Tepat seminggu lalu saya bertugas mendampingi Direktur Museum Nasional Afghanistan dan Kepala Unit Kebudayaan UNESCO Kabul dalam kunjungan kerjasama Indonesia-Afghanistan yang difasilitasi oleh UNESCO. Kerja sama tersebut merupakan upaya peningkatan kapasitas staff museum melalui dialog kebudayaan. 

Dalam satu presentasinya, Direktur Museum Nasional Kabul: DR. Omara Khan Massoudi menampilkan kondisi menyedihkan museum pasca perang tahun 1994. Sedemikian menyedihkannya – saya sampai terpikir ‘apa yang bisa diselamatkan’. Namun ada satu semangat yang membara dalam segelintir orang yang berusaha menyelamatkan museum yang 70% koleksinya rusak atau dijarah: a nation stays alive when its culture stays alive.

Semangat menyelamatkan bangsa dan menghidupkan kebangsaan hanya ada jika bangsa tersebut memastikan kebudayaannya tetap hidup. Perjalanan hidup dan sejarah suatu bangsa tidak bisa dipatok dari satu masa atau satu rejim tertentu – tapi ada perpaduan antara lokasi, waktu hingga ragam manusia. Setidaknya ini yang hendak disuarakan oleh Afghanistan dan Indonesia melalui dialog kebudayaan ini, 

Baik Indonesia dan Afghanistan adalah negara mayoritas Muslim, bahkan Afghanistan adalah negara Islam. Keduanya memiliki sejarah panjang yang memungkinkan percampuran macam budaya, termasuk sempat menjadi lokasi kejayaan agama dan kebudayaan Budhisme. Situs Budhisme di kedua negara: Borobudur dan Bamiyan telah dinyatakan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO. Keduanya pernah menjadi sasaran terorisme, Borobudur di tahun 1985 yang mengakibatkan 9 stupa hancur, sementara Taliban menghancurkan patung Budha raksasa di dalam gua batu Bamiyan. Hingga hari ini, usaha konservasi hingga manajemen berada dibawah institusi yang mayoritas terdiri atas Muslimin dan Muslimah. Borobudur dan Bamiyan adalah obyek dan subyek dialog antar kebudayaan bahkan agama. 

Mari kita melihat ke Serambi Mekah, ketika berduyun-duyun kaum Rohingya menjadi pengungsi dan diterima dengan baik oleh warga Aceh. Disaat banyak sekali hujatan terhadap kaum Budha di Myammar, ada kelompok Budha Tzu Chi yang datang ke tempat pengungsi dengan membawa misi kemanusiaan. 

Dalam setiap kejadian terorisme, kerap kali latar belakang agama dan ras menjadi kambing hitam. Namun pada dasarnya setiap agama di dunia tidak ada yang mengajarkan apalagi menganjurkan kegiatan terorisme.

Sejak dahulu saya tertarik tentang mengapa ada orang atau kelompok orang tega melakukan teror dan pembunuhan massal. Salah satu yang menarik adalah periode sebelum dan semasa Perang Dunia 2. Saya mendatangi beberapa memorialnya, menonton dokumenter dengan memberi perhatian lebih pada 2 dokumenter berikut ini: Conspiracy dan The Eichmann Show – keduanya mengisahkan Adolf Eichmann. Eichmann adalah salah satu konseptor ‘Final Solution’ yang akhirnya membawa kematian pada 6 juta Yahudi di Eropa. 

Saya melihat betapa Jerman era Nazi berusaha menghapuskan kebudayaan tertentu, dari mulai tentang Yahudi hingga menghapuskan literatur sosialis dan komunis dengan pembakaran buku. Mereka tidak segan mencari segala alasan lewat hukum hingga agama sebagai upaya justifikasi dari Final Solution serta pemurnian ras. Dan bagaimana mereka dengan tenang mengeksekusi semua itu, setidaknya Eichmann yang tidak bergeming saat sekali di saat mendengar kesaksian penyintas di sidang Jerusalem. 

Pancasila, yang 1 Juni kemarin kita rayakan kelahirannya, pernah menjadi alasan pembenaran pembunuhan ratusan ribu orang, pembelokan sejarah serta penghapusan ideologi, kebudayaan tertentu dan pengetahuan kolektif. Waisak yang hari ini dirayakan oleh umat Budha, namun inti ajaran Budha tersebut pernah dibelokkan oleh Jepang saat mereka berusahan mencari pembenaran atas nama ‘perdamaian Asia Timur’ di saat Perang Dunia 2. 

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan – dalam diri manusia ada benih-benih kekejaman – tidak peduli dia berasal dari agama ataupun ras apapun. Adalah sebuah pilihan, apakah ia memutuskan untuk memuaskan hasrat kekejaman tersebut ataupun meredamnya. Benih itu bisa ada pada orang yang nampak baik sekalipun, kamu dan saya. 
Belajar dari perjalanan Sidharta Gautama yang menjadi inti perayaan Waisak, saya berefleksi pada perjalanan manusia dan bangsa, setidaknya bangsa Indonesia. Perjalanan supaya mereka tidak jatuh dalam lingkar kekejaman, perjalanan untuk mewujudkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kebudayaan tentu berperan dalam mewujudkan masyarakat adil dan beradab. Dan upaya untuk melestarikan suatu kebudayaan dari kaum minoritas (seperti di Borobudur dan Bamiyan) adalah capaian-capaian penting dalam menuju bangsa adil dan beradab. 

Selamat ulang tahun Pancasila dan Selamat Hari Waisak. Semoga segenap makhluk berbahagia dan terbebas dari kebencian.