Tanggal 3 Februari silam, ada pembukaan pameran tentang toilet di Kotatua. Kuratornya memiliki cita-cita untuk menghadirkan toilet yang baik di ruang publik. Suatu fasilitas yang seyogyanya disediakan pemerintah karena publik sudah membayar pajak lewat berbagai macam saluran.

Toilet adalah ruang yang sangat personal. Namun ketika dia berada di ruang yang sangat publik seperti di taman Fatahillah tentu saja seperti ada kekagokkan ketika ruang tersebut digunakan. Dalam toilet umum tentu saja kita tidak bisa membaca sambil bersiul-siul. Sebelum keluar harus memastikan bahwa seluruh kancing, sleting, dan segala macam yang seharusnya tertutup – sudah tertutup rapih. Bahkan sebagai ekstra, harus pastikan tubuh tetap wangi, wajah kinclong, rambut rapih, karena kadang kita tidak tahu siapa yang akan kita temui begitu kita membuka toilet portable biru itu. Siapa tahu calon mertua hingga calon suami! Bahkan sebagian juga memastikan bahwa toiletnya bersih dan nyaman digunakan, agar yang masuk sesudahnya tidak berpikir yang tidak-tidak soal pengguna sebelumnya. Karenanya, ada orang yang sengaja cari-cari toilet yang paling bersih dari yang tersedia supaya tidak perlu terlalu repot ‘membersihkan’nya. Ada.

Mengingat ribetnya hal-hal diatas, terkadang kegiatan ekstra itu justru lebih lama daripada kegiatan utama: membuang hajat, water balance, number 1, number 2, atau entahlah namanya sesuai dengan kesukaan masing-masing.

Namun di Jakarta setidaknya, tidak ada desain toilet umum di ruang publik yang ‘pantas’ dan bermartabat. Saya tidak masukkan mal dan hotel, karena itu bukan ruang publik yang saya maksud dalam tulisan ini. Namun jika ada pembaca yang menemukan toilet bermartabat di seputaran taman di Jakarta, silakan tambahkan disini. Tentunya toilet portabel tidak termasuk disini.

Sementara didalam rumah kita, ada saja yang menjadikan toilet sebagai ruang yang sangat mewah hingga cenderung berlebihan melebihi fungsinya. Bahkan dalam hitungan rumah sederhana pun, toilet sesungguhnya memiliki harga per m2 lebih tinggi dibandingkan ruang-ruang lain. Ada yang menghabiskan waktu berlama-lama memilih keramik hingga marmer yang cocok. Membayangkan dirinya sedang melakukan number 2, sehingga meletakkan perabot yang sebelumnya tidak ada di toilet. Tapi tentu saja semua tambahan tersebut tidak membuang fungsi toilet menjadi lain atau bertambah. Walau untuk kasus saya, dalam 3 hari terakhir ini toilet menjadi tempat untuk menulis blog ini.

Toilet juga ruang dalam rumah yang memiliki kerumitan dan kerap dirudung masalah jika didesain tidak dengan akal sehat. Akal sehat itu termasuk merencanakan aliran udara, aliran air, hingga aliran hajat.

Saya yakin kepala dinas dan jajarannya yang bertanggungjawab untuk pengadaan toilet di taman dsbnya memiliki toilet yang sangat baik. Begitu juga si kontraktor dan arsiteknya. Jangan-jangan ada yang berlapis emaskah? Tetapi saat mereka meletakkan dan membangun toilet, seakan ruang tersebut dibangun bak kemurahan hati dan asal ada saja.

Yang terbangun di Monas dan lain-lain tidak terpikirkan keberlanjutannya dan apakah mungkin perawatannya mudah? Dan tentunya tidak memikirkan bahwa kadang ada ribuan orang membanjiri Monas, dan mungkin 1% nya ingin ke toilet. Yang membangun seakan tidak tahu ada bermacam rupa orang yang banjiri ruang publik, ada tua, muda, hamil, berkursi roda, balita, anak, buta dan sebagainya.

Dalam pameran toilet tersebut memang kita melihat 10 toilet ‘cantik’ sebagai usulan desain terhadap toilet di Monas. Seandainya salah satu dari 10 toilet itu bisa hadir, tentu itu bisa jadi kebahagiaan bersama.
Jika pun tidak bisa hadir, saya tetap berharap agar ada toilet yang memperhatikan aliran udara dan air, memastikan tidak bau, bisa digunakan segenap kalangan, dan jika perlu desain yang ada mampu ‘mencegah’ orang untuk mengotori dan mengajak orang untuk menjaga toilet bersama-sama. Pada akhirnya jangan-jangan bukan desain fisik yang penting, tapi bagaimana proses perencanaannya yang terpenting. Karena toh pada akhirnya toilet di ruang publik adalah ruang terpenting di ruang publik, yang sebaiknya melibatkan segenap publik penggunanya.

Red
Beberapa menit setelah saya mengunggah tulisan ini, saya membaca status Facebook yang menceritakan adanya upaya perusakan terhadap toilet umum dan mushola di Kotatua yang baru saja diresmikan bersamaan dengan pameran toilet diatas.
Perusak fasilitas publik tentu tidak mendapat ruang didalam kota. Hanya ada ruang yang cocok untuknya, yaitu ruang penjara.