Saya tiba di Pekalongan lewat tengah malam setelah melewatkan percakapan serius di sepanjang perjalanan. Ini percakapan yang mungkin akan mempengaruhi pilihan hidup saya kelak. Cuma kali ini bukan bercerita tentang itu.

Setiba di stasiun, saya dijemput dan diantar ke The Sidji, hotel dengan bangunan depan berupa rumah klasik tahun 1920 dan bangunan baru di belakangnya. Saya langsung jatuh hati pada hotel menawan tersebut.

Perjalanan ke Pekalongan kali ini adalah untuk merayakan keberhasilan Pekalongan masuk dalam jaringan UNESCO Creative Cities. Pekalongan adalah kota satu-satunya di Indonesia dan satu-satunya di Asia Tenggara – sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Kota kecil dengan penduduk 300rb orang dengan luas tak lebih besar dari gabungan 2-3 kecamatan Jakarta (40km2) ternyata memang menyimpan banyak prestasi dan potensi.

Prestasi terkini Pak Basyir, walikota merangkap dokter umum yang masih berpraktek itu, menambah panjang deretan prestasi beliau dan kota yang dipimpinnya. Dan jangan-jangan ini bukan prestasi terakhir yang bulan Agustus tahun 2015 merupakan bulan terakhirnya beliau memimpin di masa jabatan yang kedua ini. Pak Basyir memulai jabatannya hampir bersamaan dengan Pak Joko Widodo di Solo. Menurut cerita sepupunya, Pak Basyir ini memang bercita-cita mengabdi untuk kota dan masyarakat Pekalongan. Ketika ditanya, apakah ada yang berubah? Jawabnya: sama sekali tidak ada perubahan kepribadian maupun kelakuan, hanya beliau tambah kurus. Jika Pak Basyir tidak sedang di luar kota, beliau tidak pernah absen berpraktek di rumahnya. Bahkan masih sempatkan lakukan sunatan massal untuk warganya.

Cukup cerita soal Pak Basyir, yang sukses lakukan reformasi Teknologi Informasi di kotanya – padahal dia tidak paham TI, yang berhasil membuat infrastruktur promosi batik dan acara reguler batik, hingga penghargaan UN Habitat di 2012. Pak Basyir adalah kisah sukses pilkada, sama seperti pilkada yang lahirkan Ibu Risma, Pak Nurdin di Bantaeng, Pak Azhar di Banyuwangi, Ibu Iliza di Banda Aceh hingga Pak Suyoto di Bojonegoro.

Ada beberapa cerita mengesankan dari Pak Basyir saat saya berkunjung. Rangkaian acara kreatif yang terjadi ternyata kolaborasi antara pemkot Pekalongan dan didukung dana sebagian besar oleh OPek (Orang Pekalongan), organisasi masyarakat diaspora Pekalongan di kota-kota besar. Saat Pekalongan mendapatkan berita dari UNESCO, yaitu akhir tahun 2014, membuat Pekalongan kesulitan untuk merencanakan kegiatan ‘perayaan’ karena anggaran sudah habis. Kolaborasi dengan OPek yang menyebabkan rangkaian acara meriah itu terjadi.
Kisah lain adalah di salah satu rangkaian acara (tepatnya saat pertunjukan wayang kontemporer yang berhasil membuat saya ketiduran blas) Pak Basuki, Menteri PU-Pera bertanya, apakah disini ada gedung kesenian? Dan Pak Basyir pun tersentak, dan menyadari kekurangannya – padahal dia ingin mengembangkan seni pertunjukan kreatif. Maka keesokan harinya beliau mengumumkan dan berkomitmen akan mencari aset pemkot yang strategis untuk diubah menjadi gedung kesenian yang lengkap dengan kegiatan rutin. Itu adalah janjinya sebelum lengser.
Pak Basyir adalah tipe orang yang mau belajar dan tak malu belajar serta selalu rendah hati meminta kolaborasi dan bantuan semua orang. Di hari yang sama, dia menandatangani perjanjian kerja sama dengan LIPI, Bank Indonesia, Gunadarma hingga Binus. Kedua yang pertama adalah upaya untuk meningkatkan kualitas industri perikanan Pekalongan.
Walaupun pelabuhan Pekalongan diturunkan kelasnya oleh Pelindo, hingga dibawah kelas Tegal dan Cirebon – rakyat dan pemerintahnya tidak tinggal diam, malah justru muncul industri galangan kapal baja buatan dan inovasi rakyat Pekalongan.

Cukup pujian soal Pak Basyir. Bagaimana dengan masyarakatnya? Mirip-mirip dengan warga Cirebon yang sama-sama kota pesisir, mereka adalah warga yang ramah, terbuka dan murah senyum. Dari penyapu jalan hingga penjaga mesjid, dari juragan batik hingga anak pebatik.

Di satu hari Kamis nan panas, kami berjalan-jalan dari kampung Pecinan hingga kampung Arab. Walaupun agak menyayangkan pada nasib sungai di belakang Jalan Belimbing dan Jalan Belimbing yang sepertinya menyimpan potensi, perjalanan itu sesungguhnya menyenangkan dan berarti.
Kami singgah di Klenteng tertua, yang dibangun sekitar tahun 1870an. Samping persisnya Gereja Katolik, yang sayangnya saat direnovasi malah menghancurkan bentuk aslinya. Berbatasan dengan sungai ada mesjid besar didepan klenteng dan gereja.
Kampung Pecinan hanya pisahkan oleh jalan dengan Kampung Arab. Jika atap-atap di Kampung Pecinan demikian khas plengkungnya, maka atap kampung Arab memiliki ciri yang lain.

Di dalam Kampung Arab, kami mencoba nasi kebuli yang wangi dan sedap. Dan yang mengejutkannya kami menemukan rumah klasik dari tahun 1920an lengkap dengan teras lebar dan halaman luas. Namun yang menarik dari rumah tersebut adalah karena disamping rumah itu ada kandang sapi perah yang masih beroperasi. Setidaknya ada 10 sapi di sana. Sementara di sisi lain rumah tersebut ada toko batik. Ibu Hana dan Pak Reza, pasangan suami istri penghuni rumah tersebut – menerima kami, memberikan tur keliling kompleks rumahnya dan diakhiri dengan suguhan susu segar dicampur kopi es – sungguh cocok di siang menyengat itu.

Tak cukup berhenti disitu saja keramahan, Ibu Hana dan Pak Reza yang keturunan Arab berkenan mengantarkan kami ke mesjid Wakaf sekitar 100 meter dari rumah itu. Setelah meminta ijin dari ulama setempat, saya yang tak berkerudung dan kolega saya – keduanya non Muslim dipersilakan masuk tak hanya ke kompleks, tapi ke dalam bangunan mesjid. Dari santri hingga penjaga, semua tersenyum ramah pada kami.
Ibu Hana mengantar kami ke TK di belakang mesjid tempat dia mengabdi waktu luangnya.
Lalu muncullah keisengan kami untuk naik keatas menara siar. Wah lorong sempit dan tangga curam tak halangi kami keatas. Dan hasilnya pun sepadan, melihat Pekalongan dari puncak menara siar. Ibu Hana bercerita, kala dia kecil, dia sering bermain keatas menara. Sementara Pak Reza yang juga kelahiran Pekalongan, baru pertama kali naik keatas menara.

Jika kebanyakan pengunjung Pekalongan mencari batik – namun kami kali ini ternyata cukup hipster. Walaupun akhir dari perjalanan ditutup dengan kunjungan ke kampung batik Kauman – namun kami tentu saja memanfaatkan waktu melewati gang-gang sempit dan ruang peralihan dari mesjid-sekolah hingga gang. Di satu sore pun menikmati pebatik merangkap pedagang di Toko Batik Mukti, melewatkan waktu berbatik.

Kota seperti Pekalongan ini memang memberi harapan, bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik. Mungkin benar, bahwa harapan Indonesia itu ada di tangan 500-an kota-kabupaten sekunder dan kecil di seluruh Indonesia.

Terima kasih untuk Mbak Ayu, Mbak Anita dan Mbak Ita serta Pak Oong, yang telah temani kami.

IMG_3121.JPG

IMG_3123.JPG