ‘blight’ yang penuh dengan rumah rusak dan ilalang tinggi selama lebih dari 12 km.

Pertemuan saya dengan berbagai aktivis hingga organisasi sipil, juga inisiatif non-profit hingga swasta (ala Dan Gilbert yang membeli murah-meriah gedung-gedung di Downtown) membuat pemahaman saya terhadap jatuh bangunnya suatu kota, serta kerentana suatu kota dalam menghadapi sirkuit kapital dan globalisasi. Walau kunjungan saya hanya 4 malam, saya berkesempatan bertemu dengan Challenge Detroit, Bradford Frost Direktur Woodward Corridor Initiative, Kurt Metzger dari Data Driven Detroit (yang sangat sinis terhadap suburbanisasi Detroit), Michigan Suburbs Alliance dan Midtown Inc. Dalam perjalanan yang sama tapi di kota lain, saya juga melakukan skype meeting dengan Chief Planner kota Detroit. Dan tentunya bertemu dengan beberapa warga Dearborn. Dearborn itu adalah kota di Michigan yang banyak keturunan migran Arab yang pertama kali datang ke Amerika (saat itu) untuk bekerja di Ford. Ini merupakan komunitas Arab terbesar di Amerika.

Secara kasat mata, dengan mudah orang menganggap jatuhnya Detroit akibat industri otomotif (dan turunannya) Amerika Serikat mengalami kemunduran akibat berbagai hal. Mungkin ini akibat film Disney Cars, jadi orang percaya sebab tunggal itu. Tetapi sesungguhnya jauh lebih rumit dan kompleks dari sekadar “kemunduran” industri otomotif. Berkat diskusi bersama Bradford Frost, saya diperkenalkan kepada buku Detroit: The Origins of the Urban Crisis: Race and Inequality in Postwar Detroit. Tentu juga berkat buku Jane Jacobs: The Death and Life of Great American Cities yang sudah bak kitab saya sejak tahun 2003. Segala hal yang buruk menimpa Detroit pada saat hampir bersamaan dan beruntutan. Mulai dari kebijakan kota yang salah dan rasialis, program Urban Renewal yang menghancurkan permukiman-permukiman warga, terutama warga miskin dan dari ras tertentu, kerusuhan rasial, suburbanisasi hingga deindustrialisasi. Saat itulah film Cars jadi sangat tidak relevan dan malah sedikit menyesatkan.

Dampak dari Urban Renewal itu masih terasa hingga sekarang. Jalan-jalan sangat besar membelah Detroit – termasuk diantaranya membelah Detroit dan justru menyulitkan upaya menghidupkan Downtown Detroit. Karena penurunan penduduk Detroit yang demikian drastis dengan berbagai sebab, juga tak hanya membuat kota defisit, namun memang tidak ada bisnis yang bisa hidup.

Saya menyaksikan bangunan megah besar milik Wayne County (county dimana Detroit berada) dijual. Atau daerah Midtown yang berhasil keluar dari lubang berkat upaya privatisasi banyak ruang disitu. Atau daerah Downtown, dimana ada milyader membeli bangunan-bangunan dalam jumlah banyak dan murah untuk kemudian merevitalisasi semuanya sehingga membuat Downtown bak pulau dikelilingi air. Menjadi kontras di tanahnya sendiri.

Hal-hal yang dilakukan Detroit sesungguhnya bak ikuti kitab suci Creative City karangan nabi Richard Florida: mari undang kaum muda (dan single! ;)) dengan memberikan tempat super murah kepada para seniman. Perbanyak kegiatan kebudayaan, dan tetap miliki institusi seni terkenal, walaupun 500 meter di depannya ada banyak gelandangan menunggu bis datang demi bisa menghangatkan badan.

Saya tak bisa melepaskannya dari ingatan saya, yaitu ketika gelandangan hendak turun dari bis, dia harus merogoh seluruh koceknya satu persatu, mengumpulkan koin demi koin untuk bisa membayar tarif bis. Untuk orang yang biasa melihat kemiskinan di jalanan Jakarta, pemandangan tersebut tak terlupakan. Tak terlupakan lagi adalah ketika menjadi satu-satunya Asia di dalam bis yang penuh dengan orang yang ingin hangatkan diri di musim gugur itu. Saya tidak lupa baunya, sepertinya tidak akan pernah lupa.

Kerap kali didalam kota, keputusan untuk memperbaiki keadaan belum tentu menyentuh masalah yang sesungguhnya ada. Teringat dengan Kuznets Curve, yang kutipannya saya ambil dari buku Thomas Piketty (Capital in the 21st Century):

inequality everywhere can be expected to follow a “bell curve.” In other words, it should first increase and then decrease over the course of industrialization and economic development. According to Kuznets, a first phase of naturally increasing inequality associated with the early stages of industrialization, which in the United States meant, broadly speaking, the nineteenth century, would be followed by a phase of sharply decreasing inequality, which in the United States
allegedly began in the first half of the twentieth century

Kurva ini mengisahkan proses transisi akibat industrialisasi dan urbanisasi. Dan menyatakan bahwa ketimpangan pendapatan yang sebellumnya meningkat di masa awal industrialisasi (karena pelakunya mendapatkan keuntungan dari buruh rendah, dll) akan mengecil seiring dengan proses industrialisasi, yang diikuti oleh urbanisasi para petani yang menjadi pekerja industri, dimana proses industri itu membawa kemakmuran sehingga negara menjamin kehidupan (welfare state) dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi bergulir (trickle down) menyebabkan kenaikan pendapatan, sehingga jurang pendapatan akan semakin mengecil. Tentu kurva tersebut dikritik karena pada akhirnya tidak bisa diaplikasikan pada banyak kasus.

Sepertinya ini adalah gambaran yang diharapkan oleh Detroit. Dengan pengembangan dan investasi besar oleh swasta di beberapa bagian saja (Midtown dan Downtown), memang pada mulanya akan muncul ketimpangan. Namun pada akhirnya kedua tempat itu diharapkan menjadi magnet agar lingkungan sekitarnya membaik, sehingga ‘ketimpangan’ yang terjadi bisa mengecil. Seperti dikutip begini:

Developers argue that it’s just a matter of time before other neighbourhoods rise up, too. “Folks want to move from zero to investable project, and it just doesn’t work that way,” said David Blaszkiewicz, the president of Invest Detroit, a development company that works with nonprofits and corporations to funnel money into the city core. “You start with the best neighborhoods and you migrate to the most challenged neighborhoods.”

Atau bisa juga memakai ilustrasi ala Urban Acupuncture, yang memiliki optimisme sangat tinggi seperti: memperbaiki titik yang penting dalam kota, otomatis akan membuat kota tersebut ‘sehat’ kembali. Dan sayangnya kota itu memang sering diumpamakan seperti tubuh manusia, namun acupuncture pun belum tentu sukses menyembuhkan segenap penyakit. Tapi untuk kasus Detroit, bisa jadi berpikir seperti ini, lokasi tersebut ada karena memang ada investasi dari swasta – yang diamini oleh pemerintah kota. Dan tentu saja pemerintah kota tidak memiliki banyak pilihan untuk berkata tidak, karena tidak punya kapasitas dan modal.

Namun sesungguhnya, seperti yang disebutkan artikel tersebut di bagian akhir, sangat sedikit manfaat yang diterima oleh orang Detroit sesungguhnya yang telah tersingkir sejak lama. Pada akhirnya di Detroit (dan New York) belum ada bukti bahwa gentirifikasi, beutifikasi, atau apapun namanya akan (setidaknya dengan segera) memperbaiki kota dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Ada kesulitan yang terjadi disini, dimana akumulasi kapital yang terjadi adalah milik swasta, dan belum tentu akan masuk negara untuk dipergunakan demi kepentingan penduduk asli yang sangat membutuhkan. Dan kota (atau negara) bak disandera, karena begitu ia menagih terlalu banyak kepada pemilik modal, ada kemungkinan mereka akan pergi – tak peduli seberapa ungkapan sebelum-belumnya bahwa mereka cinta dan lahir di kota itu. Karena pada akhirnya pemilik modal kadang tersandera oleh pertanggungjawaban terhadap pemegang saham dan harus memastikan bahwa ada keuntungan secara rutin masuk ke kantung pemegang saham.

Pemikiran akan urban acupuncture atau harapan akan ‘trickle down effect’ sesungguhnya tak hanya terjadi di kota-kota luar Indonesia. Kota-kota kita kerap melakukannya – walaupun tidak sampai pada taraf seperti di kota-kota Amerika Serikat, misalnya. Namun harapan akan mempercantik beberapa bagian penting kota (misalnya yang dianggap punya sejarah, menarik banyak orang, dll) untuk akhirnya bisa memperbaiki kota tersebut secara keseluruhan itu kerap terjadi (sedang berusaha untuk tidak perlu menyebut nama kota). Hanya belum tentu upaya perbaikan tersebut menjawab inti masalah di kota.

Memang ada banyak jalan menuju Roma, jadi siapa tahu kita bisa memutar sedikit lewat outer ring road untuk menuju titik permasalahan. Namun masalah dalam kota itu tidak pernah statis, dia dinamis, bahkan mungkin terlalu dinamis bisa memecah diri menjadi masalah lain. Begitu kita ambil jalan memutar, yang ada kita menemukan masalah sudah terpecah menjadi banyak masalah dan sudah jauh didepan titik awalnya.

Saya masih punya banyak pemikiran yang belum terpecahkan terkait relasi antara gentrifikasi dan upaya perbaikan kota. Namun keyakinan sementara, kota itu bukan sekadar produk dari kegiatan ekonomi, dia bukan saham yang laporan keuangannya bisa dipercantik menjelang bulan-bulan tertentu demi menarik pemegang saham. Untuk sementara memang belum ada kesimpulan dalam tulisan ini.

Advertisements