Siapa diantara 9.4juta warga DKI yang mengetahui jadwal penyelenggaraan Musrenbang di kelurahan, kecamatan atau kotamadya tempat anda tinggal? Dan siapa yang ‘beruntung’ menghadiri Musrenbang itu dan berhasil memperjuangkan calon rencana/program pembangunan?

Sekitar 1 bulan lalu, Berita Jakarta mengabarkan soal dibukanya rapat teknis pelaksanaan Musrenbang 2015. Saat itu, media masih didominasi oleh hiruk pikuk perseteruan antara Gubernur vs DPRD terkait masalah RAPBD 2015. Sekitar minggu ke 4 Maret mendadak banyak sekali berita soal Musrenbang di media massa, dan tak hanya soal DKI, tapi juga Aceh, Surabaya, Jawa Tengah, dll.

Saya sempat senang ketika ada rekan memberitahu akhirnya ada situs Musrembang DKI Jakarta. Sebetulnya ada sejak tahun 2014 – tapi tidak sempurna. Saat itu pikir saya: marilah diapresiasi. Bahkan saya sempat twitkan sebagai kabar gembira. Namun setelah dilihat lebih jauh, ternyata situs tersebut mengecewakan. Tidak ada informasi kepada warga untuk memberikan konteks ‘Apa itu Musrenbang’. Ketika saya mengklik Agenda maka yang muncul adalah Agenda tak jelas dari tahun 2014. Saya juga mempertanyakan, apakah ada yang meng-update situs ini, karena saat saya mengamati usulan tahun 2014, mengapa masih banyak status ‘DIPROSES’. Loh bukannya Musrenbang 2014 harusnya sudah difinalisasi, jadi RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) dan RAPBD?

Lalu saya mencoba mencari lagi di Google dan Twitter, apakah ada pengumuman terkait soal Musrenbang, terutama jadwal dan lokasi. Yang muncul adalah berita-berita Musrenbang sejak minggu lalu, saat Musrenbang diadakan di tingkat kotamadya. Intinya proses di Kelurahan dan Kecamatan itu dimulai tanpa ada pengumuman serta diakhiri dengan tanpa berita – hanya memang hasilnya ada di situs Musrenbang. Di twitter, saya malah menemukan poster pengumuman Jadwal Audiensi Gubernur Jawa Tengah di kota-kota.

Saya teringat 6 tahun lalu, ketika saya dan teman-teman mengkritisi habis proses penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030. Saat itu proses konsultasi berjalan tanpa pengumuman publik, demi memenuhi syarat administrasi: bahwa sudah ada proses partisipasi publik, walaupun itu partisipasi basa-basi, siluman, atau bodong. Untuk kasus Musrenbang pun sama – tidak ada pengumuman publik. Jika Musrenbang kelurahan sudah lewat, lalu siapa yang datang? Siapa yang menentukan (di tingkat kelurahan) RW 13 dapat taman bermain sementara RW 10 tidak dapat?

Musrenbang dalam proses perencanaan pembangunan, disitu diharapkan suatu proses bottom up yang dimoderatori dan difaslitasi oleh pemerintah. Karena dia adalah proses bottom up, tentu proses tersebut lebih efektif dan mudah dilaksanakan di tingkatan terkecil. Karenanya mengapa agenda dan lokasi musrenbang di tingkat kelurahan sangat penting. Dan mengapa ketiadaan agenda menjadi salah satu alasan bagi saya mempertanyakan komitmen pemprov DKI.

