Kerap kali saya menemukan kejadian yang membuktikan bahwa orang Indonesia banyak yang salah paham dengan kritik dan berpikir kritis. Dan masa pemilihan presiden tahun silam hanya memperburuk kesalahpahaman tersebut, dengan mewabahnya rasa curiga.  Kadang (atua kerap?) yang dilihat bukan pemikirannya, tetapi lebih ke siapa pengucapnya. 

Kerap kali juga saya melihat bahwa berpikir kritis bukanlah suatu tuntutan dalam pendidikan kita – setidaknya pada generasi saya. Pertama kali saya mengenal berpikir kritis ketika saya sekolah arsitektur – disitu kita harus secara sadar memahami persoalan untuk mampu memberikan alternatif dan solusi berdasarkan analisa yang dilakukan. Inilah perbedaan berpikir kritis dengan nyinyir atau apapun istilahnya. 

Bukan hanya sekali saya mengutarakan kritik terhadap kepemimpinan presiden, kadang saya melampirkan berita pendukung. Namun bukan hanya sekali juga saya malah dapat pertanyaan balik, ‘apakah beritanya valid.’ Kadang saya berbaik hati memberikan tautan dari media lain, tapi kadang juga saya sengaja memberikan tautan dari media yang berseberangan dengan penanya. Jika opsi kedua yang saya ambil, maka muncul sanggahan lain, ‘gak percaya dengan media …’ Dan tentunya saya sudah punya simpanan media lain, yang sekiranya dipercaya oleh penanya. Mungkin terdengar iseng, tapi saya memang gemar melakukan eksperimen sosial. 

Atau ada lagi yang merasa bahwa berpikiran kritis itu seperti orang negatif dan gak ada positif-positifnya. Capek bacanya, katanya. Kalau sudah begini – kadang saya tergoda untuk menyarankan bahwa di media sosial ada filter – silakan unfollow kalau tidak suka. Ini adalah kesalahpahaman biasa dari apa itu kritik. Tentu saja saya bisa saja membalut kritik-kritik saya dalam bentuk puisi, analogi lucu hingga mungkin sastra Jawa, tapi sayangnya saya tidak berbakat di tiga pendekatan itu. 

Ada lagi orang yang malah bertanya balik atas kritik saya dengan pertanyaan: ‘jadi baiknya bagaimana?’ Menurut saya ini pertanyaan yang lucu, dan bisa jadi sengaja menjebak. Mari saya kasih analogi tentang kritikus arsitektur ternama Ada Huxtable. Tulisannya begitu berpengaruh dalam perkembangan arsitektur moderen bukan karena dia memberikan solusi A, B dan C, tapi karena kritiknya membuka diskusi dan wawasan, serta mampu menjadikan arsitektur sebagai isu arus utama. Memang seringnya solusi berdasarkan kritik itu sudah tersimpan di kepala – tapi saya secara pribadi kerap merasa, bukalah diskusi dengan kritik dulu, lalu siapa tahu dari diskusi akan muncul pandangan yang lain.

Ada lagi, misalnya daripada omong doang mendingan berbuat. Atau dicecar ‘loe udah ngapain aja’. Dan ketika dikasih tahu — kaget bawaannya. Untuk khusus premis yang pertama, tulisan kritis bisa jadi pendorong orang untuk berbuat. Sementara perbuatan bisa jadi mendorong orang berpikiran kritis. Ada ketergantungan antara kritik dan perbuatan. Kalau bisa dua-duanya sekaligus ya tidak apa juga. Tapi kalau misalnya hanya mampu jadi seniman kontemporer yang isinya mampu menggugah perubahan, ya mengapa tidak.

Dan demokrasi itu tidak akan bisa lestari tanpa ada kritik. Kritik bisa menjadi roda perubahan, agar dunia tetap relevan dengan waktu yang bergulir. 

Mengapa kritik penting bagi demokrasi? Karena kritik menjauhkan kita dari idolisasi pemimpin dan fantasi terhadap satu rejim. Dulu saya pernah hidup dalam orde yang menekan kritik – dan di orde yang sama, kebebasan pun semu. 

Berpikir kritis dan mengucapkan kritik tidak eksklusif untuk golongan tertentu, tapi semua – asalkan ya itu berpikir kritis adalah proses, dan bukan produk akhir.