Saya beruntung menghadiri sesi Ibu Risma pagi ini. Di tahun 2009, saat beliau masih menjabat Ketua Bapeko, beliau sudah membuat situs musrenbang. Berawal dari inventarisasi hasil musrenbang 2009, di tahun 2015 fitur pun bertambah. Termasuk disitu menerangkan mengenai mekanisme pemberian masukan beserta bagaimana alur tersebut terjadi, hingga harga satuan yang dipakai oleh pemkot Surabaya dalam menentukan anggaran. Ibu Risma juga menjelaskan kriteria diterima atau ditolaknya suatu usulan, misalnya harus sesuai dengan persyaratan yang sudah ditentukan (saya tidak tahu bagaimana beliau menentukan persyaratan tersebut). Contoh: semua usulan pembuatan gapura pasti akan ditolak. Namun di lain pihak, dia pernah meloloskan usulan pemberian pelatihan dan SIM gratis untuk pengangguran. Tadinya usulan tersebut diminta secara personal, namun pada akhirnya malah menjadi program. Fitur Musrenbang Surabaya pun memungkinkan warga untuk memberi komentar terhadap usulan yang ada.

Surabaya dengan APBD senilai hanya 7 triliun, atau 10% dari APBD DKI Jakarta, saya anggap lebih berkomitmen dibandingkan DKI. Dengan rata-rata APBD per kapita, Surabaya (jumlah penduduk 3.5 jt) hanya 1 ; 2juta, sementara DKI 1 : 7.3 juta, selayaknya DKI bisa berbuat lebih dari Surabaya.

Musrenbang sebagai salah satu langkah penting penyusunan APBD sudah selayaknya dikelola dengan cerdas dan terencana. Tidak perlu canggih-canggih, mulai saja dengan mengumumkan jadwal pelaksanaan di segenap saluran yang ada. Memang proses yang baik belum 100% menjamin produk baik juga, tetapi proses buruk sudah 99.99% menjamin hasil buruk.

Gubernur DKI sendiri mengundang warga untuk turut mengawasi pelaksanaan APBD. Namun untuk perencanaan sesuatu yang diawasi itu ternyata belum ada undangan serta tidak ada informasi tempat hajatannya.

Keraguan atas komitmen Pemprov DKI juga terlihat dari jumlah anggaran untuk Musrenbang itu sendiri. Menurut KawalAPBD, anggaran penyelenggaran Musrenbang di Bappeda (RAPBD 2015) hanya sebesar 850.000.000. Ini turun dibandingkan tahun 2014, 900.000.000. Sayangnya di RAPBD 2015 tidak muncul mata anggaran terkait Musrenbang di tingkat kelurahan, kecamatan maupun kotamadya. Namun jika kita lihat, persentasi penyelenggaraan itu hanya 0.0012% dari total RAPBD 2015. Sementara jika melihat APBD 2014, ternyata ada 462 kegiatan terkait Musrenbang dengan total anggaran 62.614.279.300 atau hanya 0.08% dari total anggaran. Sungguh alokasi yang sangat kecil, bahkan kurang dari 50% dari total anggara pembelian UPS di SMA2 pada tahun 2014. Sangat disayangkan, sebuah kegiatan akbar tahunan demi menyusun 2 dokumen penting yg bernilai 70T, ternyata mata anggarannya hanya memakan porsi yg begitu kecil dari total anggaran.

Musrenbang adalah ‘satu-satunya’ jalan legal dan egaliter bagi warga, terutama warga yang tidak memiliki akses politik dan marjinal. Ada kritik dari teman, bahwa proses bottom-up planning (participatory budgeting) yang top-down seperti Musrenbang itu tidak akan berhasil. Tetapi argumen saya, Musrenbang ini sekarang satu-satunya wadah yang diberikan oleh pemerintah, dimana warga bisa berperan menentukan pembangunan. Karenanya jikalau hal sesederhana JADWAL AGENDA LOKASI tidak diumumkan dan tidak tersedia maka pada akhirnya Musrenbang ini HANYA BASA BASI.

Catatan:

Ini adalah versi kedua dari tulisan dengan judul yang sama. Tulisan pertama lenyap tanpa sebab yang saya ketahui dari blog ini beberapa jam setelah saya unggah.

Saya berusaha menuliskan ulang semirip mungkin minimal dengan data yang sama. Namun, pada akhirnya tidak bisa mencapai tingkat emosi yang sama. Hanya, tulisan ini sempat dibincangkan oleh teman-teman di laman FB, sehingga ada beberapa tambahan dan kritik dari mereka yang akhirnya saya harap memperkaya tulisan ini